
..."Sepahit Kopi Yang Tidak Menyembunyikan Rasanya, Tapi Terasa Nikmat"...
Lembar ke Tiga 10 Agustus 1989
Pemuda yang kala itu dihukum bersamaku mengatakan 'Silahkan kamu marah dan berteriak sekeras kerasnya, tak peduli berapa orang yang akan melihatmu, itu lebih baik daripada terus menghela nafas sesak seolah semuanya baik-baik saja'. dan Ya perkataan itu sungguh menyejukkanku. Terima Kasih
Pagi itu kamis 7 Agustus 1989 pukul sepuluh lewat 20 menit, semua siswa sibuk dengan aktifitas rutinitasnya setelah jam istirahat selama dua menit itu berakhir.
Harry dan Agung kini berlari di lorong sekolah melewati tiang-tiang penyangga yang membuat seolah gedung sekolah ini menjadi kokoh.
Nafasnya yang tidak beraturan menandakan sebuah istilah Ngos-ngosan, membuat semua murid yang ada dikelas kala itu bertanya-tanya mereka berdua mengapa seperti ini? dan apa sebab sampai mereka ngos-ngosan.
Pada akhirnya mereka berdua duduk dikursinya, sejurus kemudian Lia datang memberikan minuman untuk mereka berdua.
"Ada apa ?" tanya Lia kepada kedua lelaki yang sedang membuka kerah bajunyaa dan berusaha mengatur nafasnya dengan meminum Air mineral yang diberikan Lia.
"Tidak papa" balas Harry sambil mengatur nafasnya, terlihat keringat membanjiri tubuh mereka berdua.
"Harry, Lia" sambung Agung yang juga berusaha mengatur nafasnya. Namun Harry melotot ke Agung yang membuatnya tertahan untuk bicara.
"Ada apaa ?, kenapa kalian datang ngos-ngosan dan terlambat seperti ini ?" Tanya Lia kembali, kali ini Retno juga ikut membalikkan badannya setelah tadinya sibuk menyalin catatan biologi milik Lia.
"Aku tak tahu Lia, tapi sepertinya pak Imron melihat Harry tadi." balas Agung.
"Aku dan Harry tadinya bolos sekolah karena ada suatu hal yang memang ingin dilakukan Harry, tapi belum lama setelah itu, entah mengapa ada pak Imron disitu yang membuat kami refleks melarikan diri dan menuju kesini" ucapnya lalu meminum air yang ada didepannya
"Dan pak Imron mengejar kami" sambung.
"Lah jadi mengapa kalian kesini, bukannya cari mati namanya ?" tanya Retno.
"Tidak, Harry sengaja tadi menggiring pak imron ke pasar untuk mengelabuinya, dan berakhirlah kami disini dengan kecepatan super"
"Teman teman aku mohon kerjasamanya, Untuk keterlambatan kami ini jika ada yang bertanya mohon untuk bantu kami." Ucap Harry kepada kawan kawan sekolah seolah paham apa yang dimaksud Harry.
Tak lama setelah itu guru mata pelajaran berikutnya pun masuk. dan tanpa berbicara banyak Lia yang wajahnya terlihat sangat tidak senang hanya bisa duduk kembali dikursinya mengikuti jalannya pelajaran.
Empat puluh lima menit berlalu setelah itu, Agung dan Harry kini sudah terlihat seperti teman temannya yang lain, berkat sapu tangan yang diberikan Lia dan Retno membuat mereka lebih cepat kering dan tidak pala nampak lusuh.
Seperti yang diduga, pak Imron datang ke kelas mereka dan menanyakan perihal siswa yang terlambat masuk, untungnya semua mau bekerja sama, yang membuat raut wajah pak Imron semakin kesal namun tak bisa berbuat apa apa, dan pergi meninggalkan kelas mereka.
"kita selamat Gung" ucap Harry tersenyum.
"Hei, bagaimana kalian mengelabui piket dan penjaga sekolah?" bisik Retno menyenderkan tubuhnyaa ke kursi agar terdengar Agung.
"Ya lompat pagarlah, seperti keluar tadi" balas Agung. Sebenarnya dari awal Lia sudah melarang mereka untuk cabut, tapi karena kebetulan guru yang masuk sampai jam istirahat pada izin mengikuti pelatihan guru, Lia tak bisa berbuat banyak untuk menahan mereka berdua.
"Ooohhh" balas Retno, yang kemudian melanjutkan belajar.
******
Sudah beberapa hari ini Lia terlihat berusaha untuk senyum kepada orang lain. Hal ini hanya disadari oleh Harry yang kemudian memang semakin menjadi-jadi tingkahnya.
"Lia, bantu kami mengerjakan latihan ini ya, Osis sedang sibuk untuk kegiatan 17 nanti, bisakan kamu bantu aku mengerjakan nya ?" tanya senioran kakak kelas 11 yang kebetulan juga kakak kelasnya sewaktu SMP dulu.
"Eh, iyaa kakk," Jawab Lia berusaha tersenyum. Dan kating tersebut pun meninggalkan Lia.
"ini udah yang keberapa dan orang yang keberapa ?" tanya Harry yang kini sudah ada didepannya.
"Entahlah Ri," Jawab Lia ketus dan langsung meninggalkan Harry.
Harry mengetahui ini bahkan sejak diawal Agustus, beberapa senior memang memperlakukan Lia, sebagai tukang suruh mereka dalam hal tugas sekolah, tak ada yang menghiraukan ini, karena Lia memang anaknya suka membantu orang lain, Awalnya. Tapi ini udah kebablasan menurut Harry.
Agar guru tak curiga biasanya Lia menulis dibukunya terlebih dahulu, baru memberikan buku itu disalin oleh mereka. Dan ini tentu disadari oleh Harry, namun sekali lagi Iya tidak bisa apa-apa, dan pada akhirnya Lia menjadi jarang ke homebase mereka, di bawah pohon Rindang.
" Rii, lu gak bantu Lia ?" tanya Retno.
" Mau aku bantu apa, kan dia yang menerimanya sendiri, dengan senyum malahan" balas Harry.
"Ya setidaknya lu bilangin laah ke orang-orang yang meminta bantuannya, untuk tahu diri dan gak kebablasan gini" sambung Retno. Agung hanya diam, karena dia tahu apa yang diperbuat oleh Harry.
"Bukannya harry tidak bilang ke mereka, sudah bahkan" ucap Agung memecah kehening mereka bertiga. mendengar itu refleks Harry melihat Agung yang membuat Agung menghentikan ucapannya. dan diam kembali.
"Kasian Lia" Ucap Retno.
****
10 Agustus 1989 pukul tiga sore, Lia masih belum pulang dari sekolah dan masih mengerjakan beberapa soal Matematik yang diberikan padanya. Kali ini harry datang meletakkan beberapa buku lagi, yang membuat Lia mengeluh panjang dan berusaha tersenyum kearahnya.
Harry melihat itu, Ia melihat kedua bola mata Lia yang Hitam kecoklatan itu, jauh seperti menyimpan sesuatu. Harry tak bisa pergi. Ia kini duduk disebelahnya.
Lia melihat nya, dan lanjut mengerjakan tugas tadi.
Harry pun mengambil sebuah buku, membukanya, lalu membalikkan lembar demi lembar sampai ke pada lembaran latihan dan menjawabnya, 40 soal pilihan berganda, buku kelas sebelas atasnama Zaki.
Ia menjawab dengan seksama dikertas selembar yang sudag disediakan Lia untuk menjawab semua latihan di tumpukan buku ini.
dengan rumus yang diikutinya jawaban pada soal adalah B namun Ia mencoret C pada buku latihan.
begitu selanjutnya.
Harry melirik jam dinding sudah pukul Lima sore dan hanya tinggal beberapa buku lagi, Ia tetap mengerjakan soal itu seperti yang pertama tadi jawaban dikertas selembar A dibuku latihan di coret B. Harry melirik ke Lia.
Terlihat airmatanya terkumpul di bawah matanya, hampir terjatuh. teriris hatinya melihat Lia seperti itu, airmata itu mulai berjalan di pipinya menuju dagu dan akhirnya terjatuh, namun sebelum jatuh menuju buku yang dikerjai Lia, Harry refleks menangkap airmata itu yang membuat Lia terkejut. dan melihat keharry.
"Aduuhh aku kenapaaa yaa ?"Tanyanya sambil mengelap airmata yang tak bisa dihentikannya.
"Aduuhhh kenapaaa?" Tanyanya lagi tapi airmata itu makin derasss meluncurr
"hahahaha, aku kenapa ?"sambil berusaha tersenyum ke Harry, dan mengusap air matanya. melihat hal itu, Harry membuka baju kemeja sekolahnya dan memberikan ke Lia.
"buat apaa ini ?" tanyanya.
"Usap airmatamu dengan itu" balas Harry singkat. yang membuat Lia semakin terheran.
"Kamu tak bisa membuat semua orang bahagia Lia"
"Dengan membantu mereka, lalu mereka tersenyum denganmu, dan menganggapmu begitu baik, kamu tak bisa begitu terus Lia," Harry menarik nafasnya
"Bukankah sudah pernah aku bilang, aku disini.
"Bersamamu, kamu tak sendirian, ada juga Retno dan Agung"
"Harusnya silahkan kamu menolak, marah dan berteriak sekeras kerasnya kepada orang-orang ini, tak peduli sebanyak apa orang yang akan melihatmu, karena bagi kami, itu lebih baik daripada terus melihatmu menghela nafas sesak lalu tersenyum seolah semuanya baik-baik saja." ucapnya sambil kemudian merubah duduknya dan membelakangi Lia.
Terdengar isak tangis hebat dibelakang Harry, namun Ia hanya bisa menemaninya, dan Ia yakin Lia bisa melalui ini semua.
"Kita disini dulu ya Gung, tunggu sampai mereka hening baru kita masuk" ucap Retno.
"Oke" balasnya singkat sambil mendengar tangisan hebat Lia didalam ruangan.