
Pagi ini matahari menyinari kota Ostheaven dengan begitu cerah. Di suatu tempat, di bagian Barat kota Ostheaven. Terdapat sebuah bangunan tua peninggalan Bangsa Eropa, yang pada saat terjadinya perang besar, bangunan ini digunakan sebagai kantor Walikota Ostheaven. Saat ini, bangunan di atas bukit yang di sekelilingnya tertanam jejeran pohon pinus tersebut, dialih fungsikan sebagai rumah sakit jiwa bernama, Ostheaven Lunatic Asylum.
Lobi Rumah Sakit Ostheaven Lunatic Asylum terlihat begitu ramai dan lebih sibuk dari biasanya. Maklum saja, satu-satunya Rumah Sakit Jiwa di kota Ostheaven tersebut ingin memperkenalkan pengurus barunya, setelah saham rumah sakit jiwa yang desain bangunannya bergaya kolonial itu, dibeli PT. Capulus sebesar 80 persen.
Di dalam komplek Ostheaven Lunatic Asylum terdapat sebuah tempat kosong yang dahulu digunakan sebagai kantin. Letaknya tepat berada di sebelah bangunan utama. Terlihat beberapa pria mengenakan kemeja berwarna hitam, sedang sibuk mempersiapkan tempat itu untuk dijadikan lokasi konfrensi pers.
Selagi menunggu waktu konfrensi pers dimulai. Para awak media tampak memenuhi lobi Ostheaven Lunatic Asylum, ada pula yang sedang asik berbincang-bincang ataupun sedang menghisap rokok di area luar Rumah Sakit itu.
Di dalam ruangan konfrensi pers, Khair al-Dhin, asisten pribadi Leta, terlihat sedang mondar-mandir memegang beberapa lembar kertas di tangannya. Mulutnya komat-kamit membaca tulisan di atas kertas. Hari ini pria keturunan Turki yang akrab di panggil Al itu ditugaskan untuk melakukan konfrensi pers mewakili Leta selaku pimpinan PT. Capulus.
+++
Waktu sudah menunjukan jam 09.00 pagi. Para wartawan terlihat mulai memenuhi ruangan konfrensi pers. Lobi rumah sakit yang tadinya dipenuhi awak media, nampak lebih sepi, meninggalkan beberapa pegawai rumah sakit yang sedang bertugas.
Tidak lama setelah para awak media meninggalkan lobi rumah sakit. Seorang wanita muda setinggi 1,65 m terlihat memasuki ruangan berlantai putih tersebut. Langkah kaki wanita yang saat itu mengenakan black jumpsuit yang di padukan dengan kemeja oversized berpola kotak-kota, terlihat begitu cepat menulusuri lobi Ostheaven Lunatic Ayslum.
Dari ruangan administrasi yang terletak di belakang meja informasi, keluar seorang wanita paruh baya. Rambut wanita yang terlihat sudah mulai memutih di beberapa bagiannya itu, disisir rapih kebelakang. Ujung rambutnya menyentuh bahu tubuh gemuknya yang saat itu di balut dengan seragam rumah sakit berwarna putih.
Wanita ini berlari kecil menghampiri wanita muda yang sedang berjalan dari arah lobi ke arahnya.
“Ibu?” sapa pegawai rumah sakit kepada wanita muda itu dengan napas terengah-engah. Terlihat name tag bertuliskan namanya, Cristina, yang dia pasang di bagian dada kiri seragam yang dikenakan.
“Halo, Cristina,“ balas wanita itu sambil menyodorkan tangan kanannya. “Mulai sekarang, kamu bisa panggil aku, Leta saja,“ ucap wanita itu.
Cristina segera menyambut uluran tangan Leta dan menyalaminya.
“Maaf, Bu. Tapi, aku ini orang daerah. Manggil nama sama atasan itu enggak sopan, loh, Bu,“ jawab Cristina. Wanta ini adalah Kepala Rumah Sakit Ostheaven Lunatic Ayslum.
“Ya, apa boleh buat kalo begitu?“ ucap Leta sambil tersenyum. Lalu leta menghadapkan pandangannnya ke arah lorong rumah sakit di depannya. “Di mana dia?“ tanya Leta.
“Lagi di ruang aktifitas, Bu,“ jawab Cristina sambil mengarahkan telunjuknya ke arah lorong rumah sakit. “Ibu mau aku antar sekarang?“ tanya Cristina kemudian.
Kemudian, Leta dan Cristina bejalan menelusuri lorong rumah sakit bercat putih itu. Di kiri dan kanan lorong rumah sakit berlantai dua itu, terdapat ruangan adminitrasi, ruangan manajemen dan ruangan dokter-dokter spesialis yang bertugas di rumah sakit.
“Maaf, Bu. Kalau aku boleh tanya, apa benar Ibu kerabat dari orang tua Sonia Robert?” tanya Cristina, sambil terus berjalan menelusuri lorong bersama Leta.
“Ya. Ayahnya salah satu rekan bisnis keluarga saya,“ Jawab Leta. Pandangannya terus menghadap ke depan.
“Tapi kok, kenapa harus sembunyi-sembunyi, Bu? Kenapa tidak orang tuanya saja yang menjemput?“
“Ayah Sonia adalah pebisnis terkenal di Xacatara. Jika media tahu tentang ini, bisa menjadi heboh dan bisa menjadi aib bagi keluarganya.“
“Oh, iya juga ya, Bu,“ balas Cristina sambil menganggukan kepalanya.
Tiba-tiba Leta menghentikan langkahnya. Lalu kedua tangannya memegang pundak Cristina. Badannya sedikit dibungkukan untuk mengimbangi tinggi badan Cristina yang lebih pendek darinya. “Saya harap Ibu Cristina bisa merahasiakan ini,“ ucap Leta. Matanya menatap tajam ke arah mata Cristina yang ada di hadapannya.
“Iya, Bu,“ jawab Cristina.
“Kalau petugas lain ada yang menanyakan keberadaan Sonia Robert, Ibu jawab apa?”
“Sonia Robert di jemput orang tuanya secara diam-diam karena identitasnya ingin di rahasiakan.“
“Bagus,“ ucap Leta sambil tersenyum. “Apakah Ibu Cristina adalah orang yang dapat menjaga rahasia perusahaan?“ lanjut Leta.
“Bisa, Bu,“ jawab Cristina. Dirinya mulai terintimidasi dengan sikap Leta.
“Bagus. Karena saya berharap, Ibu Cristina bisa terus menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit ini,“ ucap Leta. Tangannya dilepaskan dari pundak Cristina. “Jadi, ruangannnya masih jauh?” tanya Leta kepada Cristina yang terlihat masih diam mematung dengan tatapan kosong.
“Oh ya, Bu, maaf,“ jawab Cristina sambil merubah pandanganya ke arah depan. “Itu ruangannya, Bu.“ Cristina menunjuk sebuah ruangan berpintu merah di depan mereka.
Kemudian Cristina dan Leta berjalan ke arah ruangan yang berjarak 10 meter dari posisi mereka. Sesampainya di depan ruang itu, Cristina membuka pintu berwarna merah itu.