
Saat sedang berkonsentrasi mengingat-ingat dari mana dia mendapatkan nama bonekanya, tiba-tiba seseorang dari luar kamar membuka pintu.
“Hay Botak?” Sesosok Pria berkulit sawo matang yang memiliki rambut gimbal menjulurkan kepalanya ke dalam kamar Kin.
Konsentrasi Kin buyar melihat pria itu. “Eh Lo, Ko. Ngagetin aja. Sini masuk,“ sambut Kin, raut wajahnya terlihat senang melihat kedatangan Nicko, teman dekatnya dari kecil.
Nicko masuk ke dalam kamar, lalu memperhatikan barang yang ada di genggaman Kin. “Ada cowok jomblo 28 tahun menyendiri dalam kamar sambil megangin boneka domba?” Nicko mengerutkan alisnya sembari memegang dagunya. Lalu pria kurus setinggi 168 cm ini berjalan mendekati Kin. “Atau jangan-jangan lo sedang melakukan pemanggilan arwah dan boneka ini adalah medianya?” lanjut Nicko. Kin tertawa kecil melihat tingkah temannya.
Nicko merebut boneka domba dari tangan Kin, “Ini bukan versi binatang dari boneka Anabelle, kan?”
Kin merebut kembali bonekanya dari tangan Nicko dan berkata, “makanya Lo kalo nonton film horor, nonton di bioskop! Beli tiket! Jangan nunggu bajakannya keluar di internet. Jadi pikiran lo gak ikutan horor,” ucap Kin sembari meletakkan boneka dombanya di atas meja, lalu duduk diatas ranjang.
Nicko tertawa mendengar ucapan Kin. Pandangannya mengarah ke dalam kotak berwarna merah yang ada di depannya. Di dalam kotak itu Nicko melihat soft teether—mainan berbentuk karet yang biasa di berikan kepada bayi yang baru tumbuh gigi. Lalu ada puzzle balok bergambar binatang dan yang terakhir Nicko melihat mobil remote control. Semua yang ada di dalam kotak adalah mainan-mainan normal pada umumnya, hanya boneka porselen berbentuk domba itu yang terlihat aneh.
“Domba ini hadiah terakhir dari Ayah Lo, kan?” tanya Nicko sambil menunjuk ke arah boneka.
“Ya, itu hadiah ulang tahun gue yang keempat,” jawab Kin.
Ulang tahun Kin yang keempat adalah perayaan ulang tahun terakhir yang dia rayakan bersama Ayahnya. Lima bulan setelah perayaan ulang tahun, pesawat yang ditumpangi Davin Dhananjaya hilang di Selat Panon Poe saat menuju Ibu Kota negara Insulinde, Xacatara. Dan sampai sekarang pesawat itu masih belum ditemukan.
“Gue jadi inget cerita lo di rumah sakit. Soal mimpi lo waktu koma. Yang kata Lo, Lo berada di hutan misterius, lalu datang seekor domba berbulu emas yang bisa bicara,“ ucap Nicko.
Kin menyimak serius.
Nicko mengambil kursi di bawah meja untuk diduduki. Sekarang posisinya berhadapan dengan Kin yang sedang duduk di atas ranjang.
“Nama Chrysom, boneka domba, domba berbulu emas yang bisa ngomong di mimpi Lo, dan zodiak Lo, Aries; itu semua berhubungan.“
“ Berhubungan dengan apa?“ tanya Kin penasaran.
“Gue sempet nyari di internet dan membaca beberapa buku. Jadi, di masa lalu, saat mahluk-mahluk seperti Pegasus, Peri dan semua hal yang sekarang kita sebut mitos ada di Dunia ini. Di sebuah kerajaan ada seorang Raja bernama Athaman yang memiliki dua istri. Istri pertama bernama Nefele, sedangkan istri keduanya bernama Ino. Dari istri pertamanya Raja Athaman mendapatkan keturunan dua orang anak bernama Frixos dan Helle.
“Istri kedua Raja Athaman yang tidak bisa memberikan keturunan cemburu, karena Frixos-lah yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan.
“Nefele yang merasa sedih saat mengetahui anaknya Frixos akan dikorbankan memohon bantuan kepada Hermes. Hermes mengabulkan permohonannya dengan mengirimkan hewan peliharaan milik Poseidon, seekor domba jantan bersayap dan berbulu emas yang bernama, Chrysomallus.“
“Chrysom?“ sahut Kin.
Nicko menganggukan kepalanya, lalu melanjutkan certanya; “kemudian Nefele menyuruh kedua anaknya untuk menaiki domba itu agar dibawa pergi ke tempat yang aman. Ketika Frixos dan Helle sudah menaiki punggungnya, domba itu terbang meninggalkan Istana. Di tengah perjalanan Helle terjatuh di lautan dan tenggelam, lautan ini yang sekarang kita kenal sebagai laut Helle.
“Domba itu membawa Frixos di sebuah daerah bernama Kolkhis, untuk diberikan dan dirawat oleh Raja Aites penguasa Kolkhis. Namun, walaupun saat itu nyawanya selamat dan hidup mewah sebagai anak angkat Raja Aites, Frixos merasa sedih karena telah kehilangan adiknya, Hella.“ Nicko bercerita sambil sesekali menggerakan tangannya mengikuti arah ceritanya di hadapan Kin yang serius mendengarkan.
“Chrysomallus yang saat itu dipelihara dengan baik oleh Frixos, tidak tega melihat majikannya terus menerus sedih . Lalu kemudian domba itu memohon kepada Poseidon untuk muncul kedalam mimpi Frixos dalam wujud Dewa Perang, Ares.
“Poseidon mengabulkan permintaan Chrysom. Domba itu masuk kedalam mimpi Frixos, meminta dirinya disembelih untuk dikorbankan kepada Zeus. Agar Zeus bersedia membangkitkan Hella dalam bentuk nimfa atau peri laut, agar bisa hidup dan menjaga laut Hella. Dengan begitu Frixos bisa berkunjung untuk bertemu adiknya. Lalu sebagai penghormatan kepada Dewa Ares kerena telah meminjam wujudnya. Chrysom meminta Frixos mencukur bulu emas dan memotong sayapnya, lalu di kuburkan di kawasan hutan suci milik Dewa Ares.
“Frixos bersedia memenuhi permintaan Chrysom agar bisa bertemu adiknya lagi. Upacara pengorbanan di selenggarakan di Kuil Zeus. Sebuah pedang tajam digenggam oleh Frixos untuk menyembelih leher Chrysom. Namun, saat pedang itu baru menempel di leher Chrysom yang saat itu direbahkan di atas altar pengorbanan, Zeus yang merubah wujudnya dalam bentuk elang mencengkram tubuh Chrysom dengan cakarnya yang besar lalu terbang membawa Chrysom ke atas sebuah gunung.
“Ternyata tindakan dan kesetian Chrysom kepada Frixos menggugah hati Zeus. Zeus menghidupkan kembali Hella sebagai nimfa sebagaimana permintaan Chrysom. Kemudian Zeus memberikan Chrysom sebuah tempat di antara bintang sebagai konstelasi Aries.” Nicko menutup ceritanya.
“Lo menghapal semua itu?” tanya Kin sambil mengerutkan alis.
Nicko terkekeh mendengar pertanyaan Kin. Tangannya meraih teh dalam kemasan botol yang berada di atas meja. Kin memang lebih suka menjamu teman-teman dekatnya di dalam kamar, jadi beberapa macam minuman botol beserta snack-nya tertata rapih di atas meja di dalam kamarnya.
Kin berdiri menghampiri boneka porselen yang berada di atas meja. Memperhatikan, berpikir dan mengaitkan cerita Nicko dan mimpi yang dia alami. Sedangkan Nicko sedang menenggak habis minumannya.
Kin memnghadapkan pandanganya ke Nicko, lalu berkata, “mungkin bagi orang lain ini hanya mimpi. Tapi bagi gue yang merasakan, ini seperti nyata.Terasa sangat dekat.”
“Ya, memang kadang mimpi itu mengarahkan kita pada sebuah petunjuk,” balas Nicko.
“Chrysom? Coba lo pikir, darimana gue dapet nama itu? Belum lagi, semua hal-hal yang serba berkaitan.”
Kin dan Nicko terus membicarakan hal itu panjang lebar selama berjam-jam. Mereka berdua memang sudah akrab dari kecil. Bagi Kin, selain Paman Bob dan Bibi Wanda, Nicko adalah salah satu orang yang bisa dia percaya.
Nicko adalah sosok yang sangat tertarik dengan dunia paranormal. Seseorang yang percaya bahwa di balik dimensi realita tempat manusia hidup, ada dimensi lain di mana peri, pegasus dan raksasa bermata satu hidup di sana. Oleh sebab itu, dia sangat serius menanggapi hal-hal yang belakangan ini Kin ceritakan.