
“Pak Perdana Mentri,” sapa Putri ramah saat matanya melihat Perdana Mentri Hendrik Morgan dan Paman Bob berjalan menelusuri lobi penginapa.
“Halo?” Hendrik membalas Putri. “Kau anak Sutris, Kan?”
“Iya, Pak,” balas Putri.
Hendrik tersenyum dan terus melangkah bersama Paman Bob di lobi, memasuki lorong penginapan dan berhenti di depan pintu kamar nomor satu penginapan.
“Kau sudah siap beraksi?” tanya Paman Bob sambil tersenyum.
“Tidak pernah siap, Bob. Tapi ketika keadaan sudah mulai kacau; mau-tidak-mau kita harus siap.”
Paman Bob tersenyum lalu membuka pintu kamar.
Bentuk kamar itu sama saja dengan kamar-kamar lainnya di penginapan. Paman Bob memasuki ruangan terlebih dahulu, sedangkan Hendrik, untuk beberapa saat dia berdiri memandangi seisi ruangan dari luar pintu. Dia menatap tembok kamar yang di cat dengan warna putih, plafon kamar yang berwarna kayu—warna yang senada dengan lantai kayu yang berada di bawahnya.
Setelah puas, Hendrik melangkahkan kakinya ke dalam kamar tersebut, lalu menutup pintu. Di dalam kamar itu, ada sebuah ranjang ukuran besar yang ditutupi selembar kain putih, begitu pula dengan seluruh furnitur di kamar itu, semuanya tertutupi kain berwarna putih. Hendrik berjalan mengitari sisi kiri ranjang, menuju sebuah tangga rahasia menuju ke lantai bawah, letaknya tepat berada di sebelah ranjang. Di samping tangga, Hendrik melihat papan yang sebelumnya digunakan untuk menutupi tangga dan terlihat pula gulungan karpet warna merah yang sudah pudar.
Lalu, satu persatu anak tangga yang terbuat dari material baja berwarna hitam dan berbentuk melingkar itu mereka tapaki. Sesampainya mereka berdua di anak tangga terakhir, tibalah mereka di sebuah ruangan bawah tanah yang memiliki panjang dua puluh lima meter dan lebar lima belas meter. Lantai ruangan itu terbuat dari material kayu dark walnut. Terdapat rak buku berbahan kayu memenuhi sisi kiri ruangan tersebut, menutupi tembok bercat putih di belakangnya.
Hendrik melangkah menelusuri ruangan bawah tanah, melewati sofa kulit warna hitam yang disusun berjejer di sisi kanan ruangan (jumlahnya delapan buah). Langkahnya pelan, matanya menerawang, dia sedang bernostalgia dengan ruangan itu.
Dia menghentikan langkahnya, lalu menghadapkan pandangannya ke sebuah foto berukuran besar yang di tempel tepat di bagian tengah tembok sisi kanan bangunan. Foto itu menampilkan gambar tiga orang pria sedang berpose dengan gagah. Hendrik tampak begitu menghayati menatap foto itu, matanya berkaca-kaca, seperti mata seorang istri yang sedang memandangi photo suaminya yang gugur di medan perang. Lalu, dia berbisik, “Davin,” sambil menundukan kepalanya penuh hormat. Kemudian Hendrik memandang Paman Bob yang berdiri di depan tangga—ada bar kecil di belakang tangga, dia tersenyum penuh makna, lalu tanpa mengatakan apa-apa, dia melangkah kembali menuju sebuah meja kerja berukuran besar yang terletak di pojok bagian kanan ruangan, menghadap ke arah rak buku.
Hendrik mengitari sisi kanan meja itu—di atas meja tidak nampak benda apapun, lalu dia menduduki kursi di balik meja kerja tersebut. Sebuah kursi berlapis kulit berwarna hitam. Paman Bob berjalan mendekati meja kerja, lalu menduduki sofa yang paling dekat dengan meja.
Sejenak Hendrik menatap dalam-dalam wajah Paman Bob, lalu berkata, “jadi, Leta sedang bersama Kin?”
“Ya.”
Hendrik mengangguk. “Memang sudah saatnya Kin mengetahui takdirnya.”
“Ya, tapi aku sedikit khawatir.”
“Khawatir?”
“Kau tahu, ini seperti; kau mengantarkan seseorang yang sudah kau anggap seperti anak sendiri, ke tempat yang dipenuhi monster.”
“Ya, aku tahu. Bagiaman dengan Leta? Kau sudah mengenalnya lama?”
“Leta? Ya, tentu saja aku sudah lama mengenalnya. Dia sulit diatur.”
“Maksudnya, Leta tidak percaya denganmu?”
Hendrik tersenyum. “Leta tidak percaya dengan siapapun, Bob. Siapapun.”
“Lalu, bagaimana dengan temannya?”
“Temannya?”
“Ya, Sonia. Sonia Robert. Leta membawanya ke sini, dan menyewa kamar selama satu bulan untuk Sonia. Aku pikir, seharusnya Sonia juga punya keahlian, ya, kau tahu.”
Wajah Hendrik langsung pucat ketika mendengar ucapan Paman Bob. “Apa yang direncanakan Leta.”
“Ada apa?”
“Sonia yang kau sebut itu adalah seorang Zodiac. Dia Aquarius.”
“Aquarius? Pengendali air?”
“Ya, dia bisa mengendalikan air. Dan kau lihat tempat ini Bob, dikelilingi dengan air.”
“Bukankah itu bagus?”
“Ya, seandainya saja dia tidak tenpramental.”
“Maksudmu, Sonia tipikal yang dengan mudah menggunakan kekuatannya?”
“Ya.” Hendrik mengangguk. “Dan, bayangkan jika ada yang membuatnya marah di tempat ini. Apa yang akan dia lakukan.”
“Dia bisa membuat tsunami.”