
Jet ski yang dinaiki Nicko terjebak dalam arus; berputar-putar dari bagian paling luar mengarah ke dalam. Nico terlihat sangat panik. Wajah riangnya berubah menjadi pucat. Dia memegang erat jet ski agar tidak terjatuh ke dalam arus.
“Kin, tolong!“ teriak Nicko kepada Kin yang nampak panik dan ketakutan di tepi pantai.
Kin berlari kesana kesini mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menolong temannya. Kin melihat ke arah Leta dan Sonia di belakangnya. Di matanya, kedua wanita itu terlihat berdiri menyaksikan kejadian ini dari jauh. Kin melihat sebuah kapal nelayan yang disandarkan jauh di sebelah kirinya. Kin berpikir untuk mencari tali, jala atau apapun yang bisa dia gunakan untuk menarik Nicko ke pinggir pantai.
Kin berlari cepat ke arah kapal, namun sayang kakinya menghantam sebuah batu karang yang terdapat di pinggir pantai yang membuatnya tersungkur.
Kin menatap Nicko yang semakin terdorong ke tengah pusaran. Kin panik, merasa sangat panik. Kepalanya pusing, dia merasa ingin muntah dan putus asa karena tidak tau harus berbuat apa untuk menolong temannya.
Kin berdiri lalu menatap Leta dan Sonia di belakangnya. “Leta, di belakangmu!“ teriak Kin kepada Leta. Kin melihat sosok domba jantan berbulu emas dengan tanduk yang melingkar dan sepasang sayap di punggungnya. Domba itu berjalan dengan gagahnya menghampiri sisi kiri Leta. “Leta, kau dengar aku? Awas!“ teriak Kin sekali lagi.
Ketakutan Kin hilang ketika domba itu berdiri tegap di samping Leta. Dia melihat Leta tersenyum kepadanya. Leta seperti ingin mengucapkan sesuatu kepada Kin. Kin memperhatikan bibirnya.
“Crhysomallus.“
Kin mendengar apa yang diucapkan Leta. Kin melihat ke sisi kiri Leta dan mendapati domba itu sudah menghilang. Tubuh Kin gemetar, lalu melihat ke arah Nicko yang semakin mendekati tengah pusaran dan kembali dia memandang Leta—yang tersenyum kepadanya.
Lalu tiba-tiba Kin tersungkur, tangannya mencoba mengangkat tubuhnya. Wajahnya memerah, air matanya menetes. “AAARRRRRggghhh!“ Kin mengeram kesakitan. Punggungnya terasa sangat sakit, seperti ada yang ingin menarik tulang punggung dari tubuhnya.
Kin berteriak semakin keras. Rasa panas membakar melengkapi rasa sakit yang dia rasakan di punggungnya.
“Sonia, lihatlah,“ ucap Leta sambil menunjuk ke arah punggung Kin.
Sebuah portal dimensi berwarna emas terlihat berada di punggung Kin. Portal yang menyilaukan itu membakar bagian belakang seragam penginapan yang kin kenakan, lalu...
... whusss, sepasang sayap berwarna emas muncul dari portal yang berada di punggung Kin.
Sepasang sayap berukuran besar seperti sayap burung merpati mengepak-ngepak, mengangkat tubuh Kin yang tersungkur melayang satu meter dari darat.
“Dia tidak sadar?“ ucap Sonia.
“Ya, menyedihkan,“ balas Leta.
Kin, menatap ke arah Nicko, lalu terbang dengan kecepatan elang meraih tubuh Nicko yang berada di pusaran air.
“Ok, gadis pembunuh. Hentikan, sebelum ada orang yang melihatnya,“ ucap Leta.
Sonia menghentikan gerakan tangannya. Matanya sudah kembali ke warna aslinya dan laut pun terlihat normal kembali.
Di sisi lain, Kin terbang membawa Nicko menjauh dari lautan.
“Kin, kau terbang,“ ucap Nicko terbata-bata.
Kin terlihat belum sadar dengan apa yang terjadi. Dia seperti orang yang terhipnotis, bergerak melalui alam bawah sadaranya.
“Jadi, Aries memiliki sayap?” tanya Sonia.
“Wow, itu akan terlihat keren!“ balas Sonia sambil menjentikkan jari.
Kin mendaratkan Nicko ke tepi pantai. Dia terlihat mulai sadar dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya, lalu mendapati Nicko duduk di depannya.
“Kin, punggung Lo,“ ucap Nicko sambil menunjuk sepasang sayap di punggung kawanya.
Kin menengok ke punggunya. “Apa ini ?!“ ucap Kin panik. Lalu sekonyong-konyong Kin terbang tak terkontrol melayang-layang di atas lautan. Dia sangat panik ketika mendapati ada sepasang sayap di punggungnya. Tangannya mencoba melepas sayap-sayap itu. Kin mulai kehilangan kesadarannya dan pingsan.
Portal dimensi muncul kembali di punggungnya, sayap-sayap di punggung Kin perlahan-lahan hilang memasuki portal dimensi itu. Kin terjatuh dari udara menghantam tepi lautan dan tenggelam di lautan dalam.
“Leta, dia tenggelam,“ ucap Sonia.
“Ya, aku melihatnya.“ Leta melihat ke arah Nicko. “Hey, Nick!?“
Nicko menatap Leta. Wajahnya pucat, pandangannya tampak tidak fokus, lalu kemudian dia juga pingsan.
“Hey, Leta. Dia pingsan,“ ucap Sonia.
“Ya, aku juga melihatnya,“ balas Leta, kemudian berjalan ke arah lautan di ikuti Sonia.
Setibanya di tepi pantai.
“Sejak kecil aku tidak pernah bermain di pantai bersama teman-temanku atau pergi kepantai yang ramai. Kau tahu kenapa?“ Leta memasukkan telapak tanganya ke dalam air.
Sonia memandangi selaput yang muncul di sela-sela jari Leta. Selaput itu berwarna merah tua dan semakin muda warnanya di bagian luar di dekat kuku. Warnanya berkilauan, nampak indah di pandang mata. Kemudian Sonia menatap mata Leta, bola matanya berubah warna menjadi kuning keemasan. Terlihat juga sisik-sisik berwarna merah muncul di belakang telinganya. “Seperti ini kah wujud Pisces?“ tanya Sonia.
Leta hanya tersenyum menanggapi Sonia, kemudian Leta menatap ke lautan, dia nampak sedang berkonsentrasi. “Hey kau, siapa namamu?“ ucap Leta, dia bicara sendiri.
Sonia terlihat sangat fokus memperhatikan apa yang dilakukan Leta.
“Kau tidak punya nama? Baiklah, akan kuberi kau nama nanti,“ lanjut Leta. “Kau melihat temanku? Kau bisa membawanya kepadaku? Terima Kasih,“ tutup Leta, lalu mengangkat tangannya dari dalam air. Tampilannya perlahan kembali ke wujud normal.
“Kau bicara dengan siapa?” tanya Sonia penasaran.
“Dia,“ ucap Leta sambil menunjuk seekor penyu yang membawa Kin di atas tempurungnya.
Sonia sangat antusias melihat Penyu itu berenang ke arah tepi pantai. Sesampainya di tepi pantai, Sonia menjatuhkan tubuh Kin dari atas tempurung, lalu dia berjalan dan jongkok di hadapan penyu itu. Dia memandangi makhluk itu dengan wajah yang sangat gembira, sesekali dia mengelus kepalanya.
“Kau boleh memberikan dia nama,” ucap Leta.
“Benarkah?“ balas Sonia histeris.
“Ya.“
Sonia berpikir sejenak. Memilih puluhan nama yang ada di benaknya dan kemudian ‘snaph!‘, Sonia menjentikan jarinya. “Namamu, Tony Iommi.“