ZODIAC

ZODIAC
BAB 6



Dhananjaya Guest House, di waktu yang sama.


“Jaman semakin gila. Orang-orang pun ikut gila!“ ucap Wanda kesal.


Wanda, Kin, Bobby dan Nicko sedang asik berbincang sehabis menyantap makan malam. Mereka berempat berada di ruang makan rumah yang terletak di halaman belakang Dhananjaya Guest House.


“Ya, polisi sudah menangkap pelaku pencurian. Jadi sudah tidak ada masalah,“ sahut Paman Bob, lalu menyeruput kopi hitamnya.


Mereka sedang membahas soal tindak kriminal pencurian yang terjadi di Musium Kota Ostheaven tempat Wanda bekerja.


“Sebenarnya apa yang mereka cari, Bi?“ tanya Nicko kepada Wanda.


“Menurut petugas keamana museum yang mereka sandra; para pencuri itu mencari pedang gitu, deh,“ jawab Wanda tidak yakin.


"Pedang? Pedang apa?" tanya Kin heran.


"Entahlah," kata Bibi Wanda sambil menggeleng.


+++


Di apartemen Leta.


“Kamu dan wanita yang tiga tahun hidupnya dihabiskan di dalam rumah sakit jiwa? Itu kombinasi yang buruk.“ Hendrik meneguk wine. “Kalian butuh pemimpin, ajak Dhananjaya,“ lanjut Hendrik.


“Itu akan lebih buruk.“ Leta mengetuk meja kerjanya dengan telunjuk. “Pertama; Dhananjaya belum mengetahui siapa sebenarnya dia. Kedua; Tamam Shud mengincar pedang Frixos dan apapun yang mereka inginkan dengan pedang itu, pasti berkaitan dengan Aries.“


“Jika aku boleh memberi saran.“ Al berdiri dari kursinya. “Kita bisa mengajak Banteng atau Sang Singa,“ kata Al memberi saran. Pandangannya diarahkan ke arah Leta.


“Tidak!“ Leta meninggikan suaranya.


“Lalu, bagaimana cara kita melepaskan Sonia Robert?“ tanya Hendrik. “Akan menjadi pertanyaan, jika publik mengetahui Perdana Mentri negaranya atau CEO PT. Capulus melepaskan seorang pasien rumah sakit jiwa.”


“El, seberapa cepat kita bisa membeli rumah sakit itu?”


“Kamu akan membelinya?“ tanya Hendrik kaget.


“ ‘PT. Capulus Membeli Saham Rumah Sakit Jiwa; CEO Perusahaan Ingin Berkontribusi Dalam Pengobatan Orang-orang Berkebutuhan Khusus’,“ ucap Leta, lalu dia melipat tangannya di dada. Kursi kerjanya diputar ke arah jendela di belakanganya. Sekarang pandangannya mengarah ke bayangan Hendrik yang terlihat di kaca. “Media akan menulis seperti itu, dan hanya itu yang akan masyarakat tahu.“ Leta menyeringai.


+++


Kembali ke Dhananjaya Guest House.


“Oh ya, Kin. Saat Leta menjenguk di rumah sakit. Dia berucap ingin sekali ngobrol denganmu,” kata Bibi Wanda. Mereka sedang membicarakan Leta yang sekonyong-konyong menjenguk Kin di Rumah Sakit. Tentu saja hal terbut mengherankan bagi Kin, karena dia tidak mengenal Leta.


Mendengar ucapan Bibi Wanda, Kin dan Nicko saling memandang dengan wajah heran.


“Aku bahkan tidak mengenalnya, Bi,“ ucap Kin.


“Keluarga Leta di masa lalu punya hubungan erat dengan keluarga kita. Mungkin saja dia ingin menjalin silaturahmi kembali dengan keluarga kita,“ tambah Paman Bob, lalu menghisap rokok keretek yang berada di sela jari telunjuk dan tengah tangan kanannya.


“Tapi aku tidak mengerti soal kopi atau lada,“ kata Kin. Tentu saja Kin akan berkata seperti itu; Leta adalah CEO PT. Capulus, perusahaan yag bergerak di bidang hasil bumi.


“Pamanmu juga bilang begitu kepada Leta saat di rumah sakit.“ Wanda menunjuk kearah Bobby. “Tapi kata Leta, dia tidak tertarik berbicara tentang kopi atau lada, dia tertarik dengan Domba.“


“Domba?” tanya Kin heran.