
BAB 7
Sore hari, di sebuah pulau resor bernama Verlaten Eiland. Pulau ini terletak di gugusan kepulauan Lang, Kabupaten Administrasi Lang Eiland. Sebuah kabupaten administrasi di Ibu Kota Negara Insulinde, Xacatara. Dermaga pulau terlihat sibuk seperti biasanya. Para pengunjung pulau datang dan pergi silih berganti. Maklum, resor ini sudah lama menjadi “surga dunia” bagi para pecinta judi dan prostitusi. Baik turis lokal ataupun mancanegara sama-sama mencari “kesenangan duniawi” di pulau ini.
Sebuah hotel berbintang bernama Bell Farm Hotel, berdiri kokoh di tengah pulau. Hotel tujuh lantai yang memiliki 218 kamar tersebut, selalu ramai dipenuhi pengunjung. Di lantai satu Bell Farm Hotel terdapat sebuah kasino yang menjadi magnet utama Verlaten Eiland. Lalu di sekitar hotel itu terdapat bangunan-bangunan yang di jadikan tempat bisnis perjudian, prostitusi dan pub.
“Keramaian adalah tempat terbaik untuk menyimpan sebuah rahasia. Seperti itulah kita sekarang,“ ucap seorang Pria dari sebuah ruangan yang terletak di lantai tujuh Bell Farm Hotel.
Lantai tujuh Bell Farm Hotel adalah area paling misterius di Verlaten Eiland, karena hanya orang-orang terpilih yang dapat memasuki dan mengetahui keberadaan-nya. Tempat ini hanya bisa dituju melalui lift khusus, yang lokasinya hanya diketahui orang-orang tertentu di pulau itu. Yang lebih misterius lagi, jika dilihat dari bagian depan hotel bergaya Mediterania ini. Gedung Bell Farm Hotel terlihat hanya memiliki enam lantai.
Tentu saja hal itu menarik minat para pecinta teori konspirasi untuk mengetahui keberadaan lantai ke tujuh Bell Farm Hotel, dan mereka menyebut lantai itu, Stairway to Heaven.
+++
Lantai tujuh Bell Farm Hotel.
Di sebuah ruangan yang luasnya kurang lebih seperti luas lapangan basket. Kaca melapisi dinding dan atap ruangan itu, sedangkan lantainya dilapisi marmer berwarna gading. Sebuah meja kayu berbentuk bulat ditempatkan ditengah ruangan. Ukuran meja itu besar, 12 kursi berada di sisi-sisi meja dan kepala Medusa diukir di atas permukaan meja berbahan kayu jati itu.
“Keramaian adalah tempat terbaik untuk menyimpan rahasia,“ ucap seorang Pria berkepala plontos. “Kata-kata yang sangat memotivasi, Tamerlane.” Pria yang memiliki jenggot dan kumis lebat itu berbicara kepada sosok bernama Tamerline yang duduk di sampingnya.
“Hehehe, itu hanya pepatah tua, Attila,“ jawab Tamerlane.
“Di antara semua orang di ruangan ini, kau yang paling pintar menyimpan rahasia,“ ucap seorang Pria berambut pirang kepada Attila. Pria Rusia ini duduk di depan Tamerlane dan Attila.
“Aku setuju denganmu Ivan. Berkat keahlianmu, kejadian tiga tahun lalu tidak diketahui media dan publik,“ tambah Tamerlane.
“Bicara tiga tahun lalu ... sebenarnya aku merindukan mereka berempat,“ ucap seorang pria yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan menyimak obrolan ketiga temannya.
“Ya.” Tamerlane melipat kedua tanganya, dia memejamkan matanya sejenak. “Piter bersaudara, Gary dan Wayne. Mereka berempat akan selalu menjadi saudara kita. Kita akan membalas kematian mereka,“ lanjut Pria keturunan India ini.
Tiba-tiba pintu berlapis kaca di dinding ruangan itu terbuka. Tampilan pintu itu nampak serasi dengan dinding ruangan tersebut. Suara langkah kaki terdengar mendekati ruangan, suaranya menggetarkan kaca-kaca di dalam ruangan. Tak lama berselang, sesosok makhluk berbadan besar memasuki ruangan. Pandangan seisi ruangan mengarah padanya.