ZODIAC

ZODIAC
BAB 20



Tiga jam sebelum rencana pembunuhan Taurus.


Di depan sebuah pemakaman terparkir dua buah Honda Civic, dan di dalam mobil yang terparkir paling depan, sebuah pertemuan sedang terjadi.


“Jack mengirimku untuk membunuh Taurus,” kata Moll Dyer kepada penyihir wanita cantik berambut pirang di sebelahnya.


“Membunuh Taurus? Bukankah Jack bilang, kita hanya perlu mengawasinya?” balas penyihir wanita bernama Cassandra tersebut.


Jawaban Cassandra membuat Moll Dyer curiga. “Lalu apa bedanya? Membunuh dan mengawasi, apa bedanya?”


Cassandra tidak menjawab pertanyaan Moll Dyer.


“Oh, jangan bilang kau mencintainya, Cassandra.”


Dengan tatapan yang dingin Cassandra berkata, “apa maksudmu?”


Seringai muncul di wajah Moll Dyer. “Kita lihat saja nanti. Jika kau mencoba menghalangiku, maka kau juga akan terkena imbasnya.”


***


Malam harinya: OPERASI PEMBUNUHAN TAURUS


Cassandra memasuki Myrtes Cafe, lalu berjalan menuju kursi bar dekat jendela. Di sana Gavin sedang duduk dan berbincang dengan bartender cafe tersebut. Ada segelas beer di atas meja, dan Gavin mengisap rokok mild dan menghembuskan asapnya ke udara.


“Kau sudah lama menunggu?” tanya Cassandra saat sudah berada di dekat Gavin.


“Hey, Kau—“ Gavin berhenti sejanak, matanya menyapu tubuh Cassandra dari kepala sampai kaki. “Kau cantik sekali.”


Cassandra tersenyum lalu duduk di kursi samping Gavin. “Gavin, ada yang ingin aku bicarakan.”


“katakanlah,” balas Gavin.


“Ya, tapi aku ingin di tempat lain.”


“Oh, baiklah. Tapi, tunggu sebetar lagi. Aku tidak enak dengan rekan-rekan bandku kalau tidak pamit.”


“Tidak ada waktu untuk menunggu mereka.”


“Apa maksudmu?”


Di dekat pintu, kepala-kepala mulai berpaling dan salah seorang pramusaji hampir menjatuhkan nampan minuman karena kaget. Dua orang pria menggunakan pakaian hitam-hitam masuk membawa senapan laras panjang dan tanpa ampun menembakkan senapan itu secara serampangan.


Gavin yang terkejut sontak menarik lengan Cassandra agar tiarap ke lantai—menghindari peluru. “Hey, apa-apaan ini?”


“Aku sudah bilang, ayo kita keluar.”


Gavin menatap wajah Cassandra; ada yang lain di mata wanita yang sudah dia kenal selama tiga bulan terakhir: bola mata Cassandra yang berwarna biru berubah menjadi putih. “Cassandra, kau penyihir?”


Sesuatu yang aneh terjadi dengan pria itu, dia menghetikan tembakannya, wajahnya bingung dan bola matanya berubah jadi putih. Hal yang terjadi selanjutnya begitu mengejutkan, saat pria itu mengarahkan senapan ke rekannya, lalu sekonyong-konyong menembakkan senapan secara membabi buta. Setelah rekannya tewas, dia mengarahkan moncong senapan ke dagunya, lalu menarik pelatuk; tanpa ampun kepalanya meledak hancur berkeping-keping.


“Ayo,” kata Cassandra sambil berdiri dan menarik tangan Gavin.


“Kau ... kau pengendali pikiran?”


“Sudahlah! Jangan sekarang. Tidak ada waktu.”


Dua orang pria dengan senapan masuk lagi ke dalam cafe. Mereka bingung ketika melihat dua temannya terbaring tak bernyawa tergeletak di lantai cafe, lalu, secara membabi buta, mereka menembakkan peluru ke seluruh pengunjung cafe.


Gavin memeluk tubuh Cassandra saat sebuah peluru meluncur deras ke arahanya, dan dia terjatuh saat peluru itu tertancap di punggungnya.


Dengan sekuat tenaga, Cassandra memegang tubuh Gavin yang lebih besar, dan membawanya menuju pintu darurat di bagian belakang cafe (tempat mobil Gavin diparkir).


“Cassandra,” kata Gavin saat di perjalan menuju pintu belakang. “Kau memiliki banyak pertanyaan yang harus kau jawab.”


“Ya, terserah kau,” balas Cassandra. “Yang penting kita keluar dulu dari tempat ini. Tempat ini akan segera meledak.”


“Meledak?”


“Ya. Ada penyihir yang memiliki kemampuan itu, dan dia sedang menunggu momen yang tepat untuk membuat ledakan dari luar.”


“Sial!” kata Gavin. “Tidak bisa kah kita menyelamatkan semua orang?”


“Tidak, tidak ada waktu.”


“Aku bisa jika aku mau. Aku punya kekuatan—“


“Jangan kau lakukan! Semua orang bisa tahu siapa dirimu.”


Gavin tersenyum setelah mendengar ucapan Cassandra. “Kau tahu siapa aku?”


“Sudahlah, kita bahas nanti. Ini bukan waktu yang tepat.”


“Baiklah. Kau bisa mengemudikan mobil?” tanya Gavin, dan Cassandra mengangguk. “Di selatan ada sebuah penginapan di depan pantai. Kita menuju ke sana.”


“Apakah tempat itu aman?”


“Entah, aku juga belum pernah ke sana. Tapi aku memiliki seorang teman yang sangat kuat, dia menyuruhku ke sana jika terjadi sesuatu yang berbahaya.”


“Siapa?”


“Kau akan terkejut. Dia seorang Dewi.”