
Kin memasuki kamarnya. Setelah membereskan barang-barang, Kin berbaring di tempat tidur ukuran single yang dibungkus kain berwarna hitam. Kin memejamkan matanya sejenak menikmati kenyamanan yang sudah lebih dari satu minggu tidak dia rasakan. Dari arah speaker yang disambungkan ke laptop, terdengar lagu Who Want To Live Forever milik grup band Queen, band favoritnya.
Di tengah kenyamanannya, Kin teringat akan mimpinya ketika dia koma. Bagi Kin, itu adalah mimpi paling nyata yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Kin membuka matanya, lalu mengarahkan pandangannya ke sebuah kotak berwarna merah yang diletakkan di atas lemari baju. Itu adalah kotak tempat dia menyimpan hadiah-hadiah ulang tahun yang diberikan ayahnya.
Kin bangkit dari tempat tidurnya, berjalan menuju lemari pakaian berwarna hitam di sudut kamar, lalu meraih kotak merah yang terletak di atasnya. Setelah mengambilnya, kotak itu di letakkan di atas meja kaca yang terletak di bawah jendela kamar. Tangannya menjadi sedikit kotor terkena debu yang menempel di kotak itu.
Kin membuka tutup kotak merah itu. Matanya yang besar dengan bola mata berwarna coklat memandang isi kotak. Kin tersenyum, apa yang ada di dalam kotak itu memiliki arti penting dalam hidup Kin.
Kin mengambil selembar photo dari dalam kotak. Terlihat Kin kecil sedang meniup lilin berbentuk angka empat di atas sebuah kue ulang tahun berbentuk bulat. Di dalam photo itu, Ayah Kin, Davin, tampak berada di sebelah kanan Kin, posisi berdirinya sedikit membungkuk mengimbangi tinggi badan Kin. Di sebelah kiri terlihat Wanda sedang tersenyum bahagia menyaksikan Kin meniup lilin. Sedangkan Paman Bob berdiri di sebelah Wanda, dia terlihat sedang menepuk tangan dengan mulut terbuka, mungkin sedang bernyanyi lagu happy birthday, Kin membatin.
Bentuk boneka domba itu bukan seperti boneka yang diberikan orang tua pada umumnya, yang diberikan untuk hadiah ulang tahun anaknya yang keempat.
Boneka porselen berbentuk domba itu berukuran cukup besar, memiliki panjang 30 cm, sedangkan lebarnya mengimbangi panjang boneka tersebut sehingga bentuknya menyerupai domba asli. Bentuk punggungnya luruh, tidak melengkung. Kaki kiri dan kanannya memiliki bentuk yang kekar dengan postur yang menyerupai bentuk tubuh singa. Bentuk wajah boneka domba itu seperti kuda dengan mata yang menyerupai mata burung jalak. Sedangkan tanduk kekarnya melingkar penuh kebelakang. Yang membuat boneka domba ini lebih terlihat berbeda dengan boneka pada umumnya adalah, boneka ini memiliki bulu emas dan terdapat simbol rasi bintang Aries di keningnya.
Sewaktu kecil, Kin menamai boneka ini Chrysom. Bagi Wanda, dari ratusan pilihan nama yang dipilih anak berumur empat tahun untuk diberikan ke bonekanya, tentu saja nama Chrysom adalah nama yang sulit. Wanda sempat bertanya pada Kin kecil dari mana dia mendapatkan nama itu, jawaban Kin saat itu, “tadinya aku ingin memberi nama Duck. Tapi boneka ini tidak mau karena duck adalah nama unggas. Boneka ini sendiri yang memberitahu padaku namanya Chrysom” jawab Kin saat itu. Walaupun cukup horor, tapi bagi Wanda, itu hanyalah jawaban penuh imajinasi khas anak kecil.
Kin terus memperhatikan boneka domba itu, Kin merasa wujud boneka itu sangat mirip dengan wujud domba berbulu emas yang dia temui dalam mimpinya ketika koma. Lebih herannya lagi, Kin merasa bukan sekali itu saja dia bertemu domba itu di dalam mimpi. Kin berusaha mengingat-ingat dari mana dia mendapatkan nama Chrysom, nama yang dia berikan untuk bonekanya.