
Leta masuk lebih dulu ke dalam ruangan, matanya menerawang ke seisinya. Ruangan itu di-cat warna putih, sedangkan material berbahan kayu dipilih untuk menutupi lantainya. Sofa berwarna hijau disusun di pojok ruangan tersebut.
Leta memperhatikan sejumlah pasien yang sedang asik menyaksikan acara komedi di televisi yang diletakkan di pojok ruangan. Beberapa pasien juga terlihat sedang asik berinteraksi dengan para petugas rumah sakit yang menjaga ruangan itu.
Setelah beberapa saat melihat-lihat isi ruangan tersebut, mata Leta terhenti kepada sesosok wanita yang sedang duduk membelakangi dirinya. Wanita itu tampak sedang memandangi kebun rumah sakit yang berada di samping ruang aktifitas pasien dari balik jendela.
“Ibu Cristina tunggu di sini. Biar aku sendiri yang menghampirinya,” ucap Leta.
“Baik, Bu,” balas Cristina.
Leta berjalan menghampiri wanita itu.
“Rindu dengan dunia luar, Aquarius?“ kata Leta.
Wanita itu sontak terkejut, pandangannya langsung dihadapkan kepada Leta.
“Bagaimana Kau—“ wanita itu mengehentikan ucapannya, lalu menatap Leta dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Aku mengenalmu; kau wanita kapitalis yang dulu pernah Aku lihat di TV,“ lanjut wanita pemiliki rambut panjang sepunggung berwarna hitam tersebut.
“Wanita kapitalis?” kata Leta, dia tampak kesal. “Ah, sudahlah.“ Leta menghela napasnya. “Baiklah Sonia Robert, akan kupersingkat,“ lanjut Leta, kemudian melangkah mendekati sofa hijau yang diduduki Sonia Robert. “Di luar sana ada puluhan wartawan sedang meliput konfrensi pers. Mungkin akan selesai kurang dari tiga puluh menit lagi,“ ucap Leta sambil melihat ke arah jam tangan berwarna silver yang dia kenakan di pergelangan tangan kanannya. “Waktu kita tidak banyak. Kau harus cepat mengambil keputusan. Aku akan menunggumu di luar. Jika kau ingin keluar bersamaku, kau akan diantar oleh Cristina ke mobilku. Tapi, jika kau ingin tetap di sini menyaksikan dunia kiamat dari jendela itu,” Leta menunjuk ke arah jendela di depannya, “aku tidak akan merayumu,“ lanjut Leta. Kemudian memutarkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar meninggalkan Sonia.
“Hey wanita kapitalis, apa maksudmu ‘menyaksikan dunia kiamat’?“ tanya Sonia. Pandangan wanita yang memiliki bola mata berwarna coklat itu menatap tajam ke arah Leta.
Leta memutar tubuhnya ke hadapan Sonia dan menghampirinya lagi. Tubuhnya dibungkukkan mengimbangi posisi duduk Sonia Robert. “Dalam tiga tahun terkahir, dunia sudah banyak berubah Gadis Pembunuh,“ ucap Leta, volume suaranya dikecilkan.
“Apa kau menyalahkanku atas kejadian tiga tahun lalu?” tanya Sonia. Pandangan matanya yang sebelumnya tajam berubah menjadi sendu. “Mungkin di antara orang yang kubunuh saat itu; mereka adalah seorang ayah, atau anak laki-laki dari seorang ibu yang sedang menunggu kepulangannya,“ lanjut Sonia.
Leta meletakkan tangan kanannya di bahu kiri Sonia. “Hey gadis pembunuh, kau jangan besar kepala.“ Leta tersenyum sinis. “ Aku membunuh lebih banyak darimu,“ lanjut Leta, kemudian tangannya menepuk lembut pipi kiri Sonia.
“Apa kau kaya raya karena membunuh?“ tanya Sonia.
“Apa kau bisa tidak menyebalkan?“ jawab Leta kesal.
Leta mengakhiri pembicaraannya. Dia bergegas meninggalkan Sonia yang masih duduk di atas sofa.
Sonia terus memandangi sosok yang dia sebut ‘wanita kapitalis itu‘ berjalan ke arah Cristina yang sejak tadi berdiri memperhatikan mereka berbincang dari pintu masuk. Entah mengapa, raut wajah Sonia terlihat sangat bahagia. Ekspresi yang tidak pernah dia perlihatkan dalam tiga tahun terakhir.