
“Ada kabar baik, Bos,“ ucap Al dari sambungan video call.
“Katakan, Al,“ balas Leta.
“Kotak Pandora, sudah aku temukan.“
Leta nampak sumeringah mendengar kabar dari Al. “Di mana kau menemukannya?“ tanya Leta dengan wajah berseri-seri.
“Seperti dugaan Bos. Kotak itu terkubur di halaman belakang rumah sakit jiwa,“ jawab Al yang saat itu sedang berada di Osthaven Lunatic Asylum.
Leta tersenyum sambil menganggukan kepalanya. “Davin Dhananjaya; dia memang brilian,“ ucap Leta.
“Kemana kotak ini harus kubawa, Bos?“
“Berikan kotak itu kepada Bobby Dhananjaya, dia bisa kita percaya,“ jawab Leta.
“Baik, Bos. Akan aku antarkan sekarang,“ balas Al.
Kemudian sambungan video call mereka diakhiri.
Leta berdiri dari kursinya, kemudian memutar tubuhnya menatap pemandangan kota Ostheaven dari jendela yang terletak di belakang meja kerjanya. “Kau memang penuh kejutan, Davin Dhanajaya,“ ucap Leta, senyum mengembang di bibirnya.
Lalu Leta mendengar seseorang memencet bell apartementnya. Leta memutar tubuh, lalu menatap ke arah pintu utama. Lalu dia berjalan menghampiri layar monitor kecil yang terpasang di dinding tak jauh dari pintu utama; dari monitor yang tersambung dengan camera cctv yang terpasang di atas pintu utama bagian depan apartement, Leta melihat Sonia Robert dan Kin sedang berdiri di depan pintu.
Leta tersenyum ketika melihat kedua teman barunya itu sedang berdiri di depan pintu, dia pun segera menghampiri pintu, lalu membukanya. “Hey?“ sapa Leta sambil tersenyum setelah membuka pintu.
“Hey, Pisces,“ sahut Sonia, sedangkan Kin melempar senyumnya kepada Leta.
“Masuklah,“ ajak Leta.
Sonia masuk lebih dulu ke dalam apartemen, dia nampak sudah sangat akrab dengan apartemen Leta. Sedangkan Kin, matanya menerawang living room apartemen Leta ketika baru memasukinya.
“Duduklah, di manapun kalian mau,“ ucap Leta sambil berjalan ke arah meja kerjanya.
Kin melangkah ke arah sofa putih dekat meja kerja Leta, sedangkan Sonia duduk di sebelah Kin setelah dia mengambil tiga kaleng minuman soda dari lemari pendingin.
“Aries dan Aquarius datang ke apartemenku. Apakah hari ini kita akan menyerbu markas Tamam Shud?“ canda Leta.
“Ayo kita lakukan, aku akan mendukung kalian dari jauh,“ balas Kin, disambut tawa Leta.
Leta menduduki kursi meja kerjanya. “Bagaimana keadaan Gavin dan Cassandra?“ tanya Leta.
Leta menatap Kin sambil menganggukan kepalanya. “Kalian?“ tanya Leta.
“Bibi Wanda menyuruhku mengajak Sonia ke museum,” jawab Kin, lalu dia melirik ke arah Sonia. “Tapi Sonia memintaku mengantarnya ke sini,“ lanjut Kin.
“Kin merindukanmu,“ celetuk Sonia sambil tersenyum.
Kin langsung menghadapkan tubuh dan pandangannya ke arah Leta. ”Aku tidak pernah bilang begitu,“ ucap Kin, sambil menggelengkan kepalanya. Tentu saja ucapan Sonia membuat Kin gelagapan.
Leta tertawa melihat tingkah kedua temannya itu.
“Kau selalu bilang, “aku akan bertanya pada Leta?” “Di mana Leta?” “Apakah Leta akan datang ke sini?” Bukankah itu tandanya kau merindukan Leta?“ ucap Sonia.
Dengan wajah yang nampak memerah Kin mengalihkan pandangannya ke arah Sonia. “Kau kejam,“ ucap Kin.
Leta tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan perdebatan antara Kin da Sonia. “Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan, Kin? Bukankah di penginapan sudah ada Sonia dan Gavin? Mereka bisa berbagi pengalaman denganmu,“ ucap Leta.
Dengan wajah yang masih merah karena malu, Kin menatap ke arah Leta. “Aku banyak bertanya dengan mereka. Aku juga bertanya kepada Nicko, Cassandra, bahkan Putri. Tapi tetap saja saat ini kau yang memegang peranan paling penting,“ ucap Kin dengan nada sedikit canggung.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA ZODIAC
Jangan lupa klik jempol dan komennya
Tentang penulis:
Ahmad Rusdy, biasa dipanggil Rusdy. Penggemar kopi, musik heavy metal, Marvel dan karya-karya Stephen King. Mempercayai adanya kehidupan cerdas di luar angkasa.
Temukan saya di:
Instagram: @a_rusdy
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *