ZODIAC

ZODIAC
BAB 11



Di jalan kecil samping Ostheaven Lunatic Ayslum, nampak sebuah mobil Boss 429 Mustang terparkir di belakang pohon beringin berdaun rimbun yang tertanam di bahu jalan kecil tersebut. Di dalam mobil sedan berwarna merah cerah itu, nampak Leta sedang menduduki kursi kulit hitam di belakang kemudi.


Tembang classic milik band rock Van Halen; Finish What Ya Started, dipilih Leta untuk menemaninya di dalam mobil. Jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk kemudi yang terbuat dari bahan kulit berwarna hitam, mengikuti irama lagu. Sesekali dia juga terlihat mengawasi lingkungan di sekitarnya dari dalam mobil.


Tidak lama berselang, Leta memperhatikan kaca spion di sebelah kanannya. Dari kaca itu, Leta melihat pantulan bayangan Cristina dan Sonia yang sedang berjalan menelusuri jalan mendekati mobilnya.


“Keputusan yang tepat, Aquarius,“ ucap Leta dengan senyum bahagia terlihat di wajahnya.


Setelah sampai, Cristina berjalan menghampiri pintu mobil sebelah kanan, di mana Leta duduk di dalamnya. Sedangkan Sonia berjalan ke arah pintu sebelah kiri, lalu memasuki mobil.


Leta membuka kaca mobilnya, lalu memandang ke arah Cristina yang berdiri di luar. “Cristina, setelah ini kamu adakan rapat dengan Al. Aku ingin membangun beberapa fasilitas untuk rumah sakit ini. Jika kamu dan staff memiliki ide, sampaikan kepada Al,” ucap Leta.


“Baik, Bu. Akan aku lakukan,“ balas Cristina. “Kalau begitu aku masuk ke dalam, ya, Bu?“ lanjutnya.


Leta menganggukkan kepalanya kepada Cristina. Setelah itu Cristina bergegas berjalan kembali ke dalam rumah sakit.


Di dalam mobil Leta melirik ke arah Sonia yang duduk di sebelahnya. Leta memperhatikan seragam rumah sakit yang dikenakan Sonia. Tangan kiri Leta bergerak menuju audio player lalu mengecilkan volume musik yang sedang dia putar. “Kau sedang bermain suster-susteran?“ tanya Leta sambil tertawa kecil.


“Cristina menyuruhku mengenakan baju ini. Katanya aku harus menyamar, karena mengeluarkanku dari rumah sakit adalah misi rahasia perusahaan,“ jawab Sonia dengan wajah malas. Dia tahu Leta sedang mengganggunya.


Sonia memalingkan wajahnya ke arah depan. Wanita yang memiliki bulu mata panjang dan lentik itu kesal, dengan Leta yang sedang menertawakan dirinya.


“Oke suster cantik, pakai sabuk pengamanmu,“ ucap Leta sambil menghidupkan mobil.


Kemudian, mobil yang Leta kemudikan bergerak menelusuri jalan raya menuju pusat kota.


Di sepanjang jalan yang di kiri dan di kanannya terhampar jejeran pohon pinus itu, Sonia hanya terdiam memandang keindahan alam di sekitarnya dari balik jendela. Bau mint dari parfum yang tertempel di pendingin mobil menyebar di dalam mobil. Sedangkan audio player terus memutarkan tembang-tembang classic milik band Van Halen. Sebuah komposisi yang pas dan menyegarkan bagi Sonia.


Setelah beberapa saat Sonia menikmati pemandangan di sekitarnya, pandangannya diarahkan ke audio player mobil yang sedang memutar musik. “Kau suka musik rock?“ tanya Sonia, lalu dia memandang Leta yang sedang mengemudikan mobil.


“Aku suka banyak jenis musik. Tapi akhir-akhir ini hidupku menjadi lebih dinamis, jadi aku memutar musik yang dinamis,“ jawab Leta. Pandangannya tetap mengarah ke depan.


“Aku tidak banyak mengetahui musik, tapi aku suka Black Sabbath,“ ucap Sonia.


“Kau memiliki selera musik yang bagus,“ balas Leta. Senyum mengembang dari bibir tipisnya yang dia olesi lipstik berwarna merah.


Mobil Mustang yang dikemudikan Leta sudah memasuki area pemukiman. Di kiri dan kanan jalan berjejer rumah-rumah penduduk dengan berbagai macam model dan ukurannya. Beberapa kali mobil itu melewati komplek-komplek perumahan, terlihat juga berjejer toko-toko yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari bahan bangunan, rumah makan, toko baju, mini market dan lainnya.


Leta melirik ke arah Sonia yang sedang menikmati pemandangan sekitar dari dalam mobil. “Aku sempat berpikir kau akan menolak ketika aku mengajakmu keluar dari rumah sakit,“ ucap leta memulai percakapan.


“Aku ikut bersamamu karena aku melihat siapa dirimu,“ balas Sonia. Tatapannya terus memandang keadaan sekitar dari balik jendela di sampingnya.


“Karena aku kaya?“


“Ya, setidaknya mengikuti orang yang memiliki banyak uang bisa menjamin kehidupanku. Tapi bukan karena itu.“ Sonia memandang Leta. “Aku tahu kau juga seorang Zodiac,“ lanjutnya.


Leta melirik Sonia sesaat, dia sangat terkejut mendengar pernyataan wanta berkulit putih yang duduk di sebelahnya. Dia berusaha mengingat-ingat apa yang sudah dia ucapkan di rumah sakit kepada wanita 23 tahun itu. “Kau tahu karena aku tadi bilang, aku membunuh lebih banyak darimu, kan?“ tanya Leta penasaran.


“Tidak. Aku tahu kau memiliki Bintang, sejak pertama melihatmu berdiri di depanku.“


“Apa maksudmu?“ Leta semakin penasaran.


“Aku bisa membedakan manusia biasa, para Zodiac, atau pun Titan dari energi yang terdapat di dalam kandungan air dalam tubuhnya.“


Jantung Leta berdegup kencang mendengar jawaban Sonia. Dia sangat tertarik dengan hal yang baru saja dia dengar.


“Bahkan aku bisa menebak Bintang yang dimiliki para Zodiac. Dulu aku pernah bertemu seorang pria. Badannya besar, kulitnya sedikit coklat dan dia bersama beberapa wanita. Aku tahu kalau dia—“


“Taurus.“ Leta memotong ucapan Sonia.


“Ya. Aku bisa mengetahuinya,“ ucap Sonia sambil menganggukan kepalanya. “Tapi, aku tidak bisa menebak Bintangmu. Kau memiliki energi yang unik. Leta, apa Bintangmu?”


Leta tersenyum, sesaat dia memandang wajah Sonia yang nampak penasaran menunggu jawabannya. “Jika kau bisa mengendalikan air,maka aku bisa mengendalikan lautan,“ jawab Leta.


Mendengar jawaban Leta, wajah Sonia terlihat sangat lega, senyum merekah di bibirnya. “Itu semakin membuatku merasa aman di dekatmu,“ ucapnya kemudian.


“Kau sudah bisa menebak siapa aku?“


“Kau seorang Dewi,“ jawab Sonia.


“Kau berlebihan gadis pembunuh,“ balas Leta.


Dari dalam mobil, sudah nampak pemandangan pusat kota Ostheaven. Gedung-gedung pencakar langit terlihat di sisi kiri dan sisi kanan jalan. Kesibukan khas area perkotaan mulai terasa, lalu lintas mulai terasa lebih ramai daripada sebelumnya.


Sesekali Leta melirik ke arah Sonia yang nampak sangat fokus memandangi keadaan dari balik jendela mobil, telapak tangannya ditempelkan ke kaca jendela, seakan dia ingin memasuki semua gedung yang dia lihat dari dalam mobil itu.


“Kau senang?“ tanya Leta.


“Tidak pernah sesenang ini,“ jawab Sonia.


“Kenapa kau bersembunyi di rumah sakit jiwa?“


“Sebenarnya aku ingin dipenjara. Aku mengantarkan empat jenazah, lalu aku bilang kepada Polisi, bahwa aku yang membunuhnya.“ Sonia merubah posisi duduknya, dia memandang ke arah depan. “Aku pikir itu cukup untuk membuatku dipenjara seumur hidup. Tapi Polisi tidak percaya dan dokter memvonisku gila,“ lanjutnya.


“Kenapa kau melakukan itu?“ tanya Leta kembali.


“Seperti katamu, bersembunyi.“


“Bersembunyi dari apa?“ tanya Leta penasaran.


“Aku sendirian di kota ini. Kau pasti sudah tahu aku seorang pendatang.“


Leta menganggukan kepalanya.


“Semenjak di kota ini, aku sering diikuti seseorang. Bahkan beberapa kali aku mendengar seorang wanita berbicara di kepalaku.“


“Apa yang wanita itu katakan?” tanya Leta.


“Sesuatu tentang Pedang Frixos.“


“Tamam Shud!” ucap Leta.


“Apa itu?“


“Akan kujelaskan nanti. Sekarang, kau lanjutkan ceritamu.“


“Kejadian itu berlangsung selama satu tahun sejak aku berada di kota ini. Hingga akhirnya, tiga tahun yang lalu, sekelompok orang menculikku.“ Sonia berhenti sejenak, dia sedang mencoba mengingat sesuatu. “Entahlah, mungkin aku dibius atau dipukul. Yang terjadi setelahnya, aku terbangun di dalam sebuah dermaga. Mereka mengurungku di sebuah kurungan besi, seperti di dalam penjara yang sering aku lihat di film-film,” lanjut Sonia. “Ketika aku terbangun, di depanku terlihat beberapa orang pria mengenakan pakaian serba hitam. Aku lupa jumlahnya.“


“Lalu apa yang terjadi?“


“Tentu saja aku panik dan membunuh mereka.“


“Kau berubah ke wujud Zodiac-mu?“


“Aku tidak bisa mengubah wujud. Karena Aquarius adalah manusia, bukan seperti Taurus atau sepertimu,“ kata Sonia. “Tapi aku bisa mengendalikan air. Termasuk air di dalam tubuh manusia. itulah yang aku lakukan terhadap mereka. Beberapa aku keluarkan semua air dalam tubuhnya melalui pori-pori kulitnya. Ada yang aku keluarkan dari kedua matanya, hingga bola matanya ikut keluar. Ada juga yang dari telinga. Semuanya pasti menyakitkan. Yang terakhir aku bunuh adalah, empat orang Pria Barat. Sepertinya pemimpin mereka. Aku mengalirkan semua air di tubuh mereka memenuhi bagian otak dan paru-parunya.“


Leta melihat ke arah Sonia. “Kau maniac!“


Sonia melirik ke arah Leta sambil tersenyum bangga. “Aku pikir hari itu bukanlah sebuah akhir. Aku yakin akan datang beberapa orang lagi yang akan menculikku, lalu akan aku bunuh lagi, dan lagi, lagi, lagi. Jadi menurutku, aku harus bersembunyi. Penjara adalah tempat terbaik kerena memiliki penjagaan yang ketat. Tapi aku justru ditaruh dirumah sakit jiwa,“ ucap Sonia.


Leta terdiam sejenak. Dari wajahnya nampak dia sedang memikirkan sesuatu. “Kau bilang tadi, ada lebih dari empat orang yang kau bunuh tiga tahun lalu?“ tanya Leta.


“Ya. Aku tidak menghitung, tapi aku yakin jumlahnya lebih dari sepuluh orang.“


“Polisi tidak menemukan jenazah lain di tempat kejadian,“ ucap Leta. “Berarti ada yang menyembunyikan jenazah lainnya.“


Dari luar, terlihat lampu lalu lintas berwarna merah. Leta menghentikan mobilnya di sebuah perempatan.


Pandangan Sonia terpaku pada sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di sebrang kanan jalan.


Tempat itu adalah Mall of Ostheaven. Sebuah pusat perbelanjaan yang dirancang sedemikian rupa dengan bermacam-macam tema. Ada tema Chinatown, Bourbon Street, dan Europa Boelevard. Walaupun hanya memiliki tiga lantai, tapi tempat ini merupakan Mall terbesar di kota Ostheaven. Di tempat itu terdapat lebih dari 800 toko. Sarana hiburan seperti bioskop dan wahana bermain juga terdapat di tempat ini.


Leta melihat Sonia begitu terpukau dengan Mall di depannya. “Kau ingin ke sana?“ tanya Leta.


Sonia memandang Leta.


“Mungkin kau ingin membeli pakaian?“ lanjut Leta sambil terus memandang Sonia.


“Kau yang membelikan?” tanya Sonia.


“Tentu, sebagai hadiah perkenalan.“


“Ya!“ balas Sonia sangat antusias.