
Putri berdiri lalu berjalan menghampiri Pak Sutris yang berdiri lima meter dari kasur tempat Gavin berbaring.
“Saat itu Moll Dyer berhasil melarikan diri dari serangan itu,“ ucap Pak Sutris. Kemudian dia memegang punggung Putri yang berdiri di sebelahnya. “Saat Pak Davin ingin meninggalkan tempat itu, Bapak menemukan Putri sedang bersembunyi di balik semak-semak, lalu membawanya kemari,“ terang Pak Sutris.
“Kemudian Pak Sutris merawatnya?“ tanya Nicko.
“Sebenarnya Pak Davin menyerahkan Putri ke Pak Bobby, karena Pak Bobby dan Ibu Wanda saat itu belum memiliki anak. Tapi Ibu Wanda menolaknya, karena saat itu Pak Davin bilang kalau Putri adalah anak seorang imigran dan Bapak tidak bisa menunjukan surat-surat adopsi. Mas Kin tau sendiri, kalau Ibu Wanda tidak mau melakukan hal-hal yang ilegal.“ Kin menganggukkan kepalanya. “Jadi Bapak meminta saya yang merawatnya,“ lanjut Pak Sutris.
“Tunggu! Bukankah umur Putri sekarang 20 tahun?“ tanya Kin sambil mengerutkan dahinya. “Jika Ayahku menemukan Putri saat masih kecil, berarti kejadian itu harusnya terjadi ketika aku berumur setidakanya 8 atau 10 tahun.“ Kin diam sejenak. “Bukankah ayahku meninggal dunia saat umurku empat tahun yang artinya itu dua puluh empat tahun yang lalu? Apakah hanya aku yang merasa itu aneh?“ tanya Kin, heran.
“Penyihir memiliki umur lebih panjang dari manusia pada umumnya,“ sela Cassandra. “Berapa umurmu yang sebenarnya?“ tanyanya pada Putri.
“41 tahun.“
Jawaban Putri membuat Kin dan Nicko terkejut.
“Ayah Mas Kin menemukanku saat Mas Kin berumur 2 Tahun,“ ucap Putri.
“Hey!“ sela Sonia. Kemudian dia meletakkan handphone-nya di atas meja. “Apakah aksi tanya jawab kalian sudah selesai?“ lanjutya. Tingkahnya membuat pandangan seisi ruangan menuju padanya. “Kau!“ Sonia menunjuk ke Cassandra. ”Tiga tahun lalu kau beberapa kali masuk ke dalam kepalaku, menanyakan tentang pedang yang aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu sekarang, kau adalah penyihir dan kau adalah anggota Tamam Shud!“ ucap Sonia.
Ucapan Sonia membuat seluruh orang yang berada di dalam ruangan terkejut.
Cassandra terlihat panik dan takut, dia berdiri lalu berjalan mundur menjauhi Sonia yang berada di meja kerja.
Gavin bangkit dari tidurnya, lalu berjalan menghampiri Sonia.
“Sonia Robert, aku mohon kau tidak bertindak gegabah,“ ucap Gavin mencoba menenangkan Sonia.
“Kenapa kau bersamanya?“ tanya Sonia.
“Aku tidak tahu jika Cassandra adalah anggota Tamam Shud. Tapi dia yang menyelamatkanku saat aku di serang,“ ucap Gavin sambil menunjuk ke arah Cassandra.
“Mungkin itu strategi penyihir ini untuk mendapatkan simpatimu,“ ucap Sonia.
Gavin menjadi lebih panik ketika melihat bola mata Sonia telah berubah warna menjadi biru.
“Aku mohon padamu,“ ucap Gavin memohon.
Gavin panik melihat kejadian itu.
“Aquarius, jika kau seperti itu, dengan sangat terpaksa aku akan melawanmu,“ ucap Gavin.
Gavin menggeram. Otot-otot tubuhnya membesar dan bulu-bulu halus berwarna coklat tumbuh di lengan, pungung dan dadanya. Bola matanya berubah menjadi merah, kuku-kuku tanganya berubah menjadi hitam. Gavin melangkah maju, mata merahnya tajam memandang Sonia, sepasang tanduk muncul di atas kedua kupingnya. Membuat penampilannya sungguh berbeda dari dia sebelumnya.
Kin, Nicko, Putri dan Pak Sutris terlihat panik melihat kejadian yang sedang terjadi di ruangan itu. Mereka menjauh dari pertikaian, berdiri berhimpitan di depan rak buku.
“Masih ada yang mau ikut campur?“ tanya Sonia kepada mereka berempat.
Keempat orang itu secara serempak menggelengkan kepala.
Senyum tampak dari bibir sonia. Kemudian tangan kanannya dia pukul keras ke atas meja.
Taurus menghentikan langkahnya, lalu memperhatikan butiran-butiran air muncul dari sela-sela lantai kayu ruangan bawah tanah Dhananjaya Guest House. Butiran-butiran air itu memenuhi seluruh ruangan.
Sonia mengangkat tangan kanannya ke udara, lalu mengepalnya.
Butiran air itu menyatu, membentuk tiga buah pedang dan berputar mengelilingi Taurus.
“Percayalah, walaupun terbuat dari air, pedang-pedang itu tetap bisa menyembelihmu,“ ucap Sonia.
Di saat bersamaan, bola mata Cassandra yang berwarna biru berubah menjadi putih. Dia berusaha memasuki pikiran Sonia.
“Hey, Penyihir!“ seru Sonia. “Sihir pengendali pikiran tidak akan berpengaruh pada Zodiac yang sedang dalam wujud Bintangnya!“ lanjut Sonia.
Sonia menggerakan wine yang memutari tubuh Cassandra dengan tangan kirinya. Wine itu terbagi menjadi beberapa bagian dan melayang-layang di sekitar tubuh Cassandra. Sebagian wine menjerat leher Cassandra. Kedua tangan Cassandra mencoba melepaskan wine yang melingkar di lehernya. Dia mulai kesulitan bernafas, mulutnya mengangap.
Kemudian Sonia membentuk sisa wine yang melayang mengitari tubuh Cassandra menjadi butiran-butiran kecil. Butiran itu masuk kedalam mulut dan memenuhi tenggorokan Cassandra. Butiran wine itu juga memasuki kedua lubang hidung dan kuping Cassandra.
“Di masa lalu, penyihir jahat sepertimu dihukum gantung lalu di bakar. Saat ini kau akan merasakan sensasi yang berbeda. Kau akan tergantung dalam keadaan tenggelam!“ ucap Sonia.
Tubuh Cassandra terangkat oleh wine yang melingkari lehernya. Sedangkan wine berbentuk butiran yang memenuhi mulut, hidung dan kupingnya; membuat dia tidak bisa bernafas dan rasa sakit luar biasa di kedua telinganya . Cassandra merasakan sensasi digantung dan tenggelam secara bersamaan. Tubuhnya mulai meronta-ronta, wajahnya nampak mulai membiru.