
Musik terdengar kencang di dalam sebuah apartemen. Lagu I Hate Myself For Loving You milik musisi Joan Jett, meluncur keras dari speaker. Seorang wanita yang mengenakan t-shirt putih yang di padukan dengan celana pendek warna hitam berbahan denim sedang asik menikmat lagu itu. Sesekali wanita itu menjentikkan jarinya mengikuti irama drum, sesekali juga dia ikut bernyanyi.
Desain interior art deco digunakan untuk membuat apartemen yang terletak di kawasan bergengsi pusat kota Ostheaven tersebut memiliki suasana yang elegan. Apartemen dengan layout L-shaped ini memiliki tiga ruang; ruang makan plus dapur, living room dan satu kamar tidur. Sementara kamar mandi berada pada bagian yang memisahkan anara ruang tamu dan kamar tidur.
Suara bell terdengar di dalam ruangan apartemen, suara itu memecah dominasi suara musik.
Volume musik dikecilkan oleh wanita yang sejak tadi asik menikmati lagu yang dia putar, lalu dia berjalan menuju pintu utama dan membukanya.
Nampak dua orang pria paruh baya di hadapan wanita itu. “Wow, ada apa orang penting seperti Bapak datang ke sini?” ucap wanita itu.
“Maaf mengecewakanmu Leta, mungkin untuk beberapa waktu ke depan, kamu akan lebih penting dari Saya,” jawab salah satu Pria
Wanita yang benama Leta itu tersenyum mendengar jawaban dari Pria itu. “Masuklah,“ ajak Leta.
***
Di dalam apartemen, pria yang sebelumnya bicara kepada Leta, duduk di sofa panjang berbahan kulit berwarna putih yang terletak di living room apartemen tersebut. Pria tersebut adalah Hendrik Morgan, Perdana Mentri Negara Insulinde. Sedangkan Pria satunya duduk di kursi meja makan yang letakanya memisahkan antara living room dan dapur. Pria keturunan Turki itu bernama Khair al-Din. Leta biasa memanggilnya, Al. Khair al-Dhin adalah asisten pribadi Leta.
“Jadi, ada perlu apa?” tanya Leta. Wanita berparas cantik dan memiliki kulit putih bersih itu duduk di kursi meja kerjanya yang menghadap kesamping sofa yang diduduki Hendrik. Sedangkan di belakang kursi, terdapat jendela besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan pusat kota Ostheaven.
“Kita akan membicarakan kiamat,“ jawab Hendrik.
“Aku akan mengurusnya.“
“Terlalu kuat. Kamu tidak akan mampu melawannya sendiri. Kamu perlu tim.“ Sejenak Hendrik menghela napas. “Semua ini akan lebih mudah jika ada Davin,“ kata Hendrik kemudian.
“Tidak sopan membicarakan orang yang sudah mati, Pak.“
“Ya.“ Hendrik menganggukkan kepalanya, tangan kanannya memegang gelas berisi wine. “Lalu, bagaimana dengan Dhananjaya satunya?” lanjut Pria yang mengenakan kaca mata berumur 55 tahun tersebut.
“Kin Dhananjaya? Bahkan dia saat ini sedang dalam perawatan. Bapak tahu kenapa? Jatuh dari tangga. Kita tidak bisa tiba-tiba membawakan monster untuknya.“
“Bagaimana dengan yang lain? Al bilang kamu menemukan yang lain di kota ini?“ Hendrik melirik ke arah Al.
“Sonia Robbet?“ Leta mengambil sebuah berkas dalam amplop berwarna hitam di dalam laci meja kerjanya dan memberikannya ke Hendrik.
Hendrik meletakkan gelas wine-nya di atas meja kaca di depannya, lalu meraih berkas yang di berikan Leta, kemudian membuka berkas itu.
Hendrik membaca isi berkas itu, sesekali dia menggelengkan kepalanya.
“Tiga tahun lalu, sebelum aku datang ke kota ini, seorang wanita berusia 19 tahun membawa empat mayat laki-laki ke kantor polisi dengan mobil yang dia curi. Wanita ini bersikeras mengaku kalau dia yang membunuh empat laki-laki itu. Tapi visum dokter tidak mendukung pernyataan gadis itu.“
“Keempat korban mati karena tenggelam,“ kata Hendrik.
“Ya, karena terdapat air di paru-paru dan penyebab lainnya.“
“ Tapi bagaimana bisa gadis 19 tahun menenggelamkan empat pria dewasa tanpa ada bukti tanda kekerasan dan lebih anehnya, keempat jenazah dalam kondisi kering?“ tanya Hendrik heran.
“ Al, berapa jumlah kandungan air dalam tubuh manusia?” tanya Leta kepada Al.
“60 sampai 70 persen Bos,“ jawab Al tanpa pikir panjang.
“Jika ada seseorang yang bisa mengendalikan air dalam tubuh manusia, apa yang bisa dia lakukan jika ingin menyakiti manusia?” tanya Leta lagi.
“Apapun, Bos.”
“Apapun.“ Leta mengikuti perkataan Al sambil melirik ke arah Hendrik.
Hendrik menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersender di sofa. ”Siapa yang bisa melakukan itu?“ tanya Hendrik
“Sonia Robert,“ jawab Leta sembari menunjuk ke arah berkas yang dipegang Hendrik.
“Tapi perempuan ini sekarang ada di rumah sakit jiwa. Karena pengakuannya tidak terbukti dan sering mengucapkan kata-kata aneh. Dia di anggap gila.“
Leta tertawa kecil mendengar perkataan Hendrik.
Hendrik berdiri dari sofa. “Lagi pula kenapa Aku tidak tahu berita ini? Kenapa tidak ada media yang meliputnya?” tanya Hendrik dengan nada tinggi. Sejenak dia menghela napas, kemudian duduk kembali.
“Keempat pria yang mati itu, diidentifikasi sebagai anggota organisasi Tamam Shud. Tentu saja intelejen menutupi kasus ini. Masyarakat akan heboh jika mengetahui bahwa organisasi yang selama ini hanya ada di buku-buku karangan bertema konspirasi, ternyata benar-benar nyata.“
“Jika kamu yakin Sonia Robert yang membunuh empat anggota Tamam Shud. Jelaskan padaku siapa Sonia Robert?“
“Aquarius,“ jawab Leta mantap.