ZODIAC

ZODIAC
BAB 16



Di pantai dengan hamparan pasir putih yang luas yang terletak di seberang Dhananjaya Guest House. Batu-batu karang dengan ukuran dan bentuk yang bermacam-macam, tersebar di pinggir pantai. Terdapat juga jejeran pohon kelapa tertanam di bagian dekat jalan raya. Sayangnya, walaupun tampak indah, tidak ada pihak baik negeri ataupun swasta yang mengelola pantai ini. Alhasil tidak ada fasilitas apapun yang dibangun di tepi pantai. Hal itu membuat para wisatawan kurang berminat mendatangi pantai ini. Hanya beberapa orang yang kebetulan bermalam di penginapan-penginapan sekitar pantai atau para pengemudi yang hendak beristirahat.


Matahari mulai meninggi, panasnya mulai membakar pesisir pantai di seberang penginapan. Di bawah salah satu pohon kelapa, tampak Kin, Leta dan Sonia sedang duduk berteduh dibawahnya menghadap ke pantai. Beberapa lembar daun kelapa kering di gunakan sebagai alas untuk mereka duduki.


“Jadi, kamu membantu mengurus penginapan?“ tanya Leta kepada Kin yang duduk di sebelah Sonia.


“Ya, hanya kami berempat. Bibi Wanda bekerja di museum kota. Pergi pagi, pulang malam. Jadi memiliki kesibukannya sendiri. Tapi Nicko juga kadang datang untuk membantu,“ jawab Kin.


Kin melirik ke Sonia yang berada di tengah-tengah dirinya dan Leta. “Sonia apa kesibukanmu?“


“Menyelamatkan dunia, Kin. Kau tahu, dunia lebih rumit dari kelihatannya,“ jawab Sonia, nadanya serius.


Kin tertawa mendengar ucapan Sonia. Sedangkan Leta menganggukkan kepalanya.


“Memiliki pekerjaan normal, menonton serial televisi sambil menghabiskan beberapa bungkus keripik kentang, lalu pergi ke cafe di hari minggu, berkencan dengan pria yang tidak memancing hasrat membunuhku; Itu adalah keinginanku kelak,“ lanjut Sonia.


“Hahaha, kau memiliki selera humor yang bagus, Sonia,“ balas Kin.


Leta tersenyum mendengar tanggapan Kin.


“Kin,“ ucap Sonia. Kin melirik ke arahnya.


“Reggae,“ lanjut Sonia sambil menunjuk Nicko yang berada di perairan sambil menaiki jet ski.


Kin melambaikan tangannya kepada Nicko yang langsung membalasnya.


“Aku akan menghampirinya,“ ucap Kin, lalu dia berdiri dan berlari menuju perairan.


“Leta?“ pangil Sonia. Leta melirik ke arah Sonia. “Bukannya tadi malam kau bilang akan memberitahu Kin, bahwa dia adalah Zodiac?“ lanjutnya.


“Ya, tapi aku sedikit bingung harus mulai dari mana,“ balas Leta.


“Bagaimana jika menggunakan caraku?“ ucap Sonia sambil tersenyum mencurigakan.


“Aku berjanji tidak akan membunuh seseorang.“ Sonia mengacungkan jari kelingkingnya.


Leta berpikir sejenak tentang gagasan Sonia. Di dalam hatinya, dia sangat ragu, tapi dia sendiri tidak memiliki gagasan lain. “Baiklah, tapi jangan sampai ada yang terluka,“ ucap Leta.


Sonia berdiri dan berkata, “mungkin akan ada yang terluka.” Sonia tersenyum sambil memandang ke arah Leta. “Tapi aku berjanji tidak ada yang akan mati,“ lanjutya.


Sejenak Sonia menghirup dan membuang napas panjang. Kemudian tubuhnya dia tegapkan, pandangannya terlihat fokus menatap lautan. Leta memperhatikan Sonia, dia merasakan hawa panas di sekelilingnya, semakin lama semakin panas.


Sonia memajukan kaki kanannya, tubuhnya dimiringkan mengikuti posisi kakinya dan pandangannnya terlihat semakin tajam ke depan. Tangan kirinya diluruskan ke bawah dengan jari-jari yang di kepal, kemudian dia mengangkat tangan kananya. Jari-jarinya terlihat seperti sedang mencengkram.


Ombak-ombak di lautan nampak semakin tinggi, menyulitkan laju jet ski yang dikemudikan Nicko yang nampak masih belum sadar akan perubahan di sekitarnya.


Sonia memejamkan matanya, dia meresapi suara gemuruh ombak di lautan.


Leta nampak mulai tidak nyaman dengan keadaan di sekelilingnya, dia merasakan suhu menjadi lebih panas dari sebelumnya. Wanita ini berdiri lalu sedikit menjauh dari Sonia yang sebelumnya berada di sampingnya. Pandangannya dialihkan ke arah lautan, tampak Kin sedang berjalan menuju perairan dan Nicko yang terihat tertawa-tawa sambil menaiki jet ski.


Sonia membuka matanya, mata coklatnya berubah menjadi biru. Terlihat percikan-percikan cahaya berwarna biru di jari-jari tangan kanannya. Lalu dia kepalkan tangannya dan tiba-tiba ...


Leta takjub dengan keadaan di depannya, ombak-ombak di lautan dan suara gemuruhnya ... hilang!


Suasana menjadi sepi, hanya suara gesekan daun-daun kelapa yang tertiup angin dan suara kendaraan dari arah jalan raya.


Kin mulai menyadari apa yang sedang terjadi. Dia menghentikan langkahnya dan nampak bingung menyaksikan lautan yang tiba-tiba sangat tenang. Kin melihat ke arah Nicko yang masih terlihat gembira menaiki jet ski.


Sonia melirik ke arah Leta dengan bola matanya yang berwarna biru. “Tenanglah, tidak akan ada yang mati,“ ucap Sonia sambil tersenyum.


Leta manganggukkan kepalanya, lalu pandangannya ditujukan ke arah perairan.


Sonia membuka kepalan tangannya, lalu perlahan menggerakan tangannya dengan gerakan yang halus ke kiri dan ke kanan. Air di lautan mengikuti gerakan tangannya, muncul arus yang begitu halus. Sonia memajukan kaki kirinya, menempatkan sejajar dengan kaki kanannya, tangan kirinya dan kanannya dia gerakkan melingkar-lingkar secara bergantian. Semakin lama semakin cepat gerakannya.


Muncul putaran arus di lautan, semakin lama semakin besar dan deras.