
Dua belas roti croissant berisi keju disusun di atas piring bundar berwarna putih yang diletakkan di atas meja makan. Di samping piring itu; nampak pula sekotak donat dengan berbagai variantnya; sedangkan gelas-gelas keramik berwarna hitam, di isi dengan berbagai macam minuman untuk melengkapi menu sarapan di pagi hari nan cerah di rumah belakang Losmen Dhananjaya. Burung-burung bernyanyi dengan nada riang di luar rumah, seakan semesta juga berupaya dengan gigih menyembunyikan fakta yang sebenarnya tentang teror-teror yang sedang terjadi.
Empat buah kursi memutari meja makan bundar berbahan kayu berlapis kain kotak-kotak merah putih yang terletak di ruang makan rumah belakang penginapan. Kin, Gavin, Cassandra dan Wanda nampak menduduki kursi makan sambil menikmati sarapan pagi. Tentu saja, Wanda tidak mengetahui apa yang sudah terjadi kemarin. Dia terus mengoceh dan mengutuk teror yang terjadi.
“Jadi, Gavin sering show di Myrtes Cafe?“ tanya Wanda sambil mengunyah donat bertoping coklat. Dia makan dengan suara yang berisik. Di atas meja di depannya tersedia dua gelas berisi kopi dan air putih.
“Ya, satu minggu sekali aku show di cafe itu, Bi,“ jawab Gavin lalu menyesap kopi.
“Oh, untung saja tadi malam kamu tidak lagi di situ, ya?“ tanya Wanda kemudian. Dia meletakkan potongan donat yang baru dia makan dua gigitan di piring bundar kecil, lalu meraih gelas kopi dan menyesapnya.
“Ya,” jawab Gavin sambil mengangguk. “Aku juga sempat ngomong gitu ke Cassandra.“ Gavin menatap Cassandra yang duduk di sebelahnya.
Cassandra menganggukan kepalanya sambil tersenyum. “Sebuah keberuntungan Gavin tidak show dan, biasanya ketika Gavin Show, aku mendampinginya,” kata Cassandra, tentu saja, dia sekarang sudah menjadi salah satu komplotan ‘penyembunyi fakta-fakta sebenarnya’ dari Wanda.
“Berarti, Tuhan masih sayang dengan kalian. Coba kalau tadi malam Gavin sedang berada di cafe ... mungkin kita tidak akan bertemu pagi ini. Kin, kamu juga harus hati-hati sekarang. Kota ini lagi tidak aman,“ ucap Wanda, kemudian dia menatap jam warna emas berbentuk kotak yang melingkar di pergelangan tangannya. “Bibi berangkat kerja dulu, ya? Untuk sementara ini kalian jangan pergi ke pusat kota dulu. Bahaya.“ Wanda bangkit dari duduknya lalu berjalan mengambil tas kerja yang dia letakkan di atas meja di ruang keluarga. “Kin,“ panggil Wanda sebelum melangkah ke pintu depan. Kin menatapnya. “Jika hari ini kau punya waktu luang, kau harus ajak Sonia pergi ke museum. Nampaknya dia tertarik dengan sejarah,“ lanjut Wanda.
“Siap Komandan,“ balas Kin sambil mengangkat hormatnya.
Wanda tersenyum kepada Kin. “Ok semua, sampai ketemu nanti malam,“ ucap Wanda kepada Kin, Gavin dan Cassandra yang masih duduk di meja makan.
“Bye,” sahut Gavin sambil melambaikan tanganya kepada Wanda, di ikuti Kin dan Cassandra.
Setelah berpamitan, memakai jaket coklat dengan bulu-bulu di bagian leher, Wanda melangkah ke luar rumah meninggalkan Kin, Gavin dan Cassandra di ruang makan.
“Jadi, bibimu sama sekali tidak mengetahui tentang Zodiac?“ tanya Gavin pada Kin yang duduk di depannya.
Gavin tertawa setelah mendengar ucapan Kin. “Ya, kita memang superhero, Kin. Seperti Iron Man,“ lanjutnya.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA ZODIAC
Jangan lupa klik jempol dan komennya
Tentang penulis:
Ahmad Rusdy, biasa dipanggil Rusdy. Penggemar kopi, musik heavy metal, Marvel dan karya-karya Stephen King. Mempercayai adanya kehidupan cerdas di luar angkasa.
Temukan saya di:
*******: AhmadRusdy
Instagram: @a_rusdy
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *