ZODIAC

ZODIAC
BAB 14



Di halaman parkir Dhananjaya Guest House, terlihat Leta dan Sonia keluar dari dalam mobil. Kemudian, kedua wanita ini berjalan menelusuri halaman parkir menuju lobi. Kehadiran mereka mencuri perhatian pria-pria yang berada di sekitar penginapan.


Leta berjalan satu langkah di depan Sonia. Wanita ini terlihat mengenakan paduan kemeja jins berwarna baby blue dengan celana jins berwarna abu-abu pupus. Lalu, sepatu Converse berwarna hitam dia kenakan sebagai alas kakinya. Sedangkan Sonia yang berjalan di belakangnya, mengenakan paduan kaos hitam polos dan short jeans berwarna senada. Sonia menambahkan kemeja flanel yang diikat di pinggang dan mengenakan sepatu Converse berwarna merah.


“Apakah ini Aphrodite efek?“ tanya Sonia.


“Tidak ada yang seperti itu gadis pembunuh,” jawab Leta. Kakinya terus melangkah menuju lobi diikuti Sonia yang tertinggal satu langkah darinya.


“Semua laki-laki memandangi dirimu,“ ucap Sonia.


“Bukan, semua laki-laki memandangi kita,“ balas Leta.


Leta dan Sonia memasuki pintu utama Dhananjaya Guest House. Sesampainya di lobi, mereka mendapati Kin, Paman Bob dan Putri berdiri sejajar di depan meja resepsonis. Mereka bertiga sama-sama mengenakan seragam Dhananjaya Guest House berwarna hitam. Sedangkan Nicko yang saat itu mengenakan kaus hitam dan celana jeans berwarna biru, berdiri di samping lorong penginapan.


Melihat Leta dan Sonia sudah memasuki lobi, Paman Bob berjalan mendekati Leta.


“Leta Leteshia,“ sambut Paman Bob.


Leta tersenyum ramah mendengar sambutan Paman Bob. “Halo, Paman Bob,“ balas Leta.


“Seperti inilah penginapan kami,“ ucap Paman Bob, merendah diri.


“Ya. Bagus, nyaman, strategis dan dekat dengan pantai,“ puji Leta.


Paman Bob tertawa bahagia mendengar pendapat Leta tentang penginapannya.


“Paman Bob, ini temanku, Sonia.“ Leta memperkenalkan Sonia yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


“Halo. Saya Bobby Dhananjaya.“ Paman Bob menyodorkan tangannya.


Sonia menyambut tangan Paman Bob. “Sonia Robert,“ balasnya.


“Aku ingin menyewa kamar untuk Sonia,“ ucap Leta kepada Paman Bob.


“Ya, tentu saja boleh. Kebetulan kami memiliki beberapa kamar yang kosong. Rencananya untuk berapa hari?”


“Sebulan. Tapi jika Sonia betah, mungkin dia akan menginap lebih lama.“


“Leta, bukankah jika ingin menetap, akan lebih baik menyewa apartemen?” ucap Paman Bob.


“Sonia ingin tinggal di dekat pantai. Jadi Aku pikir penginapan ini yang terbaik.“


“Baiklah,“ ucap Paman Bob. Lalu menengok ke arah Putri yang berdiri di depan meja resepsionis.


“Putri, tolong antarkan Sonia melihat kamar-kamar yang kosong. Biar dia melihat-lihat mana yang cocok untuknya,“ ucap Paman Bob kepada Putri.


Putri bergegas menghampiri Sonia.


“Pagi Mbak Sonia. Mari, lewat sini,“ ucap Putri ramah sambil mengarahkan tangannya ke arah lorong.


Sonia berjalan mengikuti Putri. Sesekali Putri menjelaskan hal-hal yang berkaitan tentang penginapan kepada Sonia yang nampak antusias mendengarkan.


Setelah Putri dan Sonia meninggalkan lobi. Nicko yang sebelumnya berdiri di dekat lorong penginapan berjalan ke arah meja resepsionis dan berdiri di samping Kin.


“Leta, ini Kin Dhananjaya.“ Paman Bob menunjuk kearah Kin.


Leta menghampiri Kin dan menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.


“Leta,“ ucap Leta setelah Kin menyambut tangannya.


Leta menyodorkan tangannya kepada Nicko yang berdiri di sebelah Kin.”Leta,“ ucap Leta memperkenalkan diri.


Nicko terlihat sangat antusias dan langsung menyalami Leta. “Aku Nicko, sahabat Kin dari kecil,” ucapnya.


“Beberapa bulan yang lalu aku sempat datang kesini.” Leta membuka percakapan. “Kata bapak yang jaga kebun, kamu dirawat di rumah sakit. Jadi aku pergi ke rumah sakit. Tapi saat itu kamu masih dalam keadaan koma,“ lanjut Leta pada Kin.


“Oh, iya. Paman Bob dan Bibiku Wanda juga cerita,“ ucap Kin. “Terima kasih untuk bunganya,“ lanjut Kin.


“Ya, aku harap kamu suka,“ ucap Leta sambil tersenyum.


“Kin suka kok. Bunganya masih disimpen, sampe kering kaya kismis,“ sambut Nicko.


Leta tertawa mendengar ucapan Nicko. Sedangkan Kin, wajahnya memerah karena malu.


“Nick, kamu itu enggak bisa jaga rahasia,“ ucap Paman Bob sambil melangkah lalu berdiri di samping Kin. “Hey, Kin,“ lanjut Paman Bob, lengannya merangkul bahu keponakan yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya itu. “Ayah Leta ini, sahabat baik aman dan ayahmu,“ terang Paman Bob.


Kin terkejut mendengar ucapan Paman Bob.


“Ayahnya Leta, namanya Chandra. Dulu yang jodohin ayahnya Leta sama Ibunya, itu Davin.“


“Sama seperti Paman Bob, dong?“ tanya Nicko.


“Iya. Davin itu memang kerjaannya tukang jodoh-jodohin orang,“ ucap Paman Bob, mengenang kakak satu-satunya.


“Selain itu, keluarga kita memang sudah saling mengenal dari dulu. Jadi, apa salahnya kalo kita generasi terakhir juga saling mengenal,“ ucap Leta pada Kin.


“Ya. Sebenarnya aku juga berniat seperti itu,“ balas Kin sambil menganggukan kepalanya.


Mereka berempat terus berbincang-bincang dengan seru. Hingga lima belas menit kemudian, Sonia menghampiri mereka.


“Leta kamu sibuk gak hari ini?” tanya Paman Bob.


“Aku free hari ini,“ jawab Leta.


“Kalau begitu, kamu dan Sonia makan malam di sini, ya? Aku yakin Wanda juga ingin sekali bertemu denganmu,“ ucap Paman Bob.


“Ya, tentu saja. Aku juga ingin bertemu Bibi Wanda,“ balas Leta.


“Kin, kamu dan Bobby ajak Leta dan Sonia ke pantai. Biar Paman dan Pak Sutris nanti yang belanja untuk makan malam,“ ucap Paman Bob.


Sonia sangat antusias mendengar ide dari Paman Bob. Melihat Sonia sangat bersemangat, Leta ikut menyetujui ide Paman Bob. Nicko berinisiatif untuk menyewa sebuah jet ski, agar kegiatan mereka di pantai menjadi lebih seru. Dia pun bergegas pergi ke tempat penyewaan yang berjarak 10 km dari penginapan menggunakan Vespa Primavera berwarna hitam kesayangannya. Sedangkan Kin memandu Leta dan Sonia berjalan kaki menuju pantai yang berjarak 1 km di seberang Dhananjaya Guest House.


Dari penginapan, terlihat Paman Bob dan Pak Sutris mengamati Kin yang sudah berada di sebrang jalan untuk menuju ke Pantai.


“Apakah ini yang terbaik Pak?” tanya Sutris.


“Ini adalah warisan yang ditinggalkan Davin untuk Kin. Seburuk apapun itu, jika itu adalah kehendak Davin, aku akan menghormatinya,“ balas Paman Bob.


Pak Sutris kemudian melangkah ke dalam lobi penginapan menghampiri Putri.


“Put, minta kunci kamar nomor satu,“ ucap Pak Sutris.


Setelah mendapatkan apa yang dia pinta, Pak Sutris melangkah ke arah kamar nomor satu yang terletak di dalam lorong penginapan.


Di luar penginapan, terlihat sebuah mobil Toyota Century memasuki halaman. Paman Bob terlihat tersenyum melihat kedatangan mobil itu.


“Kau tepat waktu, kawan lama,“ ucap Paman Bob.