ZODIAC

ZODIAC
BAB 1



Saat itu, Kota Ostheaven, tanggal 26 Maret 1990.


Keadaan di salah satu lorong Rumah Sakit Kartika panik; dua orang petugas pria rumah sakit mendorong emergency stretcher dengan langkah cepat menuju ruang operasi. Seorang suster tampak terus memantau keadaan pasien wanita yang terbaring merintih kesakitan karena pendarahan. Di sisi lain ranjang itu terlihat seorang pria menggenggam erat tangan pasien. “Kamu harus kuat,” kata pria itu kepada pasien dengan wajahnya yang panik dan keringat dingin mengucur membasahi wajah.


Di depan pintu ruang operasi, seorang suster yang membuka dan menahan pintu masuk ruangan oprasi agar bisa memberikan ruang staff rumah sakit dan pasien yang ingin memasuki ruangan operasi, dan ketika pasien sudah memasuki ruangan, dia menghentikan langkah pria yang sejak tadi tampak khawatir dengan keadaan pasien.


“Pak Davin, tunggu di sini saja,” ucap suster tersebut, lalu dengan terburu-buru memasuki ruangan operasi.


Bobby dan Wanda yang sebelumnya mengurus administrasi pasien di bagian kasir rumah sakit, mendapati Davin sedang duduk di kursi ruang tunggu di depan ruang operasi. Wajah Davin terlihat sangat cemas, keringat membasahi kemeja lengan panjang warna biru yang dia kenakan. Bagian lengan kemejanya terlihat noda darah yang masih basah.


Bobby yang duduk di sebelah kiri Davin berkata, “oprasinya sudah dimulai?”


“Ya,” jawab Davin.


Wanda duduk di sisi sebelah kanan Davin. Tangannya mengelus punggung Davin, “Semua akan baik-baik saja,” kata Wanda. Dia berusaha menenangkan Davin.


Davin menatap wajah Wanda dan mengangguk.


Setelah satu jam mereka menunggu dengan perasaan cemas, pintu ruangan operasi terbuka. Seorang dokter ditemani satu suster keluar dari ruangan itu.


Melihat Dokter keluar dari ruangan, Davin, Bobby dan Wanda bergegas menghampiri Dokter tersebut.


“Bagaimana operasi kakak saya, Dok?” tanya Bobby cemas


“Yang mana suaminya?”


“Istri Bapak mengalami pendarahan hebat, dikarenakan plasenta terpisah dari rahim sebelum waktu kelahiran. Kami sudah melakukan sebisa kami untuk menyelamatkan nyawa Ibu dan anak. Namun mohon maaf, Pak. Kami hanya bisa menyelamatkan anak Bapak.”


Davin terdiam mematung, matanya terus menatap dokter dengan tatapan yang tidak percaya, tubuhnya bergetar. Wanda memeluk Davin, tangisnya pecah. Bobby mencari sandaran untuk tubuhnya yang ingin roboh. Ini semua bukan hal yang pernah disiapkan oleh Davin. Davin tidak pernah siap untuk menerima kenyataan ini. Dia baru saja kehilangan wanita yang paling dia cintai.


***


Waktu terus berlalu, duka yang sangat dalam dirasakan oleh Davin setelah mendengar kabar yang seperti mimpi terburuk baginya—tiga jam lalu. Bobby pergi untuk mengurus jasad Sarah, sedangkan Wanda berada di depan ruang NICU menemani Davin. Davin tidak mengucap sepatah kata pun sejak saat pertama kali mendengar kabar itu. Bahkan di depan tubuh sarah yang terbujur kaku, Davin tidak mengatakan apapun. Air matanya bercucurunan.


Seorang suster keluar dari ruang NICU menghampiri Davin dan Wanda.


“Bapak Davin, Bapak sudah diperbolehkan melihat anak Bapak,” kata suster tersebut.


Davin bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki ruang NICU ditemani Wanda.


Sesampainya di depan inkubator—tempat anaknya yang baru lahir di rawat. Davin yang saat itu mengenakan gaun protektif berwarna hijau, membungkukkan tubuhnya agar bisa lebih jelas memandangi anaknya yang sedang berada di dalam inkubator. Wanda berada di belakang Davin, dia tidak mau mengganggu pertemuan pertama Davin dengan anaknya sambil menahan tangis.


Davin mengubah posisinya menjadi jongkok, wajahnya didekatkan ke inkubator. Setelah memandangi anaknya yang baru lahir beberapa saat, Davin melepas masker yang sejak tadi dia pakai.


“Selamat datang di dunia, anakku,” kata Davin kepada sang bayi.


“Namamu adalah Kin Dananjaya. Kesatria laki-laki berzirah emas. Engkau akan dijauhkan dari kesombongan seekor burung merak; karena kelak kamu akan berhati lembut dan iklas. Kamu adalah bintang pertama yang diletakkan Zeus di langit-langit Dunia. Langkahmu akan membuat takut ribuan pasukan musuhmu; karena kamu dicintai Ares. Pembimbingmu adalah seekor domba berbulu emas. Kamu melambangkan api, keberanian dan ambisi; karena kamu adalah Aries.“