ZODIAC

ZODIAC
BAB 18



Kin terbaring di atas sofa yang terletak di ruangan bawah tanah Dhananjaya Guest House. Di hadapannya, Paman Bob duduk bersila di atas lantai. Sosok yang sudah seperti Ayah bagi Kin ini, terlihat sedang mengawasi Kin yang sedang pingsan dengan perasaan khawatir. Lalu, di sofa lainnya, terlihat Nicko terduduk lemas sambil menempelkan handuk kecil berwarna merah di keningnya. Wajah Nicko masih terlihat pucat, punggungnya diselendehkan ke sofa hitam itu. Sedangkan di meja kerja yang terletak di sebelahnya, nampak Leta sedang fokus membaca buku. Dia nampak serius membaca kata demi kata di dalam buku yang dia letakkan di atas meja.


Di bar yang berada di belakang tangga, Hendrik Morgan menatap Sonia Robert yang sedang menenggak habis satu botol penuh red wine. “Hey, Sonia. Kau akan langsung tergeletak jika minum sebanyak itu,“ ucap Hendrik kepada Sonia yang duduk di kursi bar sebelahnya.


Sonia meletakkan botol wine yang sudah kosong di atas meja, lalu melirik ke Hendrik. “Kakek, aku tidak akan mabuk,“ terangnya.


“Ya, jika kau minum hanya sesendok.“


“Aquarius dihukum tidak bisa merasakan efek minuman beralkohol oleh Zeus. Karena dulu, Aquarius melakukan pemberontakan di Olympus, dan menumpahkan semua minuman Dewa ke bumi,“ terang Sonia.


“Oh,“ ucap Hendrik sambil menganggukan kepalanya. “Berarti kau tidak bisa menikmati salah satu kenikmatan dunia,“ lanjutnya.


“Aku tidak perlu minum anggur hanya untuk menjadi pusing,“ ucap Sonia, lalu dia memutar kursinya, menghadapkan tubuhnya ke arah Hendrik. “Karena kau tahu? Hidupku sudah memusingkan,“ lanjutnya.


Hendrik tersenyum geli melihat tingkah Sonia.


“Kin,“ ucap Paman Bob ketika melihat keponakannya yang sejak tadi terkapar di atas sofa mulai membuka matanya.


Sambil terbaring, Kin melirik ke arah Paman Bob. “Hey, Paman,“ balas Kin. “Aku kelelahan hingga aku pingsan,“ lanjutnya.


“Ya, Kin. Kau pasti sangat kelelahan,“ sahut Paman Bob dengan wajah yang nampak lega.


“Aku habis bermimpi sesuatu yang keren sekali,“ ucap Kin sambil tersenyum. Leta, CEO PT. Capulus datang ke sini mengantar temannya untuk menginap.“ Kin tersenyum sambil menekan pelan keningnya dengan Ibu jari dan telunjuk tangan kanannya, pandangannya menghadap ke atas pelafon. “ Kau tahu Paman, Leta terlihat lebih cantik dari yang sering kita lihat di TV atau majalah. Temannya pun seperti itu, Sonia namanya. Mereka berdua sangat cantik, aku tidak pernah melihat yang seperti itu di kota ini. Aku sangat gugup saat bertemu mereka. Lalu, kau memintaku mengajak mereka ke pantai. Nicko terlihat begitu bersemangat sampai-sampai dia ingin menyewa sebuah jet ski. Dan, sesuatu yang buruk terjadi saat Nicko datang, sebuah pusaran air muncul dan ingin menghisapnya. Tentu saja aku panik dan aku putus asa karena tidak bisa menyelamatkan Nicko. Tapi tiba-tiba, keluar sepasang sayap di punggungku. Aku terbang dan menyelamatkannya. Lalu tiba-tba aku berada di sebuah taman atau hutan. Tempatnya indah sekali, seperti Surga yang sering aku bayangkan dan kemudian muncul seekor domba yang memiliki bulu berwarna emas. Domba itu mengenalku dan mengenal ayah. Dia bercerita tentang sesuatu yang di sebut Zodiac, Titan, dan macam-macam. Lalu tiba-tiba Aku mendengar suaramu.“


Paman Bob tersenyum mendengarkan cerita yang Kin anggap sebuah mimpi.


“Paman, kapan kita men-cat warna plafon dengan warna kayu?“ tanya Kin heran. Dia baru menyadari ada yang tidak biasa dari ruangan tempat dia berada. Kin membangkitkan tubuhnya, lalu duduk tegap menghadap ke arah rak buku. “Aku tidak pernah tahu kita memiliki buku sebanyak itu,“ ucapnya sambil melirik ke Paman Bob yang masih duduk di lantai. Lalu kin menghadap ke arah kanannya; dia melihat Nicko duduk di sofa sebelahnya dan Leta yang sadang menatapnya dari meja kerja. Kin menghadap ke arah kiri; dia melihat sebuah bar, di mana dia dapati Sonia Robert dan Hendrik Morgan yang juga sedang menatapnya. “Aku pikir, aku masih di dalam mimpi“, ucap Kin sambil menatap ke arah Hendrik.


“Kin, kau sudah sadar,“ balas Paman Bob.


Kin melirik ke arah Paman Bob dan berkata, “kau bercanda? Apakah Paman tidak melihat Perdana Menteri Hendrik Morgan sedang duduk di sana?“ ucap Kin sambil menunjuk ke arah Bar.


“Hey, Kakek,“ bisik Sonia kepada Hendrik. Hendrik mendekatkan telinganya. “Apakah perlu, aku siram dia dengan air?“ tanya Sonia.


“Tidak perlu. Aku menikmati adegan ini,“ jawab Hendrik sambil tersenyum.


“Kin, apa yang Lo omongin tentang kejadian di pantai, semuanya nyata,“ ucap Nicko.


Kin menatap ke arah Nicko yang sedang menempelkan handuk dikeningnya.


“Itu, di pipi Lo, ada luka. Mungkin itu Lo dapet waktu kejadian di pantai,“ lanjut Nicko.


Kin mengelus pipi kanannya, dia merasakan ada bekas luka di situ. “Bukan, ini gue dapet pas ketemu Domba Berbulu Emas di dalam mimpi. Dia menendang keras sebuah batu, dan batu itu melesat ke pipi gue,” ucap Kin. Kin tampak masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


Hendrik bangun dari duduknya dan berjalan ke arah Kin. “Kin, mungkin kamu masih bingung dengan apa yang terjadi hari ini,“ ucap Hendrik. Kemudian dia duduk di sebelah Kin. “Tapi yang perlu aku beritahu padamu, saat ini dunia sedang membutuhkan kemampuanmu,“ lanjut Hendrik.


Kin menatap Hendrik heran. “Dengan segala rasa hormatku kepadamu, Pak Menteri,“ ucap Kin, lalu kepalanya ditundukkan. “Kau tahu, kemarin aku hanyalah seorang wakil pemilik penginapan kecil ini, dan beberapa jam lalu, aku nyaris terkena serangan jantung melihat Leta, seorang CEO dari perusahaan terkemuka datang ke sini dengan segala kerendahan hatinya dia bicara ingin mengenalku.“ Kin mengangkat kepalanya, lalu memandang ke arah Hendrik. “Dan sekarang, seorang Perdana Menteri menyerahkan tugas menyelamatkan dunia kepadaku?“ lanjut Kin. Kemudian Kin memandang ke arah Bobby. “Paman, jika semua yang hari ini kuanggap mimpi adalah kenyataan, kau tahu? Ada yang aneh dari keluarga kita,“ ucap Kin.


Bobby menghela napas panjang mendengar ucapan Kin, kemudian dia berdiri lalu berjalan ke arah dinding di sebelah sofa yang diduduki Kin dan Hendrik. Bobby mengambil sebuah photo dari dinding itu. “Ini semua adalah takdir keluarga kita, Kin,“ ucap Bobby sambil menyerahkan photo yang dia ambil kepada Kin.


Kin menatap photo yang dia pegang dengan kedua tanganya. Di photo itu, dia melihat ayahnya berdiri di tengah-tengah—diapit oleh dua orang pria di kiri dan kanannya; satu Pria berperawakan seperti orang dari Asia Timur; satunya lagi adalah Pria Barat.


“Siapa pria-pria yang berdiri di samping ayah?“ tanya Kin.


Nicko memiringkan badannya agar bisa melihat photo yang sedang Kin dan Bobby bicarakan. “Pria Asia yang berdiri di sebelah kiri ayahmu bernama, Hyde; seorang pria keturunan Jepang. Sedangkan pria yang berdiri di sebelah kirinya adalah, Bobban; seorang keturunan Rusia,“ ucap Paman Bob. “Ayahmu dikenal dengan nama, Aries. Hyde adalah seorang petarung yang dikenal dengan nama Cancer. Sedangkan Bobban, adalah Sagitarius. Mereka adalah Zodiac,“ lanjut Paman Bob.


Tubuh Kin bergetar mendengar kata Zodiac. Sesuatu yang dia dengar dari domba yang berkali-kali hadir di dalam mimpinya.


“Kin, mungkin terlalu teruru-buru jika harus menjelaskan semuanya kepadamu hari ini. Kau nampak masih sangat bingung dengan semua ini,“ ucap Hendrik.


“Bob, biarkan Kin sendiri dulu. Biar dia menenangkan pikirannya agar bisa merenungi semua ini,“ lanjut Hendrik, sambil berdiri dari sofa.


Bobby menganggukan kepalanya. Lalu dia membungkukkan tubuh dan memegang bahu Kin dengan lengan tangan kanannya. “Kin, semua yang ada di dalam ruangan ini bisa menjawab semua pertanyaanmu. Tempat ini berada di bawah penginapan. Ayahmu dan aku yang membangunnya,“ ucap Bobby. “Semua yang ada di dalam dirimu dan ruangan ini adalah warisan Davin untukmu,“ lanjut Bobby sambil mengangkat tangannya dari bahu Kin dan melangkah ke arah tangga.


Leta dan Nicko berdiri dan mengikuti Bobby dan Hendrik, berjalan meninggalkan Kin. Sedangkan Sonia berdiri di depan tangga.


“Pak Pedana Menteri,“ ucap Kin.


Hendrik memutar tubuhnya.


“Ayahku dibantu Sagitarius dan Cancer saat melaksanakan tugasnya,“ lanjut Kin, matanya memandangi photo yang dia pegang. “Setidaknya, carikan aku beberapa teman untuk berjuang bersamaku.“


“Kau sudah memilikinya, Kin,“ jawab Hendrik.


Kin menatap ke arah Hendrik.


“Bahkan kau lebih beruntung dari ayahmu, karena kau akan berjuang bersama seorang Dewi,“ lanjut Hendrik. “Dewi disebut, ‘Keturunan Murni’.”


“Keturunan Murni?“ sahut Kin.


“Ya, Keturunan Murni,“ balas Hendrik.


Kin berdiri dari sofa. “Kenalkan kepadaku,“ pinta Kin.


“Kau sudah mengenalnya, dia ada di hadapanmu,“ ucap Hendrik, kemudian dia menunjuk ke arah Leta. “ Pisces.”


Kin terkejut mendengar ucapan Hendrik. Dia memandangi Leta dari ujung kaki hingga kepala.


“Kin, dahulu ayahmu memiliki teman seorang petarung.“ Hendrik berjalan ke arah tangga dan berhenti di sebelah Sonia Robert. “Kau memiliki seseorang yang seperti itu juga di sini,“ ucap Hendrik sambil menepuk pundak Sonia Robet dan melangkah menaiki tangga.


“Sonia, kau juga Zodiac?” tanya Kin, bicaranya bergetar.


“Aku adalah Zodiac cantik yang membuatmu gugup, karena di kota ini kau tidak akan pernah menemukan yang sepertiku,“ ucap Sonia menirukan ucapan Kin sebelumnya.


Wajah Kin memerah, dia teringat dengan apa yang Ia ucapkan kepada Paman Bob di ruangan itu.


“Kin, berdamailah pada dirimu. Terima takdirmu dan segeralah menjadi kuat,“ ucap Leta sambil berjalan meninggalkan Kin.


“Leta, Sonia. Aku mohon tetaplah di sini,“ ucap Kin. “Aku butuh dukungan kalian,“ lanjutnya.