
Secara perlahan-lahan Kraken mendaratkan gelembung yang dinaiki Kin, Sonia dan Leta di atas teras luas depan pintu masuk istana. Kemudian di dalam gelembung, Leta menciptakan dua buah gelembung dengan ukuran yang di sesuaikan dengan besar kepala Kin dan Sonia. Gelembung-gelembung itu mereka gunakan agar bisa bernafas di dalam air. Setelah itu, mereka bertiga keluar dari dalam gelembung besar melalui lubang yang di buat oleh Leta di salah satu bagian dindingnya.
Setelah keluar dari dalam gelembung. Kin membalikKan tubuhnya, lalu menatap patung Poseidon yang tampak berdiri gagah sambil memegang trisula di tangan kanannya. Patung itu menghadap ke arah gerbang Istana yang terapit oleh benteng di kiri dan kanannya. Di depan patung Poseidon itu, terdapat sebuah kolam besar berbentuk lingkaran, di mana di tengah-tengahnya terdapat sebuah patung yang berukuran lebih kecil dari patung Poseidon yang sedang di pandangi Kin. Patung itu berbentuk Dewa Cinta Eros, yang berpose seakan ingin menembakan anak panah cintanya ke arah gerbang dengan busur yang Ia genggam di tangan kirinya.
Kolam yang dinding-dinding luarnya hampir seluruhnya terselimuti lumut itu, berada di sebuah jalan melingkar yang menyatu dengan jalan lurus seluas delapan meter. Jalan itu terhubung dengan gerbang masuk Istana. Di kiri dan kanan jalan lurus yang lantainya terbuat dari batu tersebut, terdapat hamparan pasir putih yang di penuhi ganggang-ganggang laut dan batu-batu karang. Ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang mengitari terumbu-terumbu karang yang terdapat di hamparan pasir putih tersebut.
“Kin,“ panggil Sonia.
Kin memutar tubuhnya. Ia melihat Leta dan Sonia sudah berada di hadapan pintu masuk Istana yang memiliki dua buah daun pintu. Salah satu daun pintu yang terbuat dari batu berwana abu-abu itu nampak terbuka. Leta, Sonia dan Kin, memasuki Istana melewati daun pintu yang terbuka itu.
Sesudah melewati pintu masuk, mereka bertiga berada di dalam ruangan yang begitu luas namun kosong. Tiada perabotan ataupun karpet yang menghiasi isi ruangan itu. Sepanjang mata memandang hanyalah telihat sebuah ruangan luas berlantai batu marmer. Dikiri dan kanan ruangan tersebut, terdapat lorong-lorong yang menuju ke ruangan demi ruangan yang terdapat di dalam Istana.
Leta berenang menelusuri ruangan itu, di ikuti Kin dan Sonia di belakangnya. Kemudian mereka di hadapkan dengan sebuah jalan berupa lorong yang di samping kiri dan kanannya terdapat tangga. Tangga di sebelah kanan lorong itu, menuju ke lantai dua Istana Pisces. Sedangkan tangga di sebelah kirinya, menuju ke lantai bawah tanah Istana. Leta mengarahkan Kin dan Sonia menuju tangga di sebelah kiri lorong. Mereka menuruni tangga, menuju lantai bawah tanah Istana.
Sesampainya di lantai bawah, mereka bergerak menelusuri sebuah jalan yang dimana di kiri dan kanannya terdapat ruangan-ruangan gelap tak berpintu. Suasana di lantai bawah Istana sangat sepi, suhu air pun terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Setelah mereka cukup jauh menelusuri jalan, Leta menghentikan langkahnya di hadapan sebuah pintu yang terbuat dari batu marmer berwarna kuning gading yang berada di ujung jalan. Tidak ada gagang untuk membuka pintu itu, apalagi ornamen yang menghiasinya. Wujudnya tak jauh berbeda dari lantai atau tembok batu di sekitarnya, hanya warnanya yang membedakan.
Kin menatap pintu itu dengan wajah bingung. “Leta, apakah ini pintu? Atau ini hanya hiasan?“ tanya Kin penasaran.
“Ini pintu. Pintu yang hanya bisa dibuka olehku,“ jawab Leta.
Kemudian Leta menempelkan telapak tangannya ke pintu di hadapannya.
Kin dan Sonia menatap selaput yang berada di sela jari-jari tangan kanan Leta. Selaput merah kekuningan itu nampak mengeluarkan cahaya yang semakin lama semakin menyilaukan. Lalu kemudian.....
... DEEEEUUUMMMMM !!!!
Suara dentuman terdengar begitu keras dari arah pintu. Dentuman itu juga menyebabkan timbulnya arus di sekitar pintu, yang membuat Kin dan Sonia Robert terhempas mundur kebelakang dari posisi sebelumnya.
Di posisinya, Kin menatap ke arah pintu batu itu.
Pintu itu perlahan-lahan bergeser ke arah kiri, terbuka dan memperlihatkan apa yang tersimpan di dalamnya.
Cahaya terang berwarna kuning keemasan muncul dari dalam ruangan yang tertutup pintu itu. Cahayanya terang, namun tidak menyilaukan.
Leta memasuki ruangan itu, disusul Sonia dan Kin kemudian.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA ZODIAC
Jangan lupa klik jempol dan komennya
Tentang penulis:
Ahmad Rusdy, biasa dipanggil Rusdy. Penggemar kopi, musik heavy metal, Marvel dan karya-karya Stephen King. Mempercayai adanya kehidupan cerdas di luar angkasa.
Temukan saya di:
Instagram: @a_rusdy
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *