
Zara sudah sampai depan kelasnya. Zara berpapasan dengan Pak Rama yang akan memasuki kelas juga.
" Pagi Pak Ahmad Ramadhan, yang ganteng paripurna." Zara nyengir kuda lalu segera masuk kedalam.
Ayahnya hanya tersenyum sambil menggelangkan kepalanya. Zara dan Pak Rama masuk berbarengan.
Shelomita langsung mendelik ke arah Zara. Zara duduk di depan Shelomita. Shelomita mencolek bahu Zara.
" Habis dari mana lagi sih?"
" Habis ambil pulpen," Jawab Zara dengan entengnya.
Shelomita mengerutkan dahinya, " Bukannya kamu punya pulpen banyak Ra, memangnya ambil di mana?"
" Ambil di Mas Ayyubi,"ucap Zara sedikit berbisik.
Shelomita menepuk bahu Zara, " Ih, gendeng"
Zara terkikik lirih, " Baru pulpennya yang aku ambil Ta, besok-besok aku karungin orangnya buat pajangan di kamar."
Shelomita menggelengkan kepalanya. Shelomita merasa Zara sudah tidak waras karena naksir Kakak Sepupunya itu, tapi dalam hati Shelomita, dia sangat senang jika sahabatnya itu menyukai Kak Ayyubi, soalnya Kak Ayyubi laki-laki yang baik, dan Shelomita juga mengakui bahwa Zara juga wanita yang baik. Walaupun tingkahnya bar-bar, tapi Zara wanita yang tidak gengsi bekerja keras, dan selalu menghindar jika didekati laki-laki. Bar-bar Zara hanya suka ngebanyol, tapi Shelomita selalu menikmati banyolan Zara yang terkadang Konyol.
Kasus ini adalah kasus baru😆 Zara yang mengejar laki-laki, mungkin Zara sudah memulai membuka hatinya kembali, dan itu membuat Shelomita ikut merasa senang.
"Karungin aja sana, nanti aku aduin ke Budhe Ganis,"Celetuk Shelomita.
Zara memutar badannya sehingga menghadap Shelomita.
" Jadi, Ayyubi itu..."
"Zara Ahmad." Pak Rama menginterupsi agar Zara berhenti mengobrol karena pelajaran akan dimulai.
Ih, Zara jadi gemas, pengen rasanya membelah diri aja jadi tiga, satu di kelas, satu di perpustakaan menemani Ayyubi dan satu lagi ke kantin aja ngajak Shelomita ngobrol masalah Ayyubi. Seperti biasa, otaknya mulai eror jika mengenai Ayyubi.
Zara membalikan lagi badannya lalu membuka tasnya dan mengeluarkan buku pelajarannya. Zara menyemangati dirinya agar fokus dulu ke pelajaran. Jangan cinta-cinta mulu 😆. Kata Bunda bayar kuliah itu mahal, jadi harus kuliah yang bener, rampok ilmu sebanyak-banyaknya. Kata Bunda jadi wanita itu harus pintar, karena Gen kecerdasan itu menurun dari Ibunya. Cinta-cintaan jangan di prioritaskan dulu saat sedang menuntut ilmu.
Hemm, Zara seolah-olah sedang melihat bunda didepannya, sedang menceramahinya. Benar kata Mas Dafa, Zara memang anak Bunda. Eh tapi gak boleh gitu dong. Ada peran Pak Rama juga di bagian ngadon, gak mungkin jadi Zara Ahmad kalau Bunda ngadon sendirian. Jadi Zara itu ya anak Bunda dan Ayah.
Zara memperhatikan Pak Rama mengajar. Menurut Zara, Ayahnya itu selalu mengajar dengan mengasikkan, tidak monoton, kadang sesekali juga ada candaan yang di lontarkan. Kalau belum faham akan di ulang lagi sampai faham. Kalau masih belum faham juga, Ayah mempersilahkan mahasiswanya untuk berkonsultasi di luar jam kuliah. Ayah memang gak pelit ilmu.
Zara pernah bertanya pada Ayah waktu lagi santai-santai di rumah. Zara bertanya kenapa sih Ayah sampai segitunya membantu mahasiswanya, sampai dibela-belain jelasin pelajaran lagi di luar kelas. Di bayar juga enggak.
Ayah bilang, kita gak boleh pelit ilmu. Ayah juga bilang jika ada sebuah hadist riwayat Tirmidzi.
Hadistnya begini, kedua kakinya seorang hamba besok di hari kiamat tidak akan terpeleset
sehingga dia ditanyai tentang empat hal:
(1) Tentang umur, untuk apa umur itu dihabiskan.
(2) Tentang ilmu, untuk apa ilmu itu difungsikan.
(3) Tentang harta benda, dari mana harta benda itu diperoleh.
(4) Tentang kondisi tubuh, untuk apa kenikmatan itu digunakan.
Fix, Zara ngefans banget sama ayahnya. Ganteng, pinter, royal alias gak pelit. Pantesan walaupun ayah sudah tua tapi ada saja mahasiswi yang naksir ayah. Konyol sih, tapi ayah memang pantas di kagumi.
2 jam sudah Pak Rama mengajar. Pak Rama mengakhiri pertemuan hari ini dengan salam dan senyum manisnya. Zara langsung buru-buru menengok ke belakang. Menatap si cantik Shelomita.
" Eh, Ta jadi Ayyubi itu anaknya Tante Ganis"
" Ta, kamu parah banget deh, punya Kakak kaya Ayyubi gak dikenalin sama aku, parah ih, pelit." Bibir Zara mengerucut.
Shelomita gemas melihat bibir Zara. Shelomita langsung mencomotnya sambil tergelak.
" Heh anak bunda, kan aku udah berkali-kali ngajak ke rumah, udah berkali-kali juga ngajak anterin ke kelas Kak Ayyubi kemarin-kemarin tapi kamu selalu nolak kan, aku jambak juga nanti kalau ngelak"
Zara langsung tersenyum manis, " Ya udah, kali ini mah pasti mau." Zara mengedip-ngedipkan kedua matanya.
" Dih, akunya yang lagi gak ngajak," Ledek Shelomita.
"Jahara ih." Zara membalikan tubuhnya, memasukan bukunya kedalam tas.
" Iya, nanti aku ajak sayang,"ujar Shelomita.
Zara langsung antusias, lalu membalikan tubuhnya lagi menghadap Shelomita.
" Ih, Ta, kamu memang 1345678"
" Apaan tuh?"tanya Shelomita keheranan.
" Kamu gak ada duanya Ta, sahabat paling cucok pokoknya"
" Dih modus"
Keduanya tergelak, Zara dan Shelomita keluar dari kelas menuju kantin. 2 jam pelajaran pak Rama rupanya membuat perut lumayan keroncongan. Energi sarapan sudah hilang di telan pelajaran😆.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Makasih banget ya readers ku, masih antusias dan gak bosen baca novel-novel karyaku, semoga kita semua sehat selalu, aamiin)
Jangan lupa like, komen dan Vote.
Salam sayang,
Santypuji