
Mereka sudah hampir 1 jam lebih bercuap-cuap. Namun pembicaraan mereka terhenti saat ada pelanggan Zahra cake yang begitu Zara kenal datang menghampiri Zara dan Shelomita.
"Ra ... lama nggak ketemu"
Zara melengos pertanda tak suka, " Ngapain kesini?"
"Biasanya sih ngopi sambil ditemani Bunda,"jawabnya sambil terkekeh.
Zara memicingkan matanya, " Bunda?"
Denis mengangguk lalu duduk di sebelah Zara.
"Iya Bunda, Bunda saja sudah memberi restu, kamu tahu tidak ternyata Bunda dan Mamaku itu teman akrab Ra." Denis tersenyum manis. Senyuman yang dulu pernah di damba seorang Zara Ahmad, tapi sejak Denis memutuskan hubungan percintaan mereka disitulah Zara mulai tidak menyukai pria yang ada disebelahnya.
"Restu, restu anaknya Bu Lurah? pacaran sonoh sama dia." Entahlah, jika sudah berhadapan dengan wajah si kampret satu ini, hawanya emosi terus.
"Aku maunya pacaran sama kamu lagi Ra,"ungkap Denis sambil menatap dalam-dalam manik mata Zara.
"Woy, pacaran-pacaran, pacaran itu ilegal, kalau nggak tahu ilegal, blackmarket,"celetuk Shelomita yang begitu geram dengan buaya yang ada di depannya itu, yang tidak ada malunya saat meminta Zara untuk kembali menjalin hubungan. Shelomita saksi patah hati Zara waktu itu, jadi ia tahu betul kesedihan yang dirasakan sahabatnya itu.
Zara tersenyum lalu mengacungkan jempolnya untuk Shelomita.
"Zara juga sudah punya pacar lhoo Ta." Denis melirik Zara.
Shelomita teringat cerita Zara tentang pertemuan pertamanya dengan Ayyubi.
"Itu bukan pacar, tapi calon suami, laki-laki yang dekat dengan Zara itu sudah mengantongi restu Bunda, sudah bilang juga ke Bunda langsung, wee" Shelomita menjulurkan lidahnya ke arah Denis.
Zara ingin sekali tertawa mendengar penuturan Shelomita, tapi harus ia tahan demi mengusir mantan terkampretnya itu.
"Masa sih, coba besok aku tanya Bunda, soalnya Bunda nggak cerita apa-apa tuh"
"Dih, memangnya kamu siapa? Bunda mesti cerita semua ke kamu." Zara semakin geram, Denis ini seolah-olah begitu dekat dengan Bundanya, Zara tidak akan membiarkan itu terjadi.
Ting .. Tong ...
"Selamat datang di Zahra Cake," sapa pegawai Zahra Cake.
Ayyubi tersenyum pada pegawai yang menyapanya. Matanya mencari Zara dan Shelomita. Ayyubi menemukan mereka yang sudah tidak berdua lagi melainkan bertiga, apalagi satu di antaranya adalah laki-laki. Ayyubi mengerutkan keningnya lalu menghampiri Zara dan Shelomita.
"Ehm..."
Zara melirik Ayyubi. Begitu juga dengan Shelomita.
Zara tersenyum, menurutnya ini saatnya berakting dengan epik agar si kampret ini enyah dari sini.
" Eh Sayang sudah datang." Zara bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Ayyubi.
Ayyubi masih terdiam, manik matanya melihat ke arah Denis dengan tatapan tajam.
"Sayang" Zara menyenggol siku Ayyubi. Ayyubi ini kenapa, kenapa sebegitunya sih melihat Denis.
"Dia kenapa ada disini Ra?" tanya Ayyubi dengan ekpresi datar namun cukup mencekam.
"Kenapa memangnya? aku kan mau silaturahmi sama Zara,"jawab Denis. Malah jadi Denis yang menjawab.
Ayyubi melirik Zara, tatapannya Ayyubi tidak seperti biasanya, apa ini bagian dari acting, tapi kok rasanya Ayyubi seperti marah sungguhan.
"Silaturahmi itu ngajak aku Ra, kalau diem-diem gini namanya ngedate." Mata Ayyubi tidak lepas menatap Zara.
"Eh ... emm, itu tadi pas aku lagi ngopi disini dia tiba-tiba datang, kita nggak janjian, suer." Zara mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Haduh kok Zara jadi takut ya. Ayyubi dalam mode senggol bacok.
"Sudah ih, duduk, ngapain pada berantem begitu, nanti Shelomita critain deh," ucap Shelomita yang bangun dari duduknya, mengajak Ayyubi dan Zara duduk.
"Kamu juga, kenapa masih saja mengganggu Zara, Zara itu sekarang lagi sama aku, ngerti nggak sih, ini ketiga kalinya aku lihat kamu ganggu dia, sekali lagi berani ganggu dia, aku nggak segan buat lempar kamu ke rumah sakit," ucap Ayyubi mengancam Denis.
Zara jadi merinding, Ayyubi yang soleh ini kenapa berubah jadi Solihin ini, garang bener. Mirip siapa coba, perasaan Tante Ganis kalem lemah lembut gitu. Apa mirip bapaknya yang mirip oppa korea itu. Ah masa sih, tapi ini lagi acting apa sungguhan sih, kok kaya sungguhan yah.
Denis tidak menanggapi ucapan Ayyubi, ia langsung saja ngeloyor pergi tanpa dosa. Zara akhirnya bernafas lega. Untung saja Denis tidak meladeni ancaman Ayyubi. Zara takut ada perang dunia di Zahra Cake. Bisa-bisa Zara yang di pukul pakai sipatula Bunda karena disebabkan olehnya.
Setelah Denis pergi, Ayyubi langsung menyesap kopi yang ada didepannya, kopi milik Zara.
"Eh ... Mas biar nanti aku buatkan lagi yah kopinya, acting Mas tadi bagus banget, besok-besok boleh tuh adu acting sama Aldebaran,hihi,"ucap Zara sambil terkikik.
Ayyubi menatap Zara, " Ra, tadi Mas nggak lagi acting." Suara Ayyubi lembut banget, Zara jadi deg-degan.
"Aku mau milih-milih roti dulu yah." Shelomita meninggalkan Ayyubi dan Zara. Shelomita memang paling pengertian, tapi bukan hanya pengertian, Shelomita juga tidak ingin menjadi nyamuk diantara Zara dan Ayyubi.
Zara jadi salah tingkah, benar nggak sih ini Ayyubi. Ayyubinya Tante Ganis, kok mendadak begini sih. Zara masih diam membisu, tidak bisa berkata-kata.
"Ra, kita sudah janji kan akan menjaga hati kita masing-masing? aku sedang menata masa depan dulu, sabar yah, sambil sabar sambil saling mendoakan,"sambungnya lagi.
Ya Allah, nggak cuma wajahnya aja yang adem kaya ubin masjid, tapi kata-katanya juga adem banget. Zara mau pingsan nih Mas.
Zara mengangguk, " Iya Mas, maaf tadi tuh aku juga nggak tau kenapa tiba-tiba dia datang, katanya sih dia sering datang kesini"
Ayyubi mencengkram jemarinya, menahan amarah. Zara melihat kemarahan di mata Ayyubi. Haduh Ayyubi ternyata bisa marah juga.
"Janji ya Ra, jaga hati, buat aku." Tatapan Ayyubi kembali teduh. Zara bingung, kenapa jadi Ayyubi yang terlihat bucin. Bucinnya ternyata lucu.
Zara mengangguk, Ayyubi tersenyum lega.
" Buatkan Mas kopi Ra, kopi kamu habis"
Zara mengacungkan jempolnya. Zara bergegas ke dapur Zahra cake, membuat kopi pesanan Ayyubi.
Sebelum meracik kopinya, Zara mengambil lipstik di tas kecilnya, lalu mengoleskan lipstik di bibirnya dengan olesan yang sedikit tebal, setelah itu ia tempelkan bibirnya pada gelas kopi, lalu Zara menghapus bekas lipstiknya di bibirnya.
"Gini banget yah, jadi pengen cepet-cepet halal, biar yang di kiss itu bukan gelas, tapi lambene Ayyubi langsungπ,"gumam Zara begitu lirih.
Selesai membuatkan kopi untuk Ayyubi, Zara segera membawakannya untuk Ayyubi.
"Mas, ini kopinya plus kiss nya juga." Zara mesem manis.
Ayyubi tampak bingung, "Hah, kiss?"
Zara mengangguk, "itu." Zara menunjukan cap bibir di gelas kopi dengan lirikan matanya. Ayyubi langsung melihatnya dan tersenyum manis ke arah Zara.
Ayyubi menyesap kopinya tepat dibagian cap bibir yang Zara buat.
"Sabar ya Ra,"ucap Ayyubi.
Hah, sabar apa nih?ππ
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(ππππ woawwwwww emak nulisnya sambil nyengir kaya kuda, kenapa jadi baper sendiri sih ah, kan emak pengen menjelma jadi laki2 trs baperin cewi-cewi, hahaha, cowo2 romantis itu hanya ada di novel gaes, kebanyakan 99% itu ya kaya kanebo kering semuaππππ)
Kalau tembus 200 komentar, q up lagi nanti sore. Kalau tembus yahπ€
Jangan lupa, like, komen dan vote.
Salam sayang,
Santipuji