
"Kurang aku dipelukanmu."
Hadeh, Edan pancen Edan Zara Ayyubi ini, lagi fotoin orang juga masih sempat berbalas gombalan.
Senyuman tipis menghiasi bibir Zara. Zara malah jadi gugup, ia menatap ke arah langit, barang kali ada bala bantuan gitu. Kali aja ada burung yang sedang buang air ke arah Ayyubi agar si doi berhenti terus menggombalinya. Eneng lama-lama Diabet Bang, dikasih yang manis-manis terus.
"Ayah Rama, nih mahasiswa bimbingannya nih, mulai nakal,"gumam Zara lirih.
"Pak Dosen, anak gadisnya juga mulai aktif nih,"bisik Ayyubi.
Zara dan Ayyubi tergelak. Aira begitu geram melihat Zara dan Ayyubi tertawa. Aira menghampiri Ayyubi.
Zara mengerti Aira yang sepertinya sedang cemburu, Zara lalu pamit ke toilet. Aira nampak senang.
Zara bergegas ke toilet, menuntaskan hajatnya lalu merapikan jilbabnya. Perempuan itu walaupun jilbabnya masih rapi, tapi tetap saja dirapikan sedemikian rupa.
Zara keluar dari toilet, berjalan menuju halaman gedung wisuda tempat ia tadi berfoto. Zara melihat Ayyubi sedang berjalan masuk ke gedung, Zara mengikuti keduanya. Terlihat Aira dan Ayyubi sedang berbicara serius disalah satu pojokan gedung. Zara semakin mendekat ke arah mereka, Zara bersembunyi dibalik keramaian. Samar-samar Zara mendengar percakapan Ayyubi dan Aira.
"Bi, aku perhatikan kamu semakin dekat dengan Zara, katanya kamu hanya menganggapnya adik?" tanya Aira yang ingin memastikan hubungan Ayyubi dan Zara.
"Ya dia memang sudah aku anggap sebagai adik seperti Shelomita."
Jawaban Ayyubi membuat Aira tersenyum, tapi tidak dengan hati Zara. Hati Zara terasa perih ketika mendengar jawaban Ayyubi yang masih menganggapnya adik. Lantas tadi apa? apa hanya bualan belaka? apa laki-laki memang mudah sekali membual dan berjanji manis?. Pertanyaan itu begitu terngiang-ngiang difikiran Zara.
"Bi, kita sudah kenal lama, berteman sejak lama, dari kecil selalu bersama, Alhamdulillah hari ini sudah wisuda, aku ingin membangun masa depan juga bersama kamu Bi,"ucap Aira yang tengah tersenyum manis.
Zara yang mendengarnya langsung memegangi dadanya, ia menunggu jawaban Ayyubi. Apakah jawaban Ayyubi akan membuatnya patah hati untuk kedua kalinya, apakah justru akan membuatnya memberi kesempatan untuk merajut cinta kedepannya dengan sang pujaan hati.
Ayyubi menatap serius Aira. Zara tertegun. Apakah ini pertanda buruk untuknya.
"Aira, kamu cantik, kamu baik, kamu solehah, kamu juga pintar, dari keluarga baik-baik, semua kriteria istri idaman ada padamu, nasabmu bagus, kamu cantik, agama juga bagus, siapa sih yang akan menolakmu,"ucap Ayyubi sambil tersenyum.
Dibalik kerumunan itu ternyata ada hati seseorang yang begitu perih mendengar jawaban Ayyubi. Zara memukul pelan dadanya. air Matanya tanpa sengaja luruh juga.
"Tega kamu Mas, setelah melambungkan hatiku, cintaku begitu tinggi kini kamu menghempaskannya, sakit Mas." Zara berlari keluar dari gedung, ia tidak ingin mendengar kata-kata Ayyubi yang lebih menyakitkan lagi, memuja memuji wanita lain dibelakangnya.
Zara berlari begitu kencang sambil menyeka air mata, ucapan Ayyubi selalu terngiang-ngiang di otaknya. Siapa sih yang akan menolakmu. Kata itu yang paling menyakitkan untuk Zara.
Aira tersenyum lebar ketika mendengar jawaban Ayyubi.
"Jadi kamu mau?"
Ayyubi menggeleng, "Siapa sih yang akan menolakmu, kecuali aku Aira, maaf, kita sudah sedari kecil nyaman berteman, aku berharap kita akan terus nyaman dengan pertemanan, tanpa embel-embel cinta, kamu cantik, kami solehah, kamu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari aku, maaf Aira," Ayyubi menunduk, ia sebetulnya tidak ingin kejadian ini terjadi, Ayyubi tidak ingin Aira mencintainya, tapi cinta memang fitrah yang tidak dapat dihindari. Tapi di hati Ayyubi sudah ada gadis lucunya, Zaranya, cintanya.
Aira memaku, menatap tajam Ayyubi, ia kecewa dengan jawaban Ayyubi, cinta yang selama ini pendam bertahun-tahun ternyata bertepuk sebelah tangan. Aira selama ini hanya menunggu Ayyubi, tapi kenyataannya Ayyubi tidak memilih dirinya, menurut Aira mungkin Ayyubi sudah terlalu nyaman dengan pertemanan yang selama ini mereka jalani sedari kecil.
"Bi, tolong kamu pertimbangkan lagi." Air mata Aira sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Maafkan aku, aku tidak bisa." Ayyubi masih menunduk. Ia begitu canggung dengan suasana saat ini.
"Aku sudah menunggumu bertahun-tahun, aku menunggu cintamu, aku menunggu saat ini tiba, aku akan memberi waktu agar kamu bisa belajar mencintaiku Bi, jika memang kamu butuh waktu." Aira sepertinya tak patah semangat.
"Maaf aku sudah mencintai yang lain, hati ini sudah terisi wanita lain Ra, aku dan kamu hanya bisa berteman, tidak bisa lebih, status itu sulit diganti Ra,"jawab Ayyubi.
"Siapa? apa wanita itu dia?"
Ayyubi mengangguk. Aira memukul dada Ayyubi.
"Kamu bilang hanya menganggapnya adik, tapi kenapa tiba-tiba jadi cinta?" Aira tampak emosi saat mengetahui jika cintanya Ayyubi adalah Zara.
"Iya, aku ingin menjadikannya adik saat ini, tapi tidak dimasa depan."Ayyubi menatap Aira.
"Ra, cinta tidak bisa dipaksakan, maaf sekali lagi." Ayyubi lalu pergi meninggalkan Aira keluar dari gedung.
Zara terus berlari hingga tubuhnya menubruk Shelomita, untung Shelomita, coba kalau nubruk banteng, nggak cuma hatinya yang remuk, tubuhnya pun bisa remuk😆.
"Ra, kamu kenapa?"Shelomita melihat air mata yang terus mengalir di pipi Zara.
Zara memeluk Shelomita. Shelomita membiarkan Zara tenang terlebih dahulu. Setelah tidak terdengar lagi tangisan Zara, Shelomita melepaskan pelukannya, Shelomita mencoba menanyai Zara.
"Kenapa?"
"Memangnya kamu nggak denger potekan hati aku, biasanya kamu paling peka," jawab Zara sambil sesenggukan.
"Hais, bunyi 'krek' di hati kamu mana kedengeran kalau situasinya lagi ramai begini, cerita ih." Shelomita mendesak Zara agar bercerita.
Zara akhirnya menceritakan kejadian di dalam gedung tentang Ayyubi dan Aira. Shelomita mendengus kesal. Ia jadi bingung dengan kakak sepupunya itu, padahal terlihat jelas jika Kak Ayyubi menyukai Zara, tapi kok kenyataannya malah seperti itu. Apakah laki-laki memang pandai berdrama lain di bibir lain di hati. Shelomita menyeka air mata Zara menggunakan tisu yang ia bawa.
"Sudah, nanti nangisnya di lanjut lagi di rumah, tuh eyelener kamu luntur,"ledek Shelomita.
Zara menonyor kepala Shelomita. Bisa-bisanya sahabatnya itu memikirkan eyelener dikala seperti ini. Tapi benar juga kata Shelomita, jika eyelenernya semakin luntur nanti jadi mirip mbak kunti dong, hih kan nggak lucu.
"Ta ternyata hanya aku yang mencintai, hanya aku yang berharap, hanya aku yang mendoakan, hanya aku yang menunggu waktu itu tiba, hanya aku Ta."
Rasanya Shelomita juga ingin menangis, tapi apalah daya, ia harus menguatkan Zara, jika menangis bersama, siapa yang akan menguatkan. Shelomita menarik Zara dalam pelukannya.
"Ra, mungkin ini sudah rencana Allah. Rencana Allah padamu lebih baik dari rencanamu. Terkadang Allah menghalangi rencanamu untuk menguji kesabaranmu, perlihatkanlah kepada-Nya kesabaran yang indah. Tak lama kamu akan melihat sesuatu yang menggembirakanmu. Kita hanya bisa berencana. Tapi Allah lah yang menentukan.
Maka janganlah terlalu berharap kepada rencana kita. Tapi berharaplah yang terbaik di sisi-Nya,"ucap Shelomita sambil mengelus punggung sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Ea ea, saatnya konflik 🤠realistis saja, hidup nggak selamanya mulus kaya bulu kucing anggora, konflik, masalah itu buat apa sih thor? BUAT MENENTUKAN KUALITAS HIDUP KITA, dari masalah Allah ingin MENAIKAN DRAJAT KITA, sesabar apa kita, seistiqomah apa kita, seikhlas apa kita)
Jangan lupa like komen dan Vote, tembus komen 300, author up lagiðŸ¤
MANGAP ya kemarin nggak up, dedek sakit, air juga sakit, udah hampir 4 hari air ngadat, ya sudah lah, penting cuci muka, lap ketek, pke handbody pake deodoran, semerbak deh harum mewangi sepanjang hari.
Salam sayang,
Santypuji