
Mas Renal langsung menyentil kening Zara, adiknya ini selalu menyebalkan jika membahas soal pernikahan. Mas Renal lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan Zara di ruang TV.
Selesai berganti pakaian, Mas Renal pergi ke dapur mengambil cemilan dan air dingin di kulkas. Mas Renal menghampiri Zara yang tengah menonton Tv, eh bukan menonton, lebih tepatnya Tv yang menonton Zara melamun.
"Ya elah, masih patah hati? hemm, tapi wajar sih, waktu seumuran kamu, Mas juga sempat menggebu-gebu ingin menikah, Mas juga pernah naksir teman waktu kuliah, umur 20 tahun itu memang masa-masa penasaran, penasaran rasanya di peluk, di kiss, berduaan, jalan bareng bersama doi, persis nih seperti apa yang ada di otak kamu Ra,"ucap Mas Renal sambil terkekeh.
Zara memelototkan matanya, tapi benar juga sih apa yang di katakan Mas Renal.
"Pada kenyataannya, menikah tidak sesederhana itu Zara Ahmad, tidak melulu soal peluk cium, buang jauh-jauh itu otak mesummu," sambung Mas Renal
Zara memukul lengan Mas Renal, kenapa yang di tangkap Mas Renal hanya soal kemesuman, walaupun di otaknya memang ada percikan tentang hal itu, tapi cuma sedikit kok, cuma setengah, eh salah, sepertiga, eh cuma seperempat kok.
Setelah ditabok Zara, Mas Renal jadi malah semakin gencar menceramahi Zara ngalor ngidul tiada henti.
Kata Mas Renak jatuh cinta tak hanya yang indah-indah semata, tapi ada juga saat sulit yang harus siap dirasa. Ketika pada akhirnya kita merasakan kehilangan, tolong jangan sampai kalah dengan keadaan. Sakit hati itu pasti, tapi kita masih punya banyak sekali alasan-selain dia untuk terus bernafas dan tersenyum kan. Heh Carbela, Dunia tak akan kiamat hanya karena kita kehilangannya.
Kamu hanya perlu mengingat, bahwa cinta tak hanya soal bahagia dan menyayanginya. Ada satu hal yang akan turut mengiringi, yaitu keikhlasan. Karena perasaan pun tetap dalam kontrol dan kuasa Tuhan. Rasa cinta bisa datang dan pergi begitu saja.
Untuk segala sesuatu, selalu ada batasnya.Kalau dia pergi, kita juga harus berhenti. Berhentilah mencintai, dan berhentilah berjuang untuknya. Dengan melepaskan, mungkin justru bisa bahagia. Kubur segala hal tak menyenangkan yang telah terjadi, dan jadikan pelajaran berharga bagi kehidupan cinta selanjutnya kelak.
Ampuh yah Mas Renal ini, entahlah tadi di jalan sudah makan apa, sampai rumah bisa secerewet ini melebihi Bunda Dian.
Zara menatap Mas Renal, "Aku curiga deh, jangan-jangan Mas Renal punya pacar yah?"
"Enggak, cuma pernah suka, pernah patah hati juga, ya waktu kuliah dulu, sudah Ra, kuliah saja yang benar, kelak bertambah dewasa, kamu akan memahami betul bagaimana cara mencintai dengan benar, kalau sekarang, tuh begitu doang ge nangis, labil banget kan,"Ledek Mas Renal.
Sekali lagi, Zara memukul lengan Mas Renal lagi. Tapi setelah memukulnya, Zara jadi tersadar, apa yang di ucapkan Mas Renal memang tidak salah, dirinya masih labil, memang benar, tapi...Ah sudahlah.
Zara menatap TV lagi sambil memakan cemilan yang di bawa Mas Renal. Kehadiran Mas Renal sangat membantu Zara sedikit melupakan patah hatinya.
***
Shelomita sudah sampai di rumahnya, Shelomita yang sedari tadi sudah memang mode prengat-prengut pada Ayyubi akhirnya masuk kedalam rumah, mengikuti Ayyubi dari belakang.
"Kamu kenapa Ta?"tanya Ayyubi.
"Kita perlu bicara"
Ayyubi mengerutkan keningnya, ucapan Shelomita begitu formal terhadap dirinya.
Ayyubi tidak jadi masuk ke kamar, ia membawa Shelomita ke taman belakang.
"Ada apa?"
"Hih, andai Kakak bukan kakak sepupuku, sudah aku lempar pakai sendal ini"
Ayyubi semakin bingung, "Kamu ini kenapa?"
Shelomita duduk di bangku taman sambil mengerucutkan bibirnya, menceritakan kejadian tentang Zara pada Ayyubi dengan sedikit marah.
Ayyubi mengusap wajahnya dengan kasar saat mendengar cerita Shelomita.
"Kenyataannya tidak seperti itu Ra."Ayyubi berusaha menyela pembicaraan.
"Lalu?" Shelomita melirik Ayyubi.
"Ya memang benar jawaban aku yang awal-awal seperti itu, tapi aku menolaknya, aku menolak Aira." Ayyubi lalu menceritakan jawaban yang sesungguhnya ia berikan untuk Aira.
Shelomita terkejut," Kakak, kenapa sih kakak selalu bilang kalau kakak tuh menganggap Zara Adik? kenapa coba? sudah dua kali lhoo Kak"
Ayyubi menghembuskan nafasnya dengan kasar,
" Terus Kakak harus bilang apa Ta, dia pacar Kakak, nggak mungkin kan, kita tidak berkomitmen pacaran, kita berkomitmen untuk saling menunggu, saling mendoakan, saling percaya aja, Mas menunggu dia lulus, dan dia menunggu Mas menyiapkan semuanya. Nikah itu nggak semudah sunatan Ra, kalau sunatan gampang, datang bawa wortel pulang bawa terong, celengan aku baru seprapat, belum cukup buat nanggep dangdut"
Shelomita menepuk lengan Ayyubi, " Serius ngapa Kak?"
Ayyubi terkekeh, "Kakak serius Ta, kakak baru kerja 2 bulan, kakak juga punya cita-cita membahagiakan Zara dengan jerih payah Kakak."
"Nih kasih penjelasan ke Zara sebelum Zara semakin ngambek." Shelomita memberikan ponselnya pada Ayyubi. Shelomita menyuruh Ayyubi menelfon Zara dengan ponselnya.
Shelomita akhirnya mengangguk, biarlah ini menjadi resikonya jika Zara mengomel nantinya. Asalkan Zara dan Kakaknya tidak salah faham lagi.
Ayyubi langsung memasukan nomor ponsel Zara di hapenya. Ayyubi lalu langsung menelfon Zara.
Zara yang sedang menonton Tv dengan Mas Renal menatap ponsel di sebelahnya yang berkelip dan bergetar. Zara melihat nomor baru masuk menelfonnya. Zara mengernyitkan dahinya, ia segera mengangkat telfonnya, namun karena nomor itu nomor baru, Zara terdiam terlebih dahulu, takut penipuan atau orang iseng.
"Assalamualaikum, Zara," terdengar pemilik suara yang telfonable banget di sebrang sana, Zara mengenali suara itu. Namun sayangnya pemilik suara itu mengingatkan Zara pada kejadian satu jam yang lalu.
"NOMOR YANG ANDA TUJU SUDAH MELUPAKAN ANDA, MOHON JANGAN TELFON KEMBALI,"ucap Zara. Zara langsung mematikan sambungan telfonnya.
Mas Renal melirik Zara, merasa heran dengan apa yang Zara lakukan, jangankan Mas Renal, author aja heran๐๐.
Ayyubi menatap layar ponselnya, ia melirik Shelomita, "Ta, ini nomornya bukan sih, kok tadi yang jawab kaya operator gitu?"
Shelomita melihat nomer ponsel Zara di hape Ayyubu, " Benar kok Kak, coba deh sekali lagi"
Ayyubi mencoba menelfon Zara lagi. Zara yang masih menatap ponselnya terkejut melihat Ayyubi kembali menelfonnya. Zara langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum, hallo, ini Zara kan?"
Zara tersenyum masam, " NOMOR YANG ANDA TUJU SUDAH BAHAGIA DENGAN YANG LAIN, MOHON UNTUK TIDAK MERUSAK KEBAHAGIAAN ORANG LAIN." Zara kembali memutuskan sambungan telfonnya.
Ayyubi menggoyangkan ponselnya, apa ponselnya yang konslet, kenapa harus ada operator aneh yang terus menjawab telfonnya sih. Ayyubi mencoba sekali lagi.
Zara mulai geram, Zara menerima lagi telfon dari Ayyubi.
"BANDEL BANGET SIH,"ucap Zara.
Ia kembali memutuskan sambungan telfonnya, lalu menonaktifkan ponselnya, ia ingin sendiri, ingin mencerna nasehat dari Mas Renal. Mas Renal yang ada di sebelah Zara malah tergelak mendengar kelakuan adiknya yang begitu bar-bar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...Follow IG ku yah, Santy Isnawan...
Author Tunggu 200 komentar dulu, baru up lagi, hihi
Jangan lupa like dan komen,
Salam sayang,
Santy puji