Zara Ayyubi

Zara Ayyubi
Nasehat Bunda Dian



Akhirnya Zara sampai juga di toko Bundanya. Di depan toko terpampang tulisan besar "Zahra Cake."


Nama toko kue Bunda memang menggunakan nama Bunda karena Bunda mendirikan toko kue ini sebelum menikah dengan Pak Rama, Ayah Zara.


Sedangkan nama Zara itu gabungan dari nama belakang kedua orang tuanya. Zahra dan Rama jadi Zara. Gokil sih Bunda sama Ayah, gaul gitu, penuh inisiatif 😁.


Zara mengangkat dua kantong belanjaannya lalu masuk ke dalam toko dengan hati riang gembira. Menurut Zara hari ini tuh cape tapi manis😆.


Zara langsung berjalan masuk ke dapur toko. Lalu meletakan belanjaannya di atas meja besar. Zara melihat Bundanya sedang mengadoni kue. Zara lalu menghampiri Bundanya.


Zara duduk di samping Bundanya, menompang dagunya dengan kedua tangannya sambil melihat Bunda mengolah bahan kue. Zara tersenyum manis ketika Bunda Dian meliriknya.


"Eh, tumben pulang belanja senyum-senyum Kak? biasanya ceriwis, Bunda cape, Bunda pegel, Bunda laper,"Ledek Bunda Dian.


"Hehe, makasih ya Bunda, berkat hari ini Bunda nyuruh Zara belanja, Zara jadi ketemu cowo ganteng"


Bunda langsung menghentikan aktifitas mengadon kue, lalu melirik ke arah Zara.


" Zara, Gak boleh nakal,"ucap Bunda sambil menggoyangkan jari telunjuknya di depan Zara.


" Ih, iya, Zara tau, Gak boleh pacaran kan?"


Bunda langsung mengangguk mantap.


" Kan Zara cuma bilang, Zara ketemu cowo ganteng Bunda Dian Azzahra, bukan ngajak cowo pacaran, Bunda ih kaya gak pernah muda aja." Zara mengerucutkan bibirnya.


"Hey, justru karena Bunda sudah melewati masa muda, makanya Bunda mewanti-wanti kamu, Mas Renal, juga nanti Dek Rumi kalau sudah waktunya." Bunda kini melanjutkan mengadoni kuenya.


" Tapi Bunda dulu pasti pernah merasakan jatuh cinta kan?" tanya Zara mulai penasaran dengan kisah bundanya.


Bunda mengangguk, " Iya jelas pernah, cinta itu fitrah yang terkadang datangnya tidak disangka-sangka, tapi Bunda tetap tidak pacaran"


"Kenapa sih Bun, Bunda dilarang nenek juga yah?" Zara semakin penasaran.


Bunda menggeleng, " Nenek mah tidak terlalu banyak memberi peraturan ke Bunda"


" Terus kenapa Bunda gak pacaran? Bunda takut sakit hati yah?"


"Nanti dulu." Bunda menghampiri salah satu karyawannya, lalu memberikan adonan yang bunda buat pada karyawannya. Bunda berjalan ke westafel lalu mencuci tangannya, setelah itu mengambil 2 gelas air dan meletakannya di meja yang ada di depan Zara. Bunda lalu duduk di sebelah Zara.


Bunda meneguk air minumnya, Zara pun sama. Zara lupa belum minum sama sekali sepulang belanja tadi. Maklum lagi kasmaran, jangankan lupa minum, terkadang juga lupa dengan nama sendiri kalau sedang kasmaran mah😁.


"Bukan, Bunda bukan takut sakit hati, sakit hati itu sudah resiko orang mencintai, jadi jangan takut, hanya saja sahabat Bunda memiliki pengalaman buruk, dan itu jelas berpengaruh pada Bunda"


Zara benar-benar dibuat penasaran oleh Bundanya.


" Pengalaman apa Bun?"


Bunda menghirup nafas dalam-dalam lalu menatap Zara. Bunda mulai bercerita, Zaman masih muda dulu, pas Bunda masih kuliah, Bunda punya sahabat, nah sahabat Bunda ini pacaran kebablasan, sampai akhirnya hamil, namun brengseknya pacar sahabat Bunda tidak mau bertanggung jawab, akhirnya sahabat Bunda frustasi sampai sekarang, bahkan sampai gila. Tapi beruntungnya bayi yang dikandung bisa dilahirkan dengan selamat.


Zara mulai bergidik ngeri mendengar cerita Bundanya itu. Zara jadi berfikir selama ini Bunda sangat cerewet perihal pacaran bukan karena membatasi rasa cinta yang tumbuh tanpa disangka itu, tapi karena ingin menjaga anak-anaknya dari hal yang tidak di inginkan.


" Apapun bisa terjadi jika syetan sudah merasuk dalam diri manusia Kak."


Zara mengangguk mengerti, " Serem ya Bun"


"Islam sudah mengajarkan kita bagaimana cara mencintai yang benar Kak, bentuk cinta laki-laki itu dibuktikan dengan menikah, bukan hanya sekedar jalan wara wiri kesana kemari haha hihi tidak jelas Kak," Sambung Bunda mulai menasehati, apalagi Zara adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga Ahmad.


Zara mengangguk lagi, " Terus, anak temen Bunda itu sekarang di asuh siapa?" Zara masih saja penasaran dengan cerita sahabat Bundanya.


" Di asuh neneknya di kampung, Bunda juga masih suka jenguk di RSJ, kasihan sekali, kadang Bunda Gak nyangka aja dia akan menjadi seperti itu." Mimik muka Bunda berubah sedih.


Zara memegang bahu Bundanya, " Zara janji sama Bunda, Zara gak akan pacaran, Zara akan jaga kehormatan keluarga"


Bunda Dian tersenyum, Ah senyuman bunda memang sangat manis, menenangkan. Bunda mengelus rambut Zara dengan lembut.


" Bunda percaya sama kamu Kak"


"Kakak juga perlu tau banyak sekali kerugian yang dialami wanita jika sampai terjadi seperti itu, terus anak dari hasil perzinaan itu juga tidak mempunyai hubungan nasab, wali, nikah, waris, dan nafaqah dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. Anak hasil zina hanya memiliki hubungan nasab, waris, dan nafkah dengan ibu dan keluarga ibunya, jadi kasihan nanti, bayi tidak berdosa itu harus menanggung beberapa kerugian"


Zara semakin bergidik mendengar nasehat Bundanya, benar-benar sangat berbahaya ternyata. Haduh Bunda bisa pinter banget sih, Bunda pasti anak rohis nih dulu. Zara selama ini kemana aja sih, yang kaya gitu malah gak tau apa-apa. Zara berfikir sepertinya mulai sekarang Zara harus lebih banyak membaca buku tentang agama deh.


"Bunda ceritain dong kisah Bunda sama Ayah Rama dulu gimana?"


Bunda tersenyum malu, " Kak, dulu Bunda juga sama seperti kamu ataupunMas Renal. Waktu muda juga Bunda pernah naksir seseorang, tapi ya sekedar naksir. Apalagi kata teman Bunda, Bunda itu masuk dalam daftar wanita cantik di kampus"


Zara sengaja terbatuk, Bunda ini benar-benar yah tidak ada jaim-jaim nya ngobrol sama Zara. Tapi Zara mengakui di usia Bunda yang sudah setengah abad ini, aura kecantikan Bunda waktu muda masih terpancar jelas. Cantik Bunda memang paripurna😆.


"Dulu, Ayah Rama naksir Bunda waktu di kampus. Tau gak Kak, Ayah Rama itu di kedipin Bunda sekali aja langsung naksir, dua kali langsung ngajak nikah." Bunda tergelak sendiri.


"Dih Ayah yang super tampan masa sampai bucin sama bunda begitu." Zara sedikit protes.


" Yee, Bunda juga cantik banget kali Kak." Bunda benar-benar sangat percaya diri sekali, konyol lagi, Fix Zara gesrek berasal dari gen Bundanya😁😁.


"Terus, terus Bun?"


" Ya sudah, Ayah Rama melamar Bunda lah"


" Bunda langsung mau?"


" Iya, soalnya yang Bunda taksir itu memang Ayah Rama. Pada zamannya waktu itu, Ayah Rama itu juga banyak yang naksir lhoo, bahkan sampai sekarang, soalnya ayah kamu makin tua makin ganteng Kak"


Ya kali, suami sendiri di puji terus, Ucap Zara dalam hati🤭.


" Dih, Bunda hoki banget sih, kok bisa sih Bun?"


" Ya bisa lah, mau Bunda kasih tau gak caranya biar hoki begitu?"


Zara langsung mengangguk, Bunda langsung bercerita jika kita menginginkan jodoh yang baik, kita yang seharusnya lebih dulu memperbaiki diri. Jika kita mencintai seseorang, kita pinta pada Allah sang Maha pemilik cinta seluruh umat manusia.


Intinya, berawal dari diri sendiri dulu.


Zara menunduk, Zara merasa dirinya jauh dari kata baik.


" Jangan membandingkan kebaikan diri sendiri dengan orang lain Kak, tapi kita harus membandingkan diri kita di hari kemarin kita seperti apa, dan hari ini kita harus lebih baik dari kemarin"


" Iya Bunda, terimakasih yah, Zara sayang Bunda." Zara memeluk Bundanya dengan erat. Zara merasa beruntung lahir dari seorang perempuan sebaik Bunda, sepintar dan secantik Bunda.