Zara Ayyubi

Zara Ayyubi
Eh, Mas Ayyubi



Pagi ini Zara sudah bersiap-siap ke kampus. Seperti biasa Zara selalu sarapan bersama keluarganya. Tapi pagi ini sepertinya Mas Renal tidak ada di meja makan. Zara mengerucutkan bibirnya. Jika tidak ada Mas Renal suasana sarapan menjadi sepi.


" Bun, Mas kemana?"


" Ya biasa, subuh tadi mendadak ada pasien yang harus operasi"


" Oh, kasihan Mas"


" Ya sudah resiko dong Kak"


" Hari ini kuliah kan Kak?" Tanya Ayah Rama.


Zara mengangguk, " Ayah, Zara mau tanya, emangnya dulu ayah bucin banget ya sama Bunda?"


Ayah mulai mesam mesem, " Ya Bundamu dulu lumayan sulit di taklukan"


" Sok jual mahal ya yah," Ledek Zara.


"Ya memang mahal ," Celetuk Bunda.


"Dulu yang naksir Bunda banyak ya Yah?" Tanya Zara semakin penasaran.


" Iya banyak, Ayah sampe kualahan," Jawab Ayah sambil terkekeh.


" Bunda dulu cantik banget tau Kak,"kata Bunda jumawa.


"Dih, sombongnya mulai akut,"Ucap Zara sambil mencolek pipi Bundanya.


Bunda dan Ayah tergelak. Kalau mereka sudah tertawa seperti ini, Zara bahagia banget. Jarang banget Zara melihat Ayah dan Bunda bertengkar. Ayah dan Bunda ini termasuk dalam jajaran jodoh yang serasi.


Zara melihat Bunda sedang melayani Ayahnya makan. Mengambilkan nasi dan lauk pauk, otak Zara mulai berkelana kemana-mana, membayangkan jika dirinya sudah menikah nanti, dan menariknya yang Zara bayangkan adalah Ayyubi. Ah pasti indah sekali.


Zara mulai senyum-senyum sendiri, sejak bertemu Ayyubi otaknya sedikit konslet😆. Zara menggigit sendok yang dipegangnya sambil terus tersenyum.


"Kakak, mau makan sendok?" Suara Rumi membuyarkan lamunan Zara.


"Kak, nanti sendoknya ketelen lhoo, gak lucu kan, lagian kenapa sih senyum-senyum terus, keinget sama yang kemarin ketemu di Mall?" Ledek Bunda Dian.


Zara mengerucutkan bibirnya. Bunda Dian ini, kalau ngledek bener-bener nusuk jantung. Bikin Zara malu aja di hadapan Ayah Rama.


"Ih, Bunda mah kalau ngomong ..."


" Suka bener." Ayah juga ikut meledek Zara.


"Sepertinya anak gadis kita sedang jatuh cinta Bun," Ayah tak hentinya meledek Zara.


" Ih, Ayah sok tau,"


Eh sebentar, tapi apa bener sih aku jatuh cinta, kan baru ketemu sekali, dan gak tau juga bakal ketemu lagi atau engga, tapi kok rasanya fikiran aku gak mau lepas dari Ayyubi. Haduh Mas Ayyubi ... kalau ketemu sekali lagi pokoknya mau aku karungin aja, biar gak ilang lagi. Zara terus saja meracau dalam hati.


"Jatuh cinta boleh tapi ingat jangan pacaran!" Seperti biasa, dari sejak anak-anak Bunda beranjak remaja, Bunda sudah sering mengingatkan untuk tidak pacaran, jatuh cinta boleh ya tapi asal jangan pacaran aja.


"Kayanya laki-laki yang Zara temui di mall juga sepertinya bukan type laki-laki yang suka pacaran, masa jabat tangan aja gak mau Bun, katanya bukan mahram"


" Ya bagus itu laki-laki begitu Kak, tapi ya Bunda sudah memberi tau kamu kan, jodoh itu cerminan diri, kalau mau dapat yang baik, ya harus memperbaiki diri dulu, nih rambut, masih aja di umbar-umbar, kapan di tutupnya?"


Lagi-lagi Bunda mengingatkan agar Zara menutup aurat, tapi dasar Zara keras kepala, sulit sekali jika diberi tahu masalah aurat.


" Iya, biasanya laki-laki seperti itu ya maunya sama yang agamanya bagus juga Kak, kamu tau, Ayah sebagai laki-laki juga tidak mau jika keindahan yang ada di tubuh Bundamu di lihat oleh selain Ayah, gak rela Ayah." Ayah menambahkan siraman rohani pagi ini.


Yah seperti biasa, sarapan pagi akan di jadikan ajang ceramahan untuk putri tercinta. Ahmad Zara. Dan Zara tidak akan membantah atau apalah, Zara akan mendengarkan dengan baik, walaupun terkadang gak di lakuin. Zara memang sedikit bandel.


"Tapi pakaian Zara sopan kok Yah, Bun,"kata Zara sambil makan.


"Kakak, seorang muslim yang baik minimal harus memenuhi dua syarat, yaitu menjauhi dosa besar dan melaksanakan perintah yang wajib. Dosa-dosa besar dalam Islam seperti yang tersebut dalam Alquran dan hadits Nabi Muhammad, dan menutup aurat itu termasuk yang wajib, tanpa terkecuali dengan alasan apapun," ucap Ayah Rama, Ayah Rama sesekali melirik Zara.


"Ya, pokoknya Bunda dan Ayah tidak akan lelah untuk mendoakanmu Kak"ucap Bunda Dian, Bunda Dian memang Bunda terbaik, selalu mengerti isi hati anaknya, selalu menghargai pendapat anaknya. Zara bukan tidak mau menutup aurat. Dalam hatinya Zara juga begitu ingin seperti Bunda.


Selesai makan, Zara dan Ayah Rama berangkat ke kampus bersama. Zara meminta izin Ayah untuk turun di Maret-maret dekat kampus. Zara ingin membeli sesuatu disana. Ayah Rama mengizinkan lalu menurunkan Zara di depan Maret-maret dekat kampus.


Zara membeli keperluan wanita yang lupa dibeli nya, stok di rumah kebetulan sudah habis. Zara juga membeli beberapa cemilan.


Setelah membayar belanjaannya, Zara segera keluar dari Maret-maret, ia berjalan di trotoar menuju kampus. Namun di tengah jalan yang sepi Zara melihat ada beberapa preman yang berjalan menghampirinya.


Ingin melangkah mundur sudah kepalang tanggung, Zara berusaha sebiasa mungkin, Zara berfikir positif jika preman itu hanya sekedar lewat.


Zara dengan sekuat tenaga mempertahankan dompetnya. Haduh di dalam dompet itu terdapat beberapa surat-surat penting. Ketika preman itu ingin memukul Zara, Zara berjongkok lalu sambil memeluk dompetnya. Matanya terpejam.


Bugh... terdengar suara tonjokan seseorang.


Zara terkejut, ia meraba tubuhnya tapi tidak ada yang sakit. Zara membuka matanya. Zara melihat preman itu sedang berlari kocar kacir.


"Hah, apakah aku punya kekuatan ironman, dengan terpejam saja mereka langsung ngibrit ketakutan," Gumam Zara dalam hati.


"Bangun mbak, premannya sudah pergi,"ucap seseorang yang tengah berdiri di samping Zara.


Zara menengadah, melihat ke arah seseorang yang tengah menolongnya.


" Ya Allah, ya Rahman, Ya Rahim, Allah yang maha baik, maha pengasih dan maha penyayang, Mas Ayyubi,"


Dih, pokoknya Allah memang baik banget, gak ada yang menandingi deh. Zara di pertemukan dengan Ayyubi lagi, pasti juga atas izin Allah tentunya.


"Zara." Zara langsung berdiri.


" Ya, Allah, kamu gak apa-apa kan Ra?"


Sumpah demi apa, di khawatirkan Ayyubi, jantung Zara mau lompat. Tapi dengan sigap paru-paru Zara memegangi jantung Zara agar tidak lompat dari sarangnya😆😆.


" Alhamdulillah aku gak apa-apa Mas, makasih ya Mas"


"Iya, lain kali hati-hati yah"


Zara mengangguk, " Kita sudah di pertemukan 2x secara tidak sengaja ya Mas, nanti yang ketiga kalinya...."


" Dapet gelas selusin ya Ra" Celetuk Ayyubi.


" Dih, gelas mah murah Mas"


" Apa dong"


" Yang ketiga kalinya ya jadi jodoh Mas lah, hahaha" ucap Zara sambil tergelak.


Ayyubi juga ikut tergelak, entahlah kenapa Ayyubi selalu menikmati gombalan Zara. Gadis kecil itu menurutnya sangat lucu, terang-terangan tapi justru tidak terkesan murahan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sudah sampai episode 6 ini, bagaimana Readers? Jangan lupa like, komen dan Vote yah😘😘.


Salam sayang,


Santypuji