
"Berani maju? aku tusuk dadamu pakai ini biar meletus" Celetuk Zara.
Salsa langsung menghentakan kakinya di tanah sambil memaki-maki Zara.
Zara berniat akan mencari Dafa dan meminta pertanggung jawaban atas perbuatan mantan pacarnya yang bar-bar itu.๐คญ
Shelomita tergelak melihat Zara mengacungkan jarum pentul ke Salsa, walaupun dari jarak jauh tapu nampaknya memang ampuh untuk menakuti Salsa.
"Memangnya kalau dia maju, mau kamu tusuk beneran Ra?" tanya Shelomita yang masih tergelak.
"Ya lah, habis aku gemes." Zara juga ikut tergelak.
"Gwede banget ya Ra, tumpeh-tumpeh gitu, serem ih"
"Tau tuh, dalemnya isi granat kali,"Celetuk Zara.
Shelomita semakin tergelak sampai meneteskan air mata. Zara mempercepat langkahnya ke perpustakaan, sekalian ingin mencari Dafa juga.
Kampret memang NGGARANGAN satu itu, main asal ngaku-ngaku dekat dengan Zara.
Sesampainya di perpustakaan, Zara langsung masuk kedalam, matanya menelusuri setiap sudut perpustakaan. Saat manik matanya bertemu dengan sosok Dafa, Zara langsung menghampirinya. Tanpa ba bi bu be bo eh, kok jadi main ejaan kaya anak TK sih๐.
Zara menarik tangan Dafa, membawanya keluar dari perpustakaan. Ayyubi yang sedang berada di sebelah Dafa begitu geram melihat interaksi Zara memegang tangan Dafa.
Kenapa Zara jadi dekat dengan Dafa. Fix Ayyubi benar-benar tidak terima semua ini. Ayyubi tidak rela jika Zara jatuh ke tangan Dafa. Teman seperjuangan itu sangat terkenal dengan sebutan buaya cinta. Ayyubi tidak mau Zaranya terperangkap dalam jaring cinta milik Dafa. Eh kok Zaranya sih, hehe.
Ayyubi bangkit dari tempat duduknya, menyusul Zara dan Dafa keluar perpustakaan. Ternyata Shelomita juga ada disana. Ayyubi menghampiri mereka bertiga. Tampak Zara begitu marah dengan Dafa.
"Fa, jangan sembarangan ngaku-ngaku dong ke mantan kamu yang bohay itu, dia tuh tadi marah-marah ke aku, maki-maki segala macem, di sangka merebut lah, inilah itulah, Dafa aku nggak suka kalau kamu lancang gini." Zara meninggikan suaranya. Saat ini Zara dalam mode senggol bacok, matanya menatap Dafa dengan tatapan kemarahan.
Dafa masih tetep santai, "Ya kan kenyataan Ra, aku memang sekarang lagi mau deketin kamu,"ucapnya terkekeh seperti tak punya dosa.
Zara jadi tambah geram, ingin sekali menyumpal mulut Dafa dengan melonnya si bahenol. Sama-sama edan soalnya.
"Deketin-deketin gundulmu, aku nggak mau dideketin sama kamu,"Celetuk Zara.
"Maunya langsung di lamar, oke nanti aku lamar"
"Lamar-lamar lambemu, nih lihat, gara-gara kamu, liat tanganku, kecakar mantanmu yang bar-bar itu, harus buru-buru suntik tetanus ini"
"Ya ampun, coba aku lihat."Dafa berusaha memegang tangan Zara untuk melihat luka ditangan Zara.
Namun Ayyubi langsung menahan tangan Dafa. Ayyubi tidak suka Zaranya dipegang-pegang laki-laki lain.
"Eits, Zara punya wudlu," ucap Ayyubi. Dafa melongo, ia mengurungkan niatnya melihat luka di tangan Zara. Zara melirik Ayyubi lalu tersenyum manis. Ayyubi juga tersenyum tak kalah manisnya. Begitulah jikalau dua insan sedang dimabuk cinta, yang lain berasa ngontrak.๐๐
Ayyubi mengajak Zara dan Shelomita ke UKS, meninggalkan Dafa yang masih berdiri memaku didepan perpustakaan karena Zara melarangnya untuk ikut.
Sampai di UKS, Ayyubi mengambil Betadine dan kapas serta handsaplas. Ingin sekali ia menyeka luka di tangan Zara. Tapi otak warasnya masih bisa ia andalkan untuk tidak berbuat di luar batas.
"Ta, bersihkan dulu lukanya pakai Betadine, baru nanti di tempel handsaplas." Ayyubi memberikan Betadine serta kapasnya pada Shelomita. Shelomita segera membantu Zara mengobati lukanya.
Selesai mengobati luka Zara, Shelomita ke westafel mencuci tangannya yang terkena tetesan Betadine.
Ayyubi duduk di sebelah Zara,"Kenapa mesti berantem, jangan dekat-dekat Dafa Ra, Mas tau banget Dafa seperti apa"
Zara salah tingkah karena mata Ayyubi tidak berhenti memandangnya.
"Aku, nggak deket-deket Mas, ini tuh gara-gara kejadian kemarin itu, terus si Dafa kutu kupret itu juga ngaku-ngaku ke si bahenol kalau aku tuh lagi deket sama dia, kan kurang ajar, minta di tampol pake loyang Bunda kayaknya dia." Zara mengerucutkan bibirnya, ia masih merasa kesal dengan Dafa.
"Lain kali kalau ada apa-apa bilang ke Mas yah." Ayyubi masih menatap Zara dengan intens. Zara menunduk melihat lukanya, sesekali melirik ke arah Ayyubi. Kenapa sih Ayyubi makin ganteng, jakunnya naik turun sexy gitu. Haduh iman Zara jadi terombang ambing kaya melon si bahenol kalau lagi jalan๐.
Zara asal mengangguk, tawaran yang menggiurkan, mana bisa ditolak, hati bilang tidak, tapi kepala malah mengangguk, kan nggak waras yah๐. Cinta memang terkadang begitu, bikin otak nggak waras.
"Ehmm." Shelomita berdehem pelan sambil melirik dua insan yang tengah dimabuk asmara.
Ayyubi langsung berdiri, " Ta, titip Zara yah,"ucapnya sambil tersenyum.
Zara melongo, kenapa mesti di jaga, memangnya Zara bayi yang baru bisa merangkak apa. Shelomita juga seakan tersihir oleh perintah Kakaknya, ia menanggapinya dengan anggukan.
Ayyubi meninggalkan UKS. Shelomita mengajak Zara ke kantin, pagi buta sudah tempur, pasti energi sarapan tadi sudah lumayan terkuras. Mereka berdua memesan minum dan cemilan. Acara ke perpustakaan jadi tertunda deh.
Ponsel Shelomita berdering, Shelomita mengernyitkan dahinya. Ayyubi menelfonya. Dih lucu, tadi baru saja ketemu, kenapa sekarang tiba-tiba menelfon.
"Ra, Kakak telfon, curiga deh, mau apa coba,"ucap Shelomita. Shelomita menyuruh Zara untuk mendekat, Zara mendekatkan telinganya dekat ponsel Shelomita. Shelomita lalu mengangkat telfon dari Ayyubi.
"Assalamualaikum Kak, kenapa?"
"Waalaikumsallam, Zara masih sama kamu Ta?"
"Iya masih, kenapa memangnya?"
" Kirimin nomer ponsel Zara ya Ta, lewat WhatsApp aja yah"
" Hah?" Shelomita melirik Zara. Zara juga nampak terkejut.
" Nomer ponsel, kamu pasti punya lah"
"Ah ya, ah ya udah deh, ya udah dulu ya Kak, Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam"
Shelomita melirik Zara, "Boleh nggak Ra? gebetan sudah masuk perangkap nih sepertinya?"
Zara menggeleng, "Ih, takut Ra"
"Kenapa?"
"Aku takut kalau komunikasi intens pake hape, nanti aku pake hati, dia cuma pake jari, kan jatuhnya sakit Ta."
Bukan Zara tak ingin, malah ingin sekali bisa ber haha hihi dengan Ayyubi lewat telfon, tapi takut hati ini tidak bisa membatasi diri, nanti ujungnya berharap, dan berakhir dengan sakit hati, Zara tidak ingin itu terjadi.
"Nggak di kasih nih Ra?"
Zara masih tetap menggelang.
"Idih, sahabat ku yang cantik paripurna ini, sudah sok jual mahal ternyata."
Zara menonyor kepala Shelomita sambil tergelak. Shelomita juga ikut tergelak. Mereka lalu segera menghabiskan minuman mereka lalu bergegas ke perpustakaan.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Author: Mangap ya baru up, dede lagi panas nih badannya, tau sendiri kan kalau bocil lagi sakit, mintanya dikeloni terus sepanjang hari, apalagi anak q tuh masih belum bs mop on sama Asi, jadi tuh maunya peluk ibunya sambil d guyer2 tuh melon, gregeten kadang, kan udah mau 5 tahun yah.
Readers : Ah kalau yg ngguyer Paijo mah pasti lain ya rasanya?
Author : hih lambemu suka bener๐๐๐)
Jangan lupa, like, komen dan Vote.
Salam sayang,
Santypuji