
"Bun, Zara ke depan dulu yah, bantuin Mbak Nani di kasir." Zara mulai kepanasan berada di dapur, Zara memilih membantu Bundanya melayani pelanggan saja di kasir.
Bunda mengangguk, Zara segera keluar dari dapur. Zara mengikat rambutnya lalu menggulungnya. Zara sudah siap duduk di meja kasir.
Ting Tong, Tanda toko Zahra ada pelanggan yang masuk.
"Selamat datang di Zahra Cake,"ucap Zara diselingi dengan senyum manisnya.
" Assalamualaikum Zara Ahmad," Sapa Shelomita sahabat Zara.
Oh ya, apa kalian masih ingat, Shelomita anaknya Dokter Hafiz dan Bu Dosen Alisha. Sekarang sudah tumbuh besar nan cantik, dan siapa sangka, Shelomita ini sahabat Zara dari SMA sampai kuliah saat ini.
"Aku kira siapa Mit, sok pilih-pilih dulu baru nanti kita Gibah,hehe"
" Yee, aku kesini sama Budhe, jadi langsung pulang, gak bisa ngecrewes dulu Ra"
" Mana Budhenya?" Tanya Zara penasaran.
Zara keluar dari tempat kasir, tapi sebelumnya Zara menyuruh Mbak Nani untuk menjaga Kasir sebentar saja.
"Budhe, ini lhoo yang punya toko kue." Shelomita menggandengku menghampiri Budhenya yang sedang memilih kue.
Budhe Mita langsung membalikkan tubunya lalu memegang kedua lengan Zara.
" MasyaAllah, cantiknya, masih muda lagi"
" Ih Mita bohong tante, ini toko kue punya Bunda saya, bukan punya saya"
Zara tidak lupa mencium tangan Budhe Mita, lalu cium pipi kanan dan pipi kiri.
Zara terdiam sejenak melihat lebih intens wajah Budhe Mita yang ada didepannya. Kaya siapa gitu, mirip siapa gitu.
"Panggil saja tante Ganis"
"Oh iya Tante Ganis, tante Ganis itu cocoknya jadi kakak Mita, bukan Budhenya" Ujar Zara.
" Tante sudah tua Ra"
" Ih tapi kok masih cantik paripurna gini Tan, gak ada kerutannya juga, nanti bagi-bagi rahasianya yah Tan, biar awet muda." Zara begitu memuji Tante Ganis yang memang awet muda di mata Zara.
" Barter sama resep kue ya Ra," Celetuk Shelomita.
" Yee sembarangan aku bisa di uyel-uyel bin di gubes-gubes sama Bunda"
"Ta, Zara kok gak pernah di ajak kerumah sih?" Tanya Rengganis.
"Zara itu anak Bunda lhoo Budhe, kalau di ajak kerumah dia jawabnya gini, kata Bunda anak perempuan gak boleh nginep-nginep di rumah orang, pamali" Ujar Shelomita menirukan gaya bicara Zara.
Zara tergelak sambil memukul lengan Shelomita, " Dih, malah buka kartu,"
" Ya emang gitu kan"
" Iya Shelomita cantik"
Shelomita ini cantik banget dengan balutan jilbab pasminanya, sedangkan Tante Ganis menggunakan gamis dan jilbab yang menutup dada mirip Bunda. Wajah Tante ganis dan Shelomita tuh kaya ada manis-manisnya gitu.
Zara mempersilahkan Shelomita dan Tante Ganis untuk memilih-milih kue lagi. Zara lalu kembali ke kasir.
Beberapa menit kemudian, Tante Ganis berjalan menuju kasir lalu membayar beberapa kue yang dibelinya.
" Zara, kapan-kapan mampir yah ke rumah tante, nanti tante kenalin sama anak-anak tante"
" Insyaallah tante, memangnya anak tante berapa?"
" Sudah 2 Ra, yang 1 laki-laki sudah dewasa, yang 1 nya lagi perempuan, sudah SMA"
Zara melongo, " Cius Tan, tante masih secantik ini tapi anaknya sudah bujang?"
" Ih, kamu ini." Tante Ganis terlihat malu mendengar pujian dari Zara.
"Emaknya aja cakep, apalagi anak bujangnya, fix nanti Zara main, hehe, tapi kalau di bolehin Bunda"
" Ganteng dong anak Tante, kaya oppa korea"
" Iya, Zara percaya, soalnya mama nya saja mirip song hye kyo," Ledek Zara.
Tante Ganis tergelak, " Bisa aja kamu, ya sudah Tante mau ke kantor suami tante dulu yah, ada kepentingan mendadak"
" Oh ya tante, hati-hati, salam buat anak tante yang mirip oppa korea itu"
Setelah Tante Ganis pergi kini giliran Shelomita yang menghampiri Zara. Ternyata Shelomita tidak ikut dengan Budhenya karena Budhenya tidak pulang ke rumah, melainkan ke kantor Pakdenya.
Shelomita akhirnya memutuskan untuk kongkow saja dengan Zara di toko Bundanya.
" Ra, mochacino, sama kue tiramisu yah, yuk ah kita ngobrol," pinta Shelomita. Shelomita langsung memilih kursi yang ada di pojokan. Toko Bunda Zara ini juga menyediakan kursi yang nyaman untuk pelanggan yang ingin makan kue di tempat. Biasanya makan kue sambil ngopi atau ngejus.
Zara masuk ke dapur toko terlebih dulu, meminta izin pada Bunda, Zara ingin ngobrol dengan Shelomita. Dan Bunda Dian yang baik hati ini langsung mengizinkannya karena memang Zara disini hanya sebatas membantu. Apalagi Zara tadi pagi sudah membantu berbelanja juga.
Zara membawa pesanan Shelomita dan capucino miliknya. Zara duduk di sebrang Shelomita.
" Mit, aku mau curhat?"
" Curhat apa? di kejar si kampret itu lagi"
" Dih, bukan Mit"
" Terus?" Mita mulai menyesap kopinya dan memakan kue yang ia pesan.
" Aku kan tadi belanja, aku ketemu cowo ganteng banget Mit, soleh lagi." Zara menompang dagunya dengan kedua tangannya sambil tersenyum-senyum.
" Dih, edan ya, senyum-senyum sendiri"
Zara tergelak, " Sumpah Mit, semoga saja jodohku"
" Punya nomor ponselnya? tau rumahnya dimana? tau alamatnya gak?"
Zara menggeleng, Shelomita malah tergelak.
" Terus PDKT nya gimana" tanya Shelomita.
" Ya pake doa lah"
Shelomita mengoleskan cream kue ke hidung Zara,
" Dih, gaya banget sih"
Zara malah mencolek hidungnya dan menjilat cream yang kini sudah berpindah di jemari telunjuknya.
Shelomita menggelengkan kepalanya.
"Kalau nantinya bukan jodoh kamu, gimana Ra?" Ledek Shelomita.
Zara menatap Shelomita, " Ya aku ajak berantem jodohnya, kalau aku menang, berarti cowo itu buat aku"๐๐ suka-suka Zara deh.
" Ih, dasar Edan, sadar ih"
" Aku tikung di sepertiga malam Mit," celetuk Zara.
Shelomita tertawa terbahak-bahak, " Sholat subuh aja kesiangan terus, gaya banget mau sholat di sepertiga malam"
Zara mencomot mulut Shelomita, " Ih, cucuke ini lhoo, gemes aku"
Shelomita kembali tergelak, "Gimana sih kamu Ra, kenalan tapi gak minta nomer ponsel, atau tanya alamat, atau kerja dimana gitu, kuliah dimana gitu"
Zara menepuk jidatnya," Iya ih, lupa Mit, harusnya malah langsung aku karungin aja tuh cowo, cakep banget kalau buat pajangan di kamarku"
Shelomita mencubit lengan Zara, " Perawan, bangun woy, ngimpi terus ih"
Zara lalu menceritakan pertemuannya dengan cowo ganteng itu ke Shelomita. Zara tidak menyebut nama, yang ia sebutkan hanya cowo ganteng mirip oppa korea.
" Laki-laki seperti itu mana mungkin masih jomblo Ra, jangan-jangan malah sudah punya istri lagi"
Zara melirik Shelomita, " Gak mungkin, bodynya aja bukan seperti Bapakable atau suamiable kok"
"Emang body bapak-bapak ada ciri khususnya ya Ra" tanya Shelomita.
" Iya lah, coba deh liat foto ayah kamu waktu bujang dan bandingin sama sekarang, kalau sudah jadi bapak-bapak bodynya udah mleber-mleber, perutnya udah mlendung-mlendung, pokoknya melar gitu deh." Ah Zara jadi bayangin Ayah Rama, tapi Ayah Rama tetap ganteng walaupun badannya sudah melebar๐.
" Terus berarti cowo yang di mall itu lajangable gitu?"
Zara mengangguk. Ah Zara dan Mita ini lagi ngomong pake bahasa apa sih, Gak danta banget๐๐.
"Wajahnya tuh teduh, kalem, soleh lagi, kenalan aja gak mau pegang tangan aku, bahunya juga sandaranable banget Mit, enak buat sandaran di kala banyak beban hidup gitu"
" Sa ae dasar," Celetuk Shelomita.
Ya begini lah jika kedua manusia yang berstatus sahabatan ini sudah bertemu. Ada saja bahan celotehan yang akan mereka obroli.