
"Bunda, Zara minta resep bikin bolu ketan item dong,"ucap Zara saat makan malam bersama dengan keluarganya.
Bunda melirik Zara, "Tumben, mau buat apa?"
"Ya mau latihan bikin Bun."Zara tersenyum malu.
"Tumben banget soalnya lhoo"
"Ah, Bunda ih, kan gini-gini juga Zara pengen banget lhoo jadi penerus Bunda, Bunda yang cantiknya ngalahin Ashanti, Bunda pinter masak kaya chef Renata, ajarin Zara yah." Zara mengerlingkan matanya.
Zara nih emang yah, bisa aja, saking cerdiknya, kancil aja pasti minder kalau ketemu Zara.
"Iya nanti Bunda ajarin, tapi nanti kalau libur temenin Bunda belanja yah"
Et dah Bunda, ternyata gak kalah pinter dari Zara, Eh iya, kan memang induknya. Selalu saja harus ada timbal baliknya.
"Siap Bun"
Buat Ayyubi apa sih yang engga, ciat ciat ciat.
"Eh Kak, mahasiswa Ayah juga ada lhoo yang suka banget sama bolu ketan item, ayah pernah di kasih, pas di buka bungkusnya, eh ini kue dari toko Bunda,"Goda Ayah Zara sambil mesem-mesem ke arah Zara.
Astagfirullah, Pak Ahmad Ramadhan ini ya, suka mancing-mancing, semoga saja Bunda gak faham cerita Ayah.
"Kan kue Bunda dicintai banyak kalangan"ucap Bunda sambil terkekeh.
"Tapi cinta Bunda hanya untuk Ayah kan Bun, tidak untuk semua kalangan" Goda Ayah pada Bunda.
"Iya dong pah"
Ya Allah, jiwa jomblo Zara meronta melihat keuwuan Pak Ahmad Ramadhan dan Ibu Dian Azzahra. Tega sekali mereka. Oh, Ji chang wook, culik Zara dong, lemes duduk disini liat mereka mesra-mesraan.
"Udah ih, emang gak pada liat apa di kening Zara nih, ada tulisan halalin dong, malah mesra-mesraan depan Zara. Mana gak ada Mas Renal, Zara galau sendirian kan"
Ayah dan Bunda tergelak. Bunda mengusap rambut Zara perlahan.
"Bun, Mas Renal kok gak pulang-pulang sih, sepi banget"
"Besok sepertinya"
"Yee"
Zara begitu senang, walaupun saat ada Mas Renal pasti tidak lepas dari pertengkaran, tapi jika tidak ada pasti Zara merasa kesepian. Namanya juga hubungan kakak beradik pasti merasakan bertengkar, akur lagi, bertengkar lagi, juga kangen.
...***...
Hari ini Zara sudah berada di kampus. Jadwal hari ini begitu padat. Zara kuliah dari pagi sampai jam 2 siang nanti.
"Ra, ada kuis kan hari ini" tanya Shelomita.
"Iya Ta, ekstrim hari ini ih, jadwal padat, mata kuliah berat-berat lagi, siap-siap ngebul pokoknya"
Shelomita menepuk keningnya.
Jam pertama sudah selesai, Zara dan Shelomita buru-buru ke kantin untuk membeli minuman juga cemilan.
"Eh Ta, kakakmu, ada kan yah? coba gitu lewat, biar aku makin semangat gitu"ucap Zara sambil terkekeh.
"Mau kuliah apa mau ketemu Kak Ayyubi sih" tanya Shelomita.
"Ya dua-duanya dong, sekali dayung, dua pulau terlampaui"
"Pret ah"
Zara dan Shelomita terkekeh.
Zara dan Shelomita kembali masuk kelas dan berkutat dengan pelajaran lagi.
...***...
Tak terasa sudah jam 2 siang, selesai sholat Zara ingin secepatnya pulang. Zara bergegas ke parkiran. Sementara Shelomita pergi ke perpustakaan mencari buku materi untuk besok.
Sesampainya di parkiran Zara melihat Mas Ayyubi yang sedang menghampiri mobilnya. Zara tidak segan menyapanya.
" Mas"
"Zara"
Ayyubi dan Zara saling tersenyum. Zara ingin menghampiri Ayyubi namun tidak jadi karena ada seseorang yang memanggilnya juga.
"Zara"
Zara mengernyitkan dahinya, Zara langsung menengok ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Astagfirullah, si jablud lagi, ngapain sih Danis kesini" Gumam Zara.
Zara melihat Mas Ayyubi hendak masuk kedalam mobilnya namun segera Zara panggil.
"Mas Ayyubi"
Zara berlari menghampiri Ayyubi.
"Mas, tolongin aku Mas, sekali lagi Mas"
Ayyubi nampak bingung," Minta tolong apa?"
"Ada cowo itu tuh yang lagi jalan ke arah sini, dia itu ngejar-ngejar Zara terus, bosen Zara Mas, cowo itu yang ngejar Zara juga waktu di mall itu lhoo, yang Zara ngaku-ngaku jadi pacar Mas itu, ayo Mas bantuin Zara sekali lagi yah" Zara nampak begitu memohon pada Ayyubi.
Hadeh, malah jadi repot kan, tapi sudah kepalang basah, nyebur sekalian aja lah. Maafin Zara ya Mas Ayyubi, kita berdua harus nyebur berdua deh, Eh tapi kalau nyeburnya bareng Mas, Zara rela jiwa raga dunia akhirat dah, hehe.
Denis menghampiri Zara dan Ayyubi.
Zara mengangguk pelan, "Liat kan kita satu kampus"
"Zara, tapi aku masih cinta sama kamu, maafin kesalahan aku" Denis masih saja berusaha memohon pada Zara.
"Halah, ciu ya ciu, vodca ya vodca, pinter banget bilang I Love You, nyatanya meninggalkan luka,"ucap Zara.
Ayyubi ingin sekali tergelak, tapi ditahan sebentar, untung saja Ayyubi segera sadar bahwa saat ini dirinya sedang acting membantu Zara.
"Udah ayo Mas" Zara membuka pintu mobil Ayyubi.
"Hah, mau ngapain?"
Zara mengerlingkan matanya.
"Mas tadi kan Mas mau antar Zara pulang"
"Ah ya sudah ayo masuk"
Zara dan Ayyubi masuk kedalam mobil. Denis menatap Zara dengan kecewa.
Ayyubi segera menjalankan mobilnya.
"Mas nanti muter-muter depan kampus, sampai si kutu kupret itu pergi"
"Oke"
Haduh, hati Zara langsung berbunga-bunga, makasih Denis, hahaha, walaupun cuma muter-muter depan kampus, tapi ini sudah termasuk kemajuan, kemajuan Zara mendekati Ayyubi.
Zara melihat Ayyubi yang sedang menyetir pelan tapi serius. Ih Ayyubi itu ya, kalau lagi serius nyetir, gantengnya tambah jadi 3 kali lipat.
"Itu tadi mantan kamu ya Ra?"
Zara mengangguk pelan, " Itu mantan tidak sengaja, nyesel deh bandel gak dengerin kata Bunda, malah jadi kaya gini"
"Dia tuh mutusin aku gara-gara dulu aku masih SMA, dan dia udah mulai kuliah, katanya malu anak kuliahan pacaran sama anak SMA, kan alasan yang absurd" Sambung Zara.
Ayyubi tertawa, "Ya udah, jangan ulangi lagi, inget kata Bunda"
"Iya Mas"
"Ra, 50.000 tahun sebelum kita lahir, Allah sudah menuliskan garis jodoh kita, mau menjalin hubungan seperti apapun kalau tidak jodoh ya tidak akan jodoh, tapi misal walaupun sebelumnya belum pernah bertemu tapi memang jodoh, ya pasti Allah akan pertemukan, pacaran itu peluang sakit hati jagain jodoh orang Ra"
Zara menatap Ayyubi yang sedang menasehatinya. Tuh kan malah di nasehati, kan Zara jadi pengen di bimbing Ayyubi, hehe🤭🤭.
"Makasih ya Mas, iya gak lagi-lagi kok, itu yang pertama dan terakhir"
Ayyubi mengacungkan jempolnya pada Zara.
Zara tersenyum, "Gak pake saranghaeyo Mas?" Goda Zara, padahal ngarep juga sih,hihi.
Ayyubi geleng-geleng, " Belum waktunya"
"Berarti nanti ada waktunya dong?"
" Ya tergantung"
"Tergantung takdir Allah"
"Ya Allah, jadikan Mas Ayyubi jodoh Zara, kalau gak jadi, ya tolong jadikan dong"
Ayyubi tersenyum, "Gak boleh nakal"
Zara mengacungkan jempolnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai Readers semua, q lg seneng banget nih akhirnya pulang kampung, kangen bgt sama mama, jd klo up lambat harap maklum yah, 3 hr dsni mau d puas2in.
Jangan lupa like komen dan Vote.
Salam sayang,
Santypuji