Zara Ayyubi

Zara Ayyubi
Bertemu Shelomita



Malam ini terciptalah kesepakatan dari kedua belah pihak. Zara akhirnya pasrah demi Bundanya yang terlihat sangat menyukai Dafa. Dafa dan Zara bisa saling mengenal selama 6 bulan hingga nanti setelahnya jika mereka cocok, mereka akan langsung menikah.


Setelah keluarga Dafa pulang, Bunda dan Zara merapikan meja makan. Zara masih dalam mode diam, ia masih syok dengan kejadian malam ini. Mas Renal dan Ayah sudah masuk kedalam kamar.


Selesai membantu Bunda merapikan meja makan, Zara berpamitan pada Bundanya masuk kedalam kamar. Zara merebahkan tubuhnya di atas kasur. Fikirannya melayang jauh, jauh ke belakang, mengenang kembali pertemuannya dengan Ayyubi si tampan yang menyejukan seperti ubin masjid.


Senyumnya mengembang ketika teringat Ayyubi memintanya untuk saling menjaga hati masing-masing. Namun kembali murung ketika mengingat kejadian siang tadi. Kenapa hati manusia begitu mudah berubah, fikirnya.


Lelah terus mengenang masalalu hingga tak terasa Zara akhirnya terlelap juga, bahkan masih menggunakan gamis cetarnya, riasan di wajahnya juga lupa dibersihkan. Biarlah menjadi jerawat, luka jerawat tidak sesakit luka di hatinya karena takdir begitu cepat berbelok ke arah yang tidak disangka-sangka.


Zara terbangun jam 3 pagi. Saat banyak orang tenggelam nyenyak dalam tidurnya, Zara sucikan diri, dia gelar sajadah, kemudian dia tegakkan shalat berdialog dengan Allah. Di bacanya ayat-ayat-Nya dengan khusyu’ dan khidmat. Terasa begitu dalam kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian menyelinap di dasar hati saat berdialog dengan Allah. Bersimbah air mata ketika merenungi kekhilafan diri. Zara mengingat semua segala kekhilafan diri selama ini, mungkin saat ini waktunya untuk menebus segalanya.


Zara mencoba berfikir positif, Allah sudah lebih tahu jodoh yang mana yang benar-benar mempunyai cinta terbaik untuknya. Zara cukup percaya pada ketentuan-Nya, karena sesungguhnya hanya Allah lah yang maha sempurna dalam memasangkan hati hamba-hambanya.


***


Pagi harinya Zara ikut berangkat kuliah dengan Ayahnya, padahal seharusnya jadwal kuliahnya jam 11 siang, tapi Zara ingin bertemu Shelomita. Zara ingin curhat banyak dengan Shelomita, begitu juga dengan Shelomita yang entah ingin membicarakan apa dengan Zara, katanya sih penting.


Subuh tadi mereka sudah menentukan tempat untuk bertemu, bukan di toko kue Bunda, tidak mungkin Zara membicarakan laki-laki lain selain Dafa di toko kue Bunda, bisa di lempar sipatula kalau Bunda dengar.


Shelomita mengirim alamat cafe menggunakan google maps. Cafe yang ia pilih cocok untuk ngobrol ngalor ngidul bersama Zara. Cafe itu ternyata tidak jauh dari rumah Shelomita, menang banyak Shelomita ih. Zara meminta tolong Ayahnya untuk mengantarkannya kesana. Ayahnya dengan senang hati akan mengantar Zara.


Di dalam mobil Zara nampak lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Ayah Rama sesekali melirik ke arah Zara, namun Zara masih kembali acuh tak acuh.


"Kak, Cinta yang nampak baik didepan mata kita tentu akan kalah dengan cinta yang telah Allah persiapkan untuk kita. Hal ini menunujukkan bahwa bahwa hanya Allah lah Dzat yang maha mengatur cinta pada setiap hati hamba-hambanya.


Allah sudah lebih tahu jodoh yang mana yang benar-benar mempunyai cinta terbaik untuk kita. Tidak cukupkah kita percaya pada ketentuan-Nya, karena sesungguhnya hanya Allah lah yang maha sempurna dalam memasangkan hati hamba-hambanya. Masih ada waktu 6 bulan, dan dalam waktu 6 bulan itu, apapun bisa terjadi, jalani saja dulu Kak, insyaAllah kakak akan menemukan hikmah di balik ini semua nantinya, Ayah tahu siapa yang ada di dalam hati kamu,"ucap Ayah Rama.


Zara melirik ke arah Ayah Rama, " Doain Zara ya Yah, Zara percaya Allah pasti akan memberikan jodoh yang terbaik untuk Zara."


Ayah Rama tersenyum lalu mengelus kepala putri kesayangannya itu. Biarkanlah kejadian ini yang akan mendewasakan Zara kelak.


Ayah Rama mengantarkan Zara sesuai dengan petunjuk google Maps. Zara turun dari mobil lalu melambaikan tangannya pada Ayah Rama yang langsung segera berangkat ke kampus.


Cafe Ruang Rindu, Zara meneguk salivanya. Kampret si Shelomita, kenapa mesti kesini coba. Ruang rindu? Cih, belum juga sempat rindu sudah sakit hati duluan. Zara segera masuk kedalam, dan jreng jreng jreng, hampir semua pengunjung datang bersama pasangannya. Menikmati sarapan sepiring berdua.


Hoah, mendadak Zara mulai gerah, apalagi Shelomita belum terlihat juga batang hidungnya, padahal cafe ruang rindu ini dekat dengan rumahnya. Shelomita minta di getok rupanya.


Zara memesan mochacino terlebih dahulu untuk mengurangi rasa gelisah dalam dirinya menyaksikan beberapa pasangan yang begitu mesra.


15 menit kemudian Shelomita datang dengan senyuman manisnya seperti tak punya dosa. Zara segera mencebikkan bibirnya, memasang wajah masam pada Shelomita.


"Maaf yah, telat, macet,"ucap Shelomita sambil nyengir kuda.


"Heh, bilang nya otw, otw, please deh, jarak dari rumah kamu ke cafe ini itu cuma nglewatin dua polisi tidur, macet? macet dimana? pasar tumpah? grobak dangdut? apa ada pejabat lewat, apa ada bubaran ibu-ibu habis erobik? jangan ngadi-ngadi Shelomita. Dari rumah kamu kesini cuma nglewatin satu grobak mie ayam, dua warung bensin eceran, sama gapura selamat datang, gara-gara otw palsu kamu, jiwa jombloku meronta-ronta ngliat mereka yang ada disini mesra-mesraan. Aku di sini bengang bengong kaya anak itik kehilangan emaknya, tega banget kamu Ta,"ucap Zara menunjukan wajah kesalnya.


Allahuakbar, Shelomita melongo, Zara bisa hafal sekali jalan menuju arah rumahnya, bahkan hafal ada warung bensin eceran yang ada di dekat komplek rumahnya, cinta memang membuat seseorang menjadi tidak waras.😆😆😆


"Maaf sayang, sudah-sudah marahnya, aku mau bicara penting nih." Shelomita mengelus punggung Zara.


Setelah itu Shelomita mulai bercerita masalah Ayyubi dan Aira. Zara mendengarkan dengan seksama. Ada segelenyer dalam hatinya yang sakit saat mendengar cerita Shelomita.


Hanya ada satu kata yang cukup mewakili hatinya yaitu kecewa. Kekecewaan ini karena apa yang diimpikan tidak sesuai dengan rencana. Apa iya manusia butuh jatuh sakit untuk tahu arti sehat, manusia butuh sakit hati untuk belajar mendapatkan cinta sejati. Entahlah.


Mata Zara mulai berkaca-kaca, dadanya sesak. Shelomita menjadi bingung, bukankah harusnya Zara merasa senang, kenapa malah menangis. Apa menangis terharu.


" Nggak sampai menangis juga kali Ra, aku tahu kamu bahagia banget kan denger ini," Ledek Zara.


Zara menggeleng, Zara menatap Shelomita dengan air mata yang sudah bercucuran, ia tidak perduli ketika banyak pasang mata yang mulai memperhatikannya.


"Ra, kenapa?" kamu masih bisa kok sama kakak aku, jalan untuk kalian bersama terbuka lebar, kenapa malah sedih?"


"Aku ... aku semalam di lamar Dafa"


"What?" Shelomita memekik begitu keras hingga semua pengunjung melihat ke arah meja mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Maaf ya kemarin nggak up, q masuk angin gaes, gegara yang air mati itu, q malam2 nyuci sama nampung air, jadi masuk angin, badan pada pegel semua, d kerok d pijit minum neoremasil, trs d suruh tdur sama paksu ga bleh oret2 dulu, jadi tdur seharian, bangun2 emang enak banget badannya)


Author Tunggu 200 komentar nangkring di episode ini, baru nanti q lanjut, okeh.


Salam sayang,


Santypuji