
" Ih kamu hafal banget Ra, sudah kaya barista aja." Ayyubi meminum kopinya. Begitu juga dengan Zara.
" Satu rasa, satu jiwa, kaya aku sama kamu kalau sudah halal nanti Mas." Zara mesem manis, manis banget.
Zara lalu mengeluarkan coklat dalam saku kemejanya. Zara membukanya lalu memotong coklatnya dan memberikan potongan coklatnya pada Ayyubi.
"Nih"
Ayyubi menerimanya, memasukan potongan coklatnya kedalam mulutnya.
"Mas, kalau coklat sesuapnya bikin KRASAN dari pada seteguk janji gombalan🤭." Zara mesam-mesem lagi.
"Wah, berarti ini seteguk gombalan dong?" Ayyubi menunjukan kopinya.
"Tulisan yang ada di gelas kopi itu sih gombalan, tapi janji Zara buat mencintai Mas sih nggak gombal kok." Zara terkikik.
"Haduh, benteng pertahanan bisa roboh juga nih lama-lama, digombalin terus,"ucap Ayyubi.
"Kalaupun gak roboh, nanti aku sewa bulldozer buat robohin"
" Memangnya hati aku tembok raksasa apa?"
Zara tertawa, Ayyubi pun ikut tertawa. Ih berasa mimpi, pengennya itu detik ini juga dunia berhenti berputar. Eh kiamat dong. Ih belum kewong, jangan kiamat dulu. Maksudnya berhenti berputar agar momen indah ini jangan cepat berlalu. Itu sih maunya Zara.🤭😆
"Zara, kemarin kamu cantik pakai gamis dan jilbab itu, aku suka,"ucap Ayyubi.
Zara melongo, hah, Ayyubi suka?
Hati berasa mau salto nih saking senengnya.
"Maksudnya suka sama penampilanmu, maaf"
Ah asem, kirain suka sama orangnya. Padahal Zara udah ngarep pake banget. Yah melayang sudah.
"Ada keinginan sih, tapi entahlah kapan." Zara tiba-tiba menunduk.
"Zara, boleh nggak kalau aku bicara lebih banyak?"
Ih ya ampun, mau bicara sehari 24 jam non stop juga pasti Zara dengerin ayang Ayyubi. Apa sih yang nggak buat kamu. ciat...ciat...ciat.
Zara mengangguk, " Boleh"
Ayyubi tampak serius. Buset ini kok malah jadi mencekam yah suasananya.
" Zara, Hijab adalah bagian dari tubuh seorang muslimah, dan menjadi penutup dirinya, alat rasa malunya, tanda kehormatannya, jalannya untuk menggapai cinta Allah, serta tangga mencapai surga-Nya yang insya Allah paling indah. Jika seorang Muslimah berhijab, maka pada hakikatnya ia telah berusaha menunaikan salah satu perintah Allah dan Rasul-Nya."
Zara mengangguk, "Ya aku tau Mas"
" Zara, apakah kamu mencintai ayahmu?"
Zara mengangguk, "Cinta banget, Ayah Rama itu cinta pertama Zara, laki-laki yang Zara kagumi juga"
Ayyubi manggut-manggut, " Zara, laki-laki itu punya 4 pertanggungjawaban di akhirat kelak. Dirinya, istrinya, anak perempuannya, saudara perempuannya. Walaupun aku yakin Pak Rama sudah pernah menasehatimu, bahkan mungkin sudah berkali-laki, Zara ringankan beban ayah dan suamimu kelak jika kamu memang benar-benar mencintainya"
Zara tertunduk, Zara merasa apa yang dikatakan Ayyubi benar. Untuk saat ini kebandelannya akan berimbas pada Ayah yang begitu menyayanginya.
"Lihat, itu ayah Rama," ucap Ayyubi sambil menunjuk ke arah ruang dosen.
Zara langsung menengok, dilihatnya Ayah rama yang masih sangat gagah walau usianya sudah tak muda lagi, Ayah Rama sedang berjalan, menenteng buku dan leptop. Ayah Rama yang tak kenal lelah memberikan ilmu-ilmunya pada mahasiswanya. Ayah Rama yang selalu memanjakan Zara. Memberikan yang terbaik untuk Zara.
"Zara, apa kamu yakin akan memberikan beban berat kelak di akhirat untuk Ayahmu?"
Mata Zara mulai berkaca-kaca, " Mas, makasih ya sudah mengingatkan Zara"
Zara langsung berlari ke arah toilet. Apa yang Ayyubi katakan benar-benar menyentuh hatinya. Ayyubi mengetuk hatinya, mengetuk bagian yang terdalam, yang selama ini sulit sekali tersentuh.
"Ra, Lhoo... Ra mau kemana?"
Ayyubi bingung, kenapa tiba-tiba Zara menangis. Ayyubi mengingat lagi, takut ada salah kata.
Tiba-tiba Aira si gadis cantik nan berjilbab itu menghampiri Ayyubi yang masih duduk diam menunggu Zara keluar dari toilet.
"Ayyubi, kok disini?" tanya Aira.
"Nunggu Zara"
"Hah, Zara" Aira tampak terkejut.
"Kamu sekarang deket banget sama Zara"
"Dia kan teman Adik aku, aku juga sudah menganggapnya kaya adik aku sendiri,"ucap Ayyubi.
Tanpa disadari ternyata Zara sudah ada disampingnya.
"Ehmm, Mas, aku ke kelas dulu yah,"ucap Zara.
"Ra"
"Aku ada kelas Mas, makasih ya"
Zara lalu berjalan menuju kelasnya dengan perasaan kecewa. Mas Ayyubi hanya menganggapnya adik. Rasanya lebih sakit dari kata aku tidak mencintaimu.
Mas Renal, hati adek kepotek-potek Mas, tolongin Adek Mas, Zara minta obat Mas, obat sakit hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Udah mulai nih, mulai kepotek-potek🤭🤭🤭)
Jangan lupa, like, komen dan Vote.
Salam sayang,
SantiPuji