Zara Ayyubi

Zara Ayyubi
Aneh



"Ra, mungkin ini sudah rencana Allah. Rencana Allah padamu lebih baik dari rencanamu. Terkadang Allah menghalangi rencanamu untuk menguji kesabaranmu, perlihatkanlah kepada-Nya kesabaran yang indah. Tak lama kamu akan melihat sesuatu yang menggembirakanmu. Kita hanya bisa berencana. Tapi Allah lah yang menentukan.


Maka janganlah terlalu berharap kepada rencana kita. Tapi berharap lah yang terbaik di sisi-Nya,"ucap Shelomita sambil mengelus punggung sahabatnya.


Zara mengangguk, "Iya kamu benar Ta, aku yang salah, terlalu terburu-buru dengan rencanaku, terlalu percaya diri dengan rencanaku."


"Ta, aku mau pulang, aku mau cari Ayah, tolong rapikan eylenerku yang luntur Ta," Sambung Zara.


Shelomita hanya mengusap air mata di pipi Zara,


"Eylener Bunda Dian pasti mahal, buktinya tidak luntur walaupun di guyur pakai air matamu Ra."


"Nih, lap ingusnya." Shelomita memberikan beberapa lembar tisu pada Zara. Zara langsung mengelap ingusnya tanpa jijik didepan Shelomita. Ah dasar Zara.


"Makasih ya Ta, aku cari Ayah dulu ya."


Shelomita mengangguk, Zara lalu berjalan memasuki gedung lagi, mencari Ayahnya. Sementara Shelomita berjalan menghampiri keluarganya, menahan amarah pada Ayyubi. Shelomita berencana akan bertanya banyak hal pada kakak sepupunya itu, tapi nanti setelah pulang ke rumah.


Zara yang sedang mencari Ayahnya tiba-tiba bertemu dengan Dafa dan keluarganya. Tante Melani, Mama Dafa yang merupakan Ibu-ibu sosialita di komplek perumahan Zara menghampiri Zara.


"Eh, calon mantu juga ada disini,"ucapnya yang tiba-tiba langsung memeluk Zara.


Zara melongo, bingung, ada apa sih tetangganya yang satu ini, heboh sekali. Dafa juga tersenyum pada Zara dan meminta Zara untuk berfoto berdua untuk kenang-kenangan. Zara mengabulkan keinginan Dafa karena tidak ingin memberi kesan buruk di hari bahagia tetangganya itu. Sesekali bolehlah.


"Zara kok ada disini?"tanya Pak Bandi, Ayah Dafa.


Zara tersenyum,"Nemenin Ayah Om, ini lagi cari Ayah, mau ngajak pulang,"jawab Zara.


"Eh, kita foto sekelurga yuk bareng Zara," Bu Melani langsung meminta tolong salah satu orang yang tengah berlalu lalang untuk memfoto mereka. Zara semakin tidak nyaman, kenapa sih bisa-bisanya terjebak didalam keluarga rempong ini.


"Tante, Zara mau cari Ayah dulu yah."


"Eits, kita pulang bareng saja Ra, Ayah kamu pasti masih banyak urusan,"celetuk Dafa.


"Iya benar sekali, yuk pulang bareng Tante saja yuk, ini sudah mau pulang." Tanpa menunggu persetujuan dari Zara, Bu Melani langsung menggandeng tangan Zara keluar dari gedung menuju parkiran. Zara pun hanya mampu mengekorinya. Kenapa sih kok bisa nurut gini, bagaikan kerbau yang di cucuk hidungnya. Hais...Mungkin Zara sudah lelah, jadi ingin cepat sampai rumah.


Zara dan Bu Melani jarang bertemu, hanya saling sapa sesekali karena memang kesibukan masing-masing. Jika Bunda Dian memiliki toko kue Zahra, sedangkan Bu Melani memiliki toko baju pengantin dengan fasilitas Wedding Organizer juga. Mereka wanita-wanita tangguh dengan segudang kesibukan. Tapi jika dengan Bunda, Bu Melani cukup akrab, karena sering kali Bu Melani memesan kue pernikahan pada Bunda.


Zara benar-benar diantar sampai depan rumahnya. Jika bersama dengan keluarga Dafa bagi Zara tidak masalah, tapi jika diantar hanya berdua dengan Dafa, pasti Zara tolak mentah-mentah. Zara tahu betul, Dafa sudah menyukainya sejak lama. Zara tidak ingin memiliki rasa canggung diantara dirinya dan Dafa.


"Terimakasih ya Tan, Om, Dafa." Zara tersenyum manis, dan di balas dengan senyuman manis pula oleh keluarga Dafa.


"Sama-sama calon mantu," jawab Bu Melani.


Zara hanya mesem manis. Bu Melani ini, kesambet apa coba, sedari tadi bilangnya calon mantu-calon mantu terus, kalau kebelet mantu ya tinggal kawinin aja tuh si Dafa sama si Melon.


Zara masuk ke dalam rumahnya, di dalam nampak sepi, sepertinya Bunda dan Rumi masih di toko kue Zahra. Untung saja Zara selalu membawa kunci rumah. Zara masuk kedalam kamar, mengganti gamisnya. Ah rasanya lelah sekali hari ini.


Selesai berganti baju santai, Zara ke ruang TV, menonton drama korea kesukaannya. Seketika terngiang kembali wajah Ayyubi yang sedang berbincang dengan Aira. Zara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Zara akhirnya menangis sepuasnya. Mengeluarkan sesak di dadanya, di hatinya.


"Assalamualaikum."


Zara segera menyeka air matanya saat terdengar seseorang masuk ke dalam rumah, eh ternyata Mas Renal.


"Waalaikumsallam."


Mas Renal mendengar suara Zara yang parau, Mas Renal menghampiri Zara.


"Kamu nangis Ra?"


Zara menggeleng, "Itu filmnya sedih." Zara menunjuk ke arah televisi.


Mas Renal memperhatikan film yang Zara tonton. Mas Renal mengernyitkan dahinya. Yang Zara tonton adalah drama korea bergenre action fantasi, bukan romance.


"Jangan bohong, kamu kenapa?"tanya Mas Renal sedikit meninggikan suaranya.


Zara nampak terkejut, ia menatap Kakaknya, lalu menenggelamkan wajahnya di lengan Kakaknya.


"Ayyubi jahat Mas, Ayyubi cuma ngasih harapan palsu,"ucap Zara. Zara lalu mulai menceritakan kejadian waktu wisuda tadi. Mas Renal mendengarkan tanpa menyela. Ia ingin mendengarkan semua cerita Zara, baru memberi kesimpulan.


"Kamu yang terlalu berharap mungkin Ra?"tanya Mas Renal.


"Engga Mas, Mas Ayyubi yang bilang, katanya jalanin yuk Ra, ya Zara mau banget lah Mas, Zara seneng banget, bahkan otak Zara sudah berkelana kemana-mana, Zara sudah mikirin nanti janur kuning mau ditancepin dimana ya, di depan gerbang apa di depan komplek, Zara sudah membayangkan Zara nanti mau pakai baju pengantin 3 warna, Zara sudah membayangkan beli lengerie yang bagus-bagus, eh ternyata Zara cuma di prank, hati Zara cuma di prank Mas." Zara mengerucutkan bibirnya.


"Ih, otak nih yah, mesti di cuci nih, kotorannya sudah tumpeh-tumpeh tuh Ra." Mas Renal meremas kepala Zara.


"Ih, Mas Renal ih, lagi sedih nih, malah di nakalin."


"Ya habis kamu tuh, otaknya trevelingnya kejauhan, Mas juga belum nikah Ra, kamu sudah mikir nancepin segala janur kuning."


"Dih, nunggu Mas Renal mah nanti keburu Zara keriput, sudah mau 30 lhoo Mas, Mas Renal masih santai," Ledek Zara.


"Biarin,"Celetuk Mas Renal.


Zara melirik sadis ke arah Mas Renal, "Mas, kata Gus Miftah, punya alat jangan kelamaan di anggurin, nanti karaten, percuma ganteng kalau alatnya di anggurin," Zara terkikik, melupakan sejenak kesedihannya.


Mas Renal langsung menyentil kening Zara, adiknya ini selalu menyebalkan jika membahas soal pernikahan. Mas Renal lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan Zara di ruang TV.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...JANGAN LUPA FOLLOW IG AUTHOR YAH...


...Santy isnawan...


...Ramaikan disana, cuplikan2 Zara ada disana nanti sebelum up...


.


. ( Sumpah demi cintaku pada readers, pdhl part patah hati, tp q baca komentar kalian jian ngekel pokoke, ngakak,πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† nih emak2 tukang nguping smw nih kyane πŸ˜† Zara di suruh nguping fullπŸ˜†)


Nih aku up lagi, nggak pelit bt kalian mah, soalnya cintah😘)


Salam sayang,


Santypuji