
"Aku ... aku semalam di lamar Dafa"
"What?" Shelomita memekik begitu keras hingga semua pengunjung melihat ke arah meja mereka.
Zara melihat sekelilingnya yang sedang melihat ke arah mejanya. Zara menepuk lengan Shelomita.
"Hiss ... nggak usah histeris juga kali Ta, ih bikin malu ih."
Shelomita langsung menutup mulutnya lalu menyesap kopi punya Zara karena kopi yang ia pesan belum datang.
"Gila si buaya cap empang, gila, ih Dafa kesambet kali yah,"umpat Shelomita.
"Yah, main belakang dia, selama ini deketin Bunda sama Rumi, tau ah pusing aku Ta."
"Haduh, nanti kalau Kakak tau gimana ya reaksinya?"
"Tau ah Ta, aku juga sebel sama Mas Ayyubi, udah ah pasrah aku, lillahitaala." Zara menunduk, menahan nyeri di hatinya.
Shelomita juga ikut bingung, wajahnya juga nampak lesu, "Masih ada waktu 6 bulan, apa saja bisa terjadi Ra, harus semangat, aku dukung kamu."
...***...
Ayyubi hari ini datang ke kampus, tujuan utamanya ingin bertemu dengan Zara, tapi ternyata banyak juga temannya yang datang ke kampus. Entahlah terkadang saat sedang sekolah kita ingin sekali cepat lulus, tapi nanti setelah lulus jadi rindu sekolah๐.
Ayyubi mengunjungi kantin ingin membeli minuman. Di kantin Ayyubi melihat Dafa dan Riko sedang sarapan. Ayyubi langsung ikut bergabung dengan mereka.
"Eh Bi, dateng juga ternyata," celetuk Dafa.
"Kalian kalau mau makan, makan saja, aku traktir sepuasnya,"ucap Dafa.
Ayyubi dan Riko mengernyitkan dahinya, "Tumben ih,"ledek Riko.
"Aku lagi seneng nih, bahagia banget."
"Semua yang habis lulus juga pasti bahagia Fa,"ucap Ayyubi. Ayyubi membuka air mineral yang ia beli, meneguknya perlahan.
"Semalam aku melamar Zara,"ucap Dafa sambil tersenyum.
Ayyubi terkejut, ia langsung menyemprotkan seluruh air minum yang ada di dalam mulutnya sehingga membuat Dafa dan Riko terkejut juga. Ayyubi melirik tajam Dafa.
"Dafa, kamu sudah gila yah,"celetuk Ayyubi.
Dafa mengerutkan keningnya, "Memangnya kenapa?"
"Zara itu cem-ceman aku tau, ih main lamar-lamar aja, edan ya."Ayyubi nampak sedikit emosi.
"Zara itu udah aku taksir dari zaman dahulu kala, dari zaman dia masih koloran, umbelan." Dafa menegaskan itu pada Ayyubi.
"Tapi aku tuh udah berharap dia jadi ibu dari kesebelas anakku." Ayyubi tak mau kalah.
Dafa terkekeh,"Tapi kamu sudah kalah, aku sudah dapat restu dari Bunda dan Ayahnya."
"Tapi Zara sudah berkomitmen denganku Fa,"
"Arrggh, sudahlah Bi, haram hukumnya mendekati wanita yang sudah dilamar."
Ayyubi meremas rambutnya, ia merasa bingung harus bagaimana. Benar kata Dafa, mendekati wanita yang sudah dilamar memang tidak boleh. Tapi Ayyubi menginginkan Zaranya, ini pertama kalinya dia mencintai wanita. Masa harus kandas. Kandas sebelum jadian, sadis ih.
"Hey, sudah, malah ngributin Zara, udah ih," ucap Riko mencoba menengahi.
Zara dan Shelomita sudah berangkat ke kampus, mereka berdua pergi ke kantin dulu. Mereka ingin membeli beberapa cemilan. Zara memesan jus jeruk. Shelomita melihat Ayyubi dan yang lainnya. Mereka akhirnya ikut gabung dengan Ayyubi dan Dafa.
"Hey, rame banget, lagi gibah ya?" tanya Shelomita sambil nyengir kuda.
Riko melirik Shelomita, "Engga Ta, kita tuh lagi melakukan hal yang bermanfaat, menganalisa dan mengobservasi suatu objek. Objeknya adalah perilaku manusia." Riko terkekeh.
"Beuh, tinggal bilang aja Gibah Kuncoro, muter-muter kaya gangsing dah." Zara duduk di sebelah Ayyubi. Ia ingin bersikap biasa saja agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Ayyubi melirik Zara dengan tatapan yang tidak biasa. Dafa dan Ayyubi sama-sama terdiam.
"Kok pada diem? lagi gencatan senjata?"tanya Zara sambil menyesap jusnya. Kembung-kembung dah, minum kopi, minum jus.
Ayyubi langsung merebut minuman yang Zara minum.
Zara bingung melihat tingkah Ayyubi.
"Mas itu bekas ku lhoo, main minum-minum aja ih."
Ayyubi melirik Zara dan Dafa," Nggak apa-apa, suatu saat kamu akan terbiasa minum segelas berdua dengan Mas Ra,"ucap Ayyubi sambil tersenyum manis tanpa memperdulikan Dafa.
Haduh, Zara meleleh deh, Zara menatap Ayyubi sejenak, wajah tampannya, mata nya yang meneduhkan, ( pohon beringin kali meneduhkan๐). Bibirnya yang penuh dan merah karena Ayyubi tidak merokok. Bibirnya cipokable banget pokoknya๐๐๐. Hah otak, mulai deh traveling.
"Ayyubi yang sopan dong,"celetuk Dafa.
"Sopan? memangnya aku ngapain?"
"Dia calon istriku."
Zara meneguk salivanya. Ya ampun si Dafa ini, minta di getok pakai sipatula.
"Masih ada waktu 6 bulan lagi Fa, sebelum aku menjawab iya, jadi jangan langsung mengclaim aku calon istrimu, aku nggak suka." Zara langsung pergi dari kantin meninggalkan Ayyubi juga Shelomita.
Shelomita langsung mengejar Zara. Zara begitu bingung, Ayyubi sudah tau, dia harus menjelaskan dengan cara bagaimana. Semuanya begitu mendadak.
Ayyubi juga akhirnya meninggalkan Dafa dan Riko. Ikut mengejar Zara.
"Zara"
Ayyubi menghampiri Zara.
"Kita perlu bicara"
Zara mengangguk, walau bagaimanapun ia harus membicarakan ini semua dengan Ayyubi. Cepat atau lambat.
Kisah cinta memang tak bisa ditebak alurnya. Banyak yang berakhir bahagia, tapi tak sedikit pula berujung nestapa.ย
Zara duduk di bangku di depan disalah satu fakultas dengan Ayyubi. Zara menceritakan semuanya kejadian malam itu, Zara juga mengungkapkan semua kecemburuannya waktu wisuda Ayyubi kemarin.
Ayyubi mendengarkan Zara dengan seksama tanpa menjeda sedikitpun. Setelah Zara selesai bicara, Ayyubi menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kita harus bagaimana Mas?"
"Kamu menyerah Mas?"
"Bukan menyerah, bukankah ada waktu 6 bulan, Zara aku juga bingung, tidak elok mendekati gadis yang sudah di minta laki-laki lain."
Zara menatap tajam ke arah Ayyubi, Zara sedikit kecewa karena Ayyubi begitu lemah dan pasrah.
"Kamu menyerah, apa jangan-jangan kamu suka Mas dengan Mbak Aira?"
Ayyubi menggeleng, "Lalu Mas harus bagaimana Ra?"
"Terserah,"jawab Zara dengan singkat.
"Jangan beri Mas jawaban horor seperti itu Ra."
"Ya aku juga bingung, apalagi dengan Mas menyerah begitu, aku semakin bingung, sepertinya aku salah berharap." Zara langsung berlari ke kelasnya meninggalkan Ayyubi.
Ayyubi mengusap wajahnya dengan kasar.
Aku tahu ini bukan inginmu.
Bukan pula pintamu.
Hanya mencoba menjadi baik di depan bundamu.
Meski mengorbankan setengah hatimu.
Yang di dalamnya sudah terukir indah namaku.
Maafkan aku sayang.
Hanya bisa terdiam berlinang.
Menatap dan terus memandang.
...***...
Setelah pertemuannya dengan Zara berakhir luka. Ayyubi bergegas menuju parkiran. Ia sebenarnya hari ini izin bekerja demi ingin berbicara baik-baik dengan Zara. Tapi hasilnya malah tidak baik-baik saja.
Saat Ayyubi memasuki ruang kantor Papahnya, Papahnya terlihat terkejut melihat Ayyubi yang tengah berjalan dengan wajah tertekuk dan langkah gontai. Mengucapkan salam pun tak bertenaga.
Ayyubi duduk di sofa, terdiam, merenung, wajahnya terlihat lesu. Papah Birru menghampiri Ayyubi.
"Kenapa Bi?" tanya Papah Birru.
Ayyubi menggeleng, "Nggak apa-apa Pah,"ucapnya tersenyum kecut. Sekecut iler yang baca๐.
"Di tikung kah? kurang cepat yah?" Papah Birru terkekeh. Ayyubi melirik Papahnya. Papah Birru tahu betul, Ayyubi memilih bekerja demi sang pujaan hati.
"Sama, kita senasib berarti."Papah Birru tergelak. Ayyubi semakin tidak mengerti dengan Papahnya, masih bisa-bisanya tertawa padahal pernah berada diposisinya saat ini.
"Tapi Papah mah Bejo, dikasihani Gusti Allah biar bisa dapat Mamahmu."
Ayyubi menatap Papahnya,"Kok bisa Pah?"
"Ayyubi, jadi laki-laki itu harus DEWOSO."
Ayyubi mengernyitkan dahinya,"kan Ayyubi juga sedang proses pendewasaan diri Pah."
Pintu ruang kerja terbuka, Mama Ganis membawakan kopi untuk suaminya dan Jus untuk putranya. Mama Ganis memang sering menemani Papah Birru di kantornya.
"Gede, Dowo, Roso."Papah Birru terkekeh.
Mama Ganis melirik suaminya, "Jangan ngajarin anaknya macem-macem." Ibu Ratu di hati Mas Birru memberi titah.
"Cuma satu macam Mah,"ledek Papah Birru sambil mengacungkan telunjuknya.
"Gini lhoo Bi, harus gede pangampurane (pemaafnya) dowo sabare (harus selalu sabar) Rosa nyambut gawene ( rajin kerjanya untuk menuju masa depan yang cerah." Mulai deh bernasehat dengan bahasa jawa ala Mas Birru idaman emak-emak sekabupaten Noveltoon ๐.
"Ikhlaskan, maafkan takdir mu yang tertikung itu, sabar saja, jodoh tidak akan kemana, pasti akan kembali ke pelukanmu, jika jodoh lhoo yah, terus untuk saat ini tata masa depanmu dulu dengan baik, dulu papah hampir jadi bujang lapuk lhoo, kamu mah masih muda banget Bi," sambung Mas Birru.
"Berdoalah Bi, merayulah pada Sang pembolak balik hati manusia." Papah Birru menepuk-nepuk punggung putranya. Papah Birru juga pernah mengalami patah hati seperti putranya. Ia tahu betul perasaan Ayyubi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Kmrn itu NT eror say, pdhl udah nulis dari kemarin, dan masih review jg, kesel ih. Jangan lupa follow Ig q atuh biar tau infonya, klo ga add fb q, q ngasih info2 dsana, soalnya klo d kolom komentar suka ga d baca, (ig, fb : Santy isnawan)
Baca komentar banyak banget, dan beragam komentar, ada yg nyakitin ati, ada nyenengin ati, ah tapi hal itu sudah biasah, sampe bingung mau ungkapinnya ge๐๐๐ saking udah biasanya, tenang q ga akan marah2 kok, selain komentar misal ceritanya sama, mirip, selain komentar itu, q ga bakal marah๐๐๐)
(Karena Zara Ayyubi ini novel kelima q, dan mau q jadiin buku, jd kasih tau dari sekarang, 10 Episode terakhir akan di publish di buku nggak di NT, biar pada penisirin, trus beli bukunya deh๐๐๐ jahara si author๐ ya udah ngumpulin dari skrg yah cicisnya, ga bakal di atas 100rb kok, paling mentok ge paling 80rb, ga jajan bakso seminggu lah ya, simpen d bawah kasur dlu tuh cicis nyah, sebelum q nnti kasih info lebih lanjut)
Salam sayang,
Santy puji