Zara Ayyubi

Zara Ayyubi
Kok lamaran sih



Ia kembali memutuskan sambungan telfonnya, lalu menonaktifkan ponselnya, ia ingin sendiri, ingin mencerna nasehat dari Mas Renal. Mas Renal yang ada di sebelah Zara malah tergelak mendengar kelakuan adiknya yang begitu bar-bar.


"Turut berduka cita buat Zara yang susah move on padahal belum jadian." Mas Renal kembali tergelak. Zara melempar bantal sofa ke arah Mas Renal. Mas Renal ini benar-benar menyebalkan.


Zara akhirnya masuk ke kamar, rebahan di kasur sambil menatap langit-langit kamar. Zara masih berfikir apa memang dirinya harus mengikhlaskan cintanya. Apa ini mungkin karma untuknya karena tidak nurut dengan Bundanya. Apa mungkin Allah akan memberikan orang yang tepat di waktu yang tepat juga. Arghh ... kaki Zara menendang-nendang kasurnya sendiri hingga spreinya menjadi berantakan. Lamunan Zara terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


"Kakak," Panggil Bunda Dian.


Zara langsung buru-buru membuka pintunya.


"Iya Bun"


"Sibuk nggak?"


Zara menggeleng, Bunda lalu menggandeng tangan Zara ke dapur. Bunda meminta bantuan Zara untuk membantunya di dapur. Zara sempat terkejut ketika Bunda menyiapkan untuk makan malam dengan banyak menu.


"Bun, tumben banyak banget,"tanya Zara penasaran.


"Mau ada tamu, tamu jauh,"jawab Bunda Dian sambil tersenyum.


Otak Zara mulai treveling. Benar-benar yah, otak Zara ini tidak betah di kandang, demen banget treveling ๐Ÿ˜†. Zara menebak-nebak siapa sih yang akan datang ke rumah. Apa seseorang yang sangat spesial kah, atau siapa yah, saudara atau jangan-jangan jodoh untuk Mas Renal.


Setelah selesai membantu Bunda, Zara kembali ke kamarnya, karena kebetulan juga Zara ingin mandi. Lumayan gerah juga uplek-uplek lama di dapur. Tapi sebelum itu, Bunda Dian memberikan gamis yang begitu bagus untuk Zara, sudah satu paket dengan jilbabnya.


"Habis mandi, salat Magrib, nanti gamisnya di pakai, dandan yang cantik ya Kak!"Perintah Bunda Dian.


Zara melongo, ini sebenarnya ada apa, apakah tamunya begitu spesial, sampai-sampai Zara harus berdandan cantik. Zara hanya mengangguk dan menerima paper bag yang Bunda berikan kepadanya.


Zara masuk kamar, lalu mandi, setelah itu Salat Magrib. Selesai salat, Zara menatap cermin, berganti baju menggunakan baju yang Bunda Dian berikan. Busana muslimnya begitu elegan menurut Zara.


Selesai berdandan karena interupsi dari Bundanya. Zara segera keluar kamar, Zara melangkah menuju ruang tamu yang nampak sudah begitu ramai. Zara jadi semakin penasaran, siapa sih tamunya, sampai harus sespesial ini.


Sesampainya di ruang tamu, Zara tertegun, Bunda ini suka ngadi-ngadi atau bagaimana, yang datang Dafa lhoo, kenapa bilangnya jauh, wong cuma lima langkah juga, eh kok kaya judul lagu๐Ÿคญ.


Bunda yang melihat Zara, langsung menggandeng Zara untuk duduk bersama di ruang tamu.


Zara mengangguk dan tersenyum pada Tante Melani dan Om Bandi, juga Dafa. Zara semakin curiga kenapa mereka bertiga bertamu menggunakan baju seformal itu. Ya Tuhan, ada apakah gerangan, apa jangan-jangan, haduh, Ultramen, Spidermen, Betmen, Ironmen, culik Zara dulu dong sebentar. Suasananya mencurigakan nih. Zara terus saja meracau dalam hati.


Zara melirik ke arah Mas Renal, Mas Renal hanya menggeleng pelan. Hadeh Mas Renal ini, taunya memang stetoskop dan nama-nama obat-obatan doang ih.


"Calon mantu, cantik banget sih,"celetuk Bu Melani.


Zara terbatuk. Haduh maksudnya apa sih tante satu ini, dari tadi siang bilangnya calon mantu terus.


"Ehm" Pak Bandi memulai pembicaraan.


"Maaf sudah menggangu waktunya Pak Rama, kami kesini dengan niat baik, sebenarnya rencananya tidak malam ini, tapi anak kami, Dafa, ternyata sudah tidak sabar ingin mengutarakan niat baik ini, Anak kami Dafa ingin meminta anak Pak Rama yang bernama Zara sebagai pasangan hidupnya,"ucap Pak Bandi sambil menyunggingkan senyumnya.


Zara melongo, ia begitu syok dengan perkataan Om Bandi, Ayah Dafa. Zara mencubit tangannya sendiri. Ia berharap ini adalah mimpi, tapi ternyata sakit. Sesakit pas sudah sayang-sayange tapi cuma di anggap Adik๐Ÿ˜†.


Zara melirik Bundanya. Bunda Dian tersenyum, ia terlihat begitu bahagia.


"Bun,"


Bunda menggenggam jemari tangan Zara. Bunda tersenyum dengan senyuman termanisnya yang bisa menentramkan hati Zara selama 20 tahun ini.


"Dafa anak yang baik, dia sering ke toko bantuin Bunda, kalau kamu kuliah dia juga suka main kesini bareng Dek Rumi, Bunda lihat dia pekerja keras, tanggung jawab dan menyukai anak-anak,"ucap Bunda Dian.


"Sompret si Dafa, ternyata selama ini berani main belakang, mengambil hati Bunda tanpa sepengetahuan aku, apa-apa inih, awas kamu Fa,"umpat Zara dalam hati.


"Tapi Bun"


"Ra, 20 tahun ini Bunda jaga kamu, rasanya sudah waktunya kamu ada yang jaga, Dafa sudah lulus kuliah, nanti dia juga sudah mulai bekerja dan mencari nafkah, Bunda hanya takut kalau kamu salah langkah nantinya,"sambung Bunda Dian.


"Bun, maaf, Zara butuh waktu buat mengenal Dafa, Zara belum bisa iya in saat ini,"ucap Zara dengan wajah sendu.


Bunda mengelus pipi Zara, "Iya Bunda mengerti, kalian nggak langsung nikah kok, Dafa juga bilang dia ingin bekerja dulu."


"Iya tante Dian, Dafa ingin PDKT dulu dengan Zara, yang terpenting sudah mengantongi izin dari keluarga, Dafa akan berusaha keras untuk membahagiakan Zara, masalah pernikahan, beri Dafa waktu 6 bulan lagi,"ucap Dafa begitu mantap.


Di dalam dada Zara begitu bergemuruh, ia begitu marah dengan pernyataan Dafa yang akan menikahinya 6 bulan lagi.


"6 bulan lagi gundulmu, sok yes banget di depan Bunda, sok soleh padahal solihin, fuckboy tjap kampret,"umpat Zara dalam hati. Yah hanya dalam hati, jika tidak ada keluarganya, jangankan mengumpat, menonjokpun Zara begitu sudi.


Zara melirik Mas Renal, Mas Renal mendadak jadi kanebo kering. Mas Renal, apakah di kau punya vaksin untuk nyeri hati? Hate nyeri kali ini Mas.


"Maaf Mas Dafa, tapi Mas Renal belum menikah, tidak elok kalau misal aku menikah terlebih dahulu." Zara berusaha membuat alasan yang masuk akal. Status jomblo Mas Renal kali ini benar-benar cukup berguna.๐Ÿ˜†


"Tidak apa-apa Kak, barang kali nanti selama 6 bulan ini, Mas Renal ketemu jodohnya,"ucap Bunda. Ya ampun Bunda Dian benar-benar ngebet ingin mejadikan Dafa sebagai menantunya.


Bunda, Dafa tidak sebaik itu. Semoga Mas Renal jomblo sepanjang tahun ini, maafkan aku Mas, untuk pertama kalinya aku mendukung Mas Renal membujang lebih lama.โœŒ๏ธโœŒ๏ธโœŒ๏ธ


Zara pasrah, jika Bunda Dian sudah memberikan titah, apalah daya hamba. Mereka kembali mengobrol tentang PDKT dan pernikahan, Zara hanya menjadi pendengar mode masuk kuping kanan keluar kuping kiri.


Lelah mengobrol, Bunda mengajar keluarga Dafa untuk makan malam bersama. Ah Zara jadi nyesel, ternyata lelahnya tadi hanya untuk menyediakan si playboy kutukupret.


"Ya Allah, apa ini hukuman untuk Zara karena selama ini selalu bandel, susah kalau di suruh pakai jilbab. Zara janji deh bakal nurut dan rajin ibadah, tapi Zara nggak mau jadi jodoh Dafa,"Gumam Zara dalam hati. Masih ada waktu 6 bulan untuk bernegosiasi dengan Allah tercinta.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.(Nih janji Author di tepati, monggo komen part ini dg marah, cela, bully dan persamaan lainnya dah ๐Ÿ˜†


Thor tega ih, kok Zara bla bla bla


Kalian juga teganya nggak di diskon, tangan q sakit kemarin biz gotong2 air, eh td iseng bilang klo 200 komentar up lagi, eh pd garcep komen, ya ampun, biz kerokan jadi nulis lgi deh, eh tapi tenang aja ikhlas kok๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† biar tidak ada dusta di antara kita)


Nikmati alur ceritanya, setiap author sudah menulis ceritanya sesuai plot, nggak bisa asal rubah zayang, nanti malah keder buntutnya๐Ÿ˜†


Salam sayang,


Santypuji