Zara Ayyubi

Zara Ayyubi
Shelomita Merajuk



"Kita saling mendoakan yuk Ra!" sambungnya lagi.


"Ya Allah Mas, jangankan saling mendoakan, saling mencintai juga hayuk,"ucap Zara dalam hati. Ah dasar otak, nggak bisa di ajak kerjasama.πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


"Aku sudah mendoakanmu sejak lama Mas," Zara akhirnya jujur dengan perasaannya.


Ayyubi tersenyum, ia begitu bahagia, ingin sekali mengajak ultramen, betmen, supermen goyang dumang untuk menunjukan pada dunia rasa bahagianya.


" Semoga suatu saat, Aamiin ku dan Aamiin mu bisa serentak ya Ra"


"Ya Allah, Zara jadi mau pingsan nih." Zara mencoba mencairkan suasana agar Ayyubi dan dirinya tidak begitu tegang. Eh apanya sih kok jadi tegang, emang itu ... listrik maksudnya, jangan ngeres deh kaya ubin balai desaπŸ˜†.


Ayyubi terkekeh," Mau kan Ra saling menjaga hati? saling menunggu hingga waktunya tiba?" Ayyubi mencoba mengulang lagi pertanyaannya.


Zara akhirnya mengangguk, Zara sudah tidak tahu harus menjawab apa, dirinya bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, pasrah mengangguk begitu saja. Hati memang tidak bisa di bohongi gaes.


"Mas tadi katanya mau kerja, nanti kuliahnya bagaimana?" tanya Zara membahas hal yang lain. Walaupun sikapnya begitu tenang tapi perlu kalian ketahui, di dalam sana, hati, usus, paru-paru bahkan ginjalnya sedang bergotong royong memegangi jantungnya yang hampir saja loncat.


"Minggu depan sudah sidang, skripsi Mas sudah selesai kok, mungkin bulan depan juga sudah wisuda," jawab Ayyubi.


"Syukurlah, lah terus kenapa masih ke kampus?"


"Cuma mau liat kamu Ra, liat senyum kamu, liat wajah merona kamu kalau lagi aku tatap," Goda Ayyubi sambil tersenyum manis. Manis banget kaya senyumnya oppa lee dong wookπŸ˜†.


"Ah sa ae Malih," Celetuk Zara.


"Ehm." Shelomita menghampiri Zara, Eh iya Shelomita lama sekali ke toilet, sepertinya setoran pagi ini menguras habis perutnya.


"Ayo masuk kelas Ra." Shelomita mengambil tasnya.


"Kakak masih mau disini?" Tanya Shelomita.


Ayyubi hanya menjawab dengan anggukan. Shelomita lalu menggandeng tangan Zara keluar dari perpustakaan. Ah padahal rasanya Zara ingin mengobrol dengan Ayyubi lebih lama. Zara lalu menengok ke arah Ayyubi. Ayyubi memberikan simbol Saranghaeyo dengan jemari tangannya untuk Zara.


Zara melotot tidak percaya. Zara tersenyum bahagia, Zara tidak menyangka jika semuanya akan berjalan begitu indah.


Zara dan Shelomita masuk kedalam kelas. Zara mencoba untuk sejenak melupakan cinta-cintaannya jika sudah di dalam kelas.


***


Setelah menyelesaikan perkuliahan hari ini, Zara mengajak Shelomita mampir ke toko Bundanya. Zara ingin curhat ngalor ngidul dengan Shelomita mumpung masih jam 1 siang, kan bisa berceriwis ria sampai sore.


Zara membonceng Shelomita dengan motor Scoopy kesayangannya. Karena hari ini hatinya sedang berbunga-bunga, Zara mengemudikan motornya dengan sangat cepat sambil bersenandung lagu cinta.


Shelomita memekik sambil memeluk pinggang Zara dengan erat.


"Zara, kamu ngajakin mati yah, sompret kenceng banget sih," teriak Shelomita.


"Tobat deh tobat ya Allah, Zara kamu ih, jalaninnya udah kaya lagi di kejar polisi bintang tujuh, aku tuh ikut kamu mau ngopi-ngopi bukan mau cari mati." Shelomita terus saja meracau. Zara hanya tersenyum sambil melihat ekspresi Shelomita yang ketakutan.


"Ra, kamu jangan ngeprank malaikat deh, malaikat liat kamu jalanin motornya begini pasti minder, mau nyabut nyawa, belum ada perintah, nggak di cabut tapi melawan maut, kampret dasar ih, kita bukan lagi uji nyali Ra, pelanin!!!"


Zara akhirnya memelankan laju motornya. Nyengir kuda seperti tiada dosa. Shelomita menggetok helm yang terpasang di kepala Zara, rasanya ingin sekali menggetok kepalanya langsung ih.


"Kalau malaikat pencabut nyawanya kaya lee dong wook, kamu pasti pasrah, rela, terkesima," ucap Zara sambil terkekeh.


"Mana ada yang begitu,"Celetuk Shelomita.


"Ada, nonton drakor Golbin deh"


"Hih dasar Milea, korban drakor"


"Yoy yoy." Zara mengerlingkan matanya saat tahu Shelomita sedang melihatnya lewat kaca spion.


Shelomita menggetok helm Zara lagi dengan gemas.


Sesampainya di Zahra cake, Shelomita langsung berkacak pinggang saat sudah turun dari motor Zara lalu menyentil kening Zara.


"Aku belum nikah, belum ngerasain mantap-mantap," Celetuk Shelomita.


" Hehe, sorry Sukaesih, besok-besok janji, aku bakalan boncenginnya pelan-pelan." Zara mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda perdamaian.


"Yuk masuk." Zara menggandeng tangan Shelomita masuk ke dalam Zahra cake.


Di dalam ternyata tidak ada Bunda. Oh iya, Ayah Rama kan libur hari ini, pasti sedang quality time dengan Bunda. Zara meracik kopi sendiri untuk dirinya juga Shelomita, lalu mengambil beberapa cake kesukaannya juga kesukaan Shelomita.


Zara lalu menghidangkannya di meja pojokan, disana sudah ada Shelomita yang tengah duduk manis sambil bermain ponsel.


"Ra, aku tadi sms Kakak, suruh jemput aku nanti, soalnya aku nggak mau ah di bonceng kamu lagi"


Zara terkekeh,"Sebegitu traumanya kah?"


"Edan ih,"


Zara malah tergelak, Shelomita menyesap kopi buatan Zara. Sedangkan Zara mulai bercerita tentang kejadian di perpustakaan. Shelomita terkejut namun senang karena Kakaknya akhirnya mau membuka hati untuk seorang wanita. Zara hadir di waktu yang tepat, disaat Ayyubi sudah hampir lulus kuliah, karena memang selama ini Ayyubi hanya memprioritaskan pendidikannya terlebih dahulu.


Mereka sudah hampir 1 jam lebih bercuap-cuap. Namun pembicaraan mereka terhenti saat ada pelanggan Zahra cake yang begitu Zara kenal datang menghampiri Zara dan Shelomita.


"Ra ... lama nggak ketemu"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Readers : Thor selalu buat mesam mesem kita2 ih


Author : Eh tau nggak, aku juga selalu mesam mesem baca komentar kalian, q tuh klo baca komen dari kalian mpe ketawa2 gitu, ya Ampun jangan sampai yah kita edan berjamaahπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† sholat aja yang berjamaah, edan jangan😁😁😁)


Jangan lupa, like, komen dan Vote.😘


Salam sayang,


Santypuji.