
Keduanya tergelak, Zara dan Shelomita keluar dari kelas menuju kantin. 2 jam pelajaran pak Rama rupanya membuat perut lumayan keroncongan. Energi sarapan sudah hilang di telan pelajaran😆.
Zara memesan soto lamongan yang sudah di campur nasi untuk minumnya Zara pesan es teh manis, tidak lupa juga krupuk udang untuk menemani soto lamongan yang masih panas dan segar itu, seperti cinta Zara yang lagi panas-panasnya, membara di dalam dada😆.
" Dih, makan berat lagi, memangnya tadi gak sarapan apa?"tanya Shelomita heran melihat sahabatnya itu makan nasi lagi, padahal masih jam 10.
" Ah, kalau pelajaran bapak Ramadhan itu pasti menguras energi, ngitung-ngitung rumit, heran deh sama Ayah, bisa pinter banget ngitungnya, aku jadi curiga, jangan-jangan ayah baru mbrojol aja dulu suara nangisnya bukan oa oa oa, tapi satu dua tiga empat lima,"ujar Zara sambil tergelak.
Shelomita juga ikut tergelak, Zara memang edan. Zara dan Shelomita kuliah di jurusan Manejemen Bisnis Internasional, dan Pak Rama adalah dosen mata kuliah Akuntansi keuangan. Jika pelajaran sudah berkutat dengan angka, pasti akan membutuhkan energi ekstra. Apalagi akuntansi, spesialis ngitung uang, gak tau tapi uang siapa😆.
"Ibu kamu juga pebisnis, ayah dosen, mereka berdua pinter ngitung, harusnya kamu juga gak pusing masalah hitung menghitung dong," Celetuk Shelomita.
"Iya nih, waktu ngadon aku kayanya ingridients nya kurang, beda waktu ngadon Mas Renal, power full adonan full, maklum pengantin baru,"kata Zara sambil terkekeh.
Shelomita memukul kepala Zara dengan sendok,
" Songong dasar"
Zara dan Shelomita melanjutkan makan. Energi harus powerfull karena jam 11 nanti akan ada mata kuliah matematika bisnis. Ngebul-ngebul dah otak hari ini.
Selesai makan Zara meminta di antar Shelomita ke perpustakaan. Zara ingin mengembalikan pulpen Mas Ayyubi. Yah tentu saja itu semua hanya modus. Dasar Zara ini.
Sayang seribu sayang ternyata Mas Ayyubi tidak ada di kelas. Zara dan Shelomita akhirnya kembali ke kelas. Mereka melewati kantor dosen dan di depan kantor dosen, Zara dan Shelomita melihat Ayyubi sedang berbicara dengan seorang wanita cantik, berjilbab pula. Zara merasa kalah saing. Towew.
Zara menghentikan langkahnya. Zara menatap Mas Ayyubi yang tampak akrab dengan salah satu mahasiswi, bahkan Mas Ayyubi tak segan mengembangkan senyumnya ketika sedang mengobrol.
"Heh, patah hati ya?" Ledek Shelomita.
"Emm, engga lah, enak aja"
"Soalnya kaya ada yang bunyi 'krek' gitu, kirain itu hati kamu tadi Ra." Ledek Shelomita sambil tergelak.
" Ngaco," ucap Zara sambil menepuk lengan Shelomita.
"Pokoknya aku mau ngejar Mas Ayyubi sampai dapat, dukung dong Ta, kalau aku jadi kakak ipar kamu kan enak nanti kita bisa ngemall bareng, bisa ke salon bareng, kita bisa bareng terus"
" Iya ih, aku doain, masa doa harus koar-koar, gak juga kan?",
Zara langsung memeluk Shelomita, " Kamu memang T.O.P B.G.T, yuk ah, aku mau balikin ini." Zara menunjukan pulpen Ayyubi.
Mereka berdua berjalan menghampiri Ayyubi. Ayyubi juga sudah melihat Zara dan Shelomita yang datang menghampiri.
"Eh, Mita, Zara"
"Mas, ini aku mau balikin pulpennya"
"Sudah selesai memangnya? bukannya masih ada jam mata kuliah lagi ya, nanti kamu nulis pake apa dong?"tanya Ayyubi.
"Nulis pake pulpen aku lah Mas"
Ayyubi mengernyitkan dahinya, " Nah, ini buat apa tadi, kok segala pinjem pulpen Mas"
" Kalau pulpen Mas, itu buat nulis masa depan kita,hahaha,"ujar Zara
"Makasih ya, di dalam pulpen ada sesuatu," Bisik Zara. Seperti biasa Zara akan meninggalkan Ayyubi di saat Ayyubi melihat kekonyolannya.
Zara menarik Shelomita sambil berjalan ke kelasnya. Sementara Ayyubi tersenyum lebar melihat kejahilan sahabat adiknya itu.
Aira, teman Ayyubi yang ada disebelahnya mengerutkan dahi melihat ada perempuan yang begitu berani terang-terangan menunjukan rasa sukanya pada Ayyubi.
" Dia siapa?" Tanya Aira.
" Oh, itu Zara, teman Shelomita," jawab Ayyubi sambil mengantongi pulpennya.
"Sepertinya menyukaimu Bi"
Ayyubi tersenyum, " Ya biarkan saja, menyukai seseorang tidak berdosa kan, itu fitrah"
" Tapi, dia agresif banget," Celetuk Aira menampakan ketidaksukaannya.
Aira mengangguk, Ayyubi lalu masuk ke ruang dosen dan duduk di depan Pak Rama. Pak Rama tampak mengoreksi skripsi yang disusun Ayyubi. Sambil menunggu pak Rama mengoreksi. Ayyubi diam-diam membuka pulpennya dan melihat ada secarik kertas yang terselip disana. Kertas kecil yang berisi catatan kecil.
😊Kamu adalah doaku yang semoga menjadi kenyataan. Aku ingin menggenggam tanganmu di surga kelak dan berkata “Akhirnya kita di sini”.😊
Ayyubi tersenyum, Pak Rama memperhatikan Ayyubi yang sedang tersenyum sambil membaca secarik kertas kecil.
" Cie, di tembak cewe yah"
Ayyubi langsung terkejut mendengar ledekan Pak Rama.
" Eh, tidak Pak, ini cuma catatan kecil aja,"Ujar Ayyubi yang nampak malu-malu.
" Laki-laki sepertimu pasti laris disini" ucap Pak Rama sambil terkekeh.
" Ah Bapak bisa aja"
Hahaha, andai saja Pak Rama tau jika kertas itu dari anak gadisnya. Pak Rama mungkin akan menyentil kening putrinya itu😆
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Readers: Thor, mas biru, asyifa, fatih kok belum muncul.
Author: Sabar yah sayang, ini kan baru episode awal, nanti muncul satu-satu kok. Jerawat aja kalau muncul kroyokan gak enak kan😆😆
Readers : Thor, pengen ketemu kamu, kamu aslinya kaya gitu gak sih, suka ngebanyol?
Author : aku kalau di liat dari fisik mah, katanya kalem, adem gitu kaya kanebo di basahin😆, tapi pas di ajak ngobrol, pada tercengang, masyaAllah jebule bu santi koyo ngene toh😆😆 rame kaya pasar tanah abang😆
Walaupun komentar kalian gak q bales, tapi psti q baca kok, soale q klo udah nulis biasane langsung keluar dari aplikasi noveltoon, q klo hbis nulis ya otake agak muter-muter😆 jd btuh hiburan, nnton drakor/dracin atau baca novel kesukaan q yg genre remaja.
Jangan lupa like, komen dan Vote.
Salam sayang,
Santy puji