
Zara mencolek wanita itu, " Mbak...mbak, tahu bulat yang digoreng dadakan aja lima ratusan lhoo, mbaknya itu punya yang bulat nan nikmat malah gratisan gitu, sengaja di tempel-tempelin,"ucap Zara. Setelah itu Zara langsung ngeloyor masuk kedalam toilet. Bahkan Dafa dan Ayyubi juga masih tidak sadar bahwa yang berbicara tadi adalah Zara.
Wanita itu menatap Zara sampai Zara masuk ke dalam toilet. Wanita itu menghentakan kakinya ke lantai.
"Eh, itu bukannya Zara ya?" ucap salah satu penonton. Haha penonton, udah kaya sinetron aja neh.
Ayyubi langsung melihat ke arah toilet. Ayyubi tidak begitu memperhatikan saat itu. Dafa juga tampak bengong, Dafa merasa sekilas memang seperti Zara, tapi kan Zara tidak berjilbab.
Selesai menuntaskan hajatnya, Zara keluar dari toilet, mencuci tangannya terlebih dulu di westafel, membetulkan letak jilbabnya, namanya juga baru pakai jilbab, jadi takut-takut menceng, miring, dan segala macemnya segala balada tentang jilbab.
Zara keluar, ternyata masih terpampang nyata pemandangan tadi. Wanita itu masih ada. Zara hendak nyelonong saja melewati kerumunan itu. Tapi wanita itu malah memanggilnya.
"Heh, kamu, kamu siapa?"tanya Salsa sedikit meninggikan suaranya.
Zara menghentikan langkahnya, Salsa menghampiri Zara.
"Kamu jangan-jangan pacar Dafa yang baru yah?" tanya Salsa dengan tuduhan palsunya.
Zara mengernyitkan dahinya," Haduh, aku tuh nggak pacaran, nggak pacaran sama siapapun, apalagi sama Mas Dafa"
"Hah, Mas?"
Zara semakin bingung, memangnya ada yang salah dengan panggilan Mas? kan untuk menghormati yang lebih tua bukan.
"Kenapa memang?"
"Heh, Dafa itu milik aku yah,"ucap Salsa masih dengan suara yang ditinggikan.
Hih, wanita ini membuat Zara kesal saja. Rasanya Zara ingin memasukannya ke dalam roket yang akan pergi ke planet Mars, bila perlu Pluto sekalian agar tidak bisa pulang lagi ke Bumi.
Zara tidak meladeni ucapan Salsa, Zara hendak kembali ke kelasnya karena mata kuliah Ayah Rama belum selesai, ah rasanya menyesal sekali tadi bicara dengan wanita itu, soalnya gemas sekali melihat tingkahnya bagaikan cicak-cicak di dinding. Hello ... ini kan kampus.
"Aku yang lebih dulu kenal Dafa dari pada kamu, aku yang lebih dulu pacaran sama Dafa dari pada kamu," Teriaknya lagi.
"Haduh, wong wadon edan," Gumam Zara.
Zara akhirnya berjalan lagi menghampiri Salsa.
"Mbak say, percintaan itu ibarat sholat tarawih, bukan tentang siapa yang datang lebih awal, tapi tentang siapa yang bertahan hingga akhir." Zara menjulurkan lidahnya ke muka Salsa lalu langsung ngibrit lari kencang menuju kelasnya.
Salsa begitu geram, ia berteriak, bersumpah serapah. Marah karena Zara kabur dari hadapannya.
Ayyubi masih melongo melihat penampilan Zara yang begitu cantik dan feminin, namun masih tetap lucu dan menggemaskan.
"Ayyubi" Dafa memanggilnya.
"Ayyubi" Dafa menepuk bahu Ayyubi
Ayyubi terkejut, "Eh iya kenapa?"
"Hih, ayo pergi, aku nggak mau disini terus meladeni dia," Dafa menunjuk ke arah Salsa.
Ayyubi mengangguk, lalu mengajak Dafa pergi. Saat Salsa membalikan badannya. Dafa sudah tidak ada ditempat. Salsa kembali mengumpat, tapi malah di tertawakan mahasiswa yang menjadi penonton setia sedari tadi.
...***...
Zara masuk kelas dengan nafas tersengal-sengal. Rasanya lumayan lelah juga lari dari toilet sampai kelas. Tanda-tanda semakin tua.🤭Shelomita yang melihat tingkah Zara langsung bertanya pada Zara.
"Kenapa? kaya habis di kejar syaiton aja ih" Bisik Shelomita.
"Nah ini mah jelmaannya Ta," jawab Zara.
Shelomita mengerutkan dahinya. Gelo kali si Zara ya, mana ada hantu siang bolong begini.
Zara dan Shelomita kembali memperhatikan Pak Rama yang sedang menjelaskan materi. Oh ya buat kalian yang masih sekolah. Jangan kebanyakan haha hihi kalau guru sedang menerangkan. Ilmu itu adalah harta yang paling berharga di dunia itu. Tuntutlah ilmu sedari kandungan sampai liang lahat. Zaman sudah modern, kita bisa mendapatkan ilmu dari arah mana saja.
Selesai mata kuliah Pak Rama, Zara di suruh oleh Ayahnya untuk membawakan buku-buku Ayahnya ke ruangan dosen karena Ayah Rama akan ke toilet terlebih dahulu.
Zara berjalan ke ruangan Pak Rama, ternyata di depan ruang dosen, ada Ayyubi yang tengah duduk. Zara mencoba menetralisir hatinya.
Haduh hati, jaim dikit dong, jangan debar-debar gini. Tolong berhenti gatel, nanti Zara garuk nih ih.
Zara berusaha sebiasa mungkin di depan Ayyubi. Ayyubi melihat Zara yang tengah menghampiri kantor dosen.
"Zara" Ayyubi berdiri, lalu menghampiri Zara.
"Iya Mas"
"Pak Rama nya mana?"
Et dah nyariin Ayah, kirain nyari aku, ih Pede banget Zara.
"Pak Rama ke toilet, aku masuk dulu yah"
"Ikut" Ayyubi ikut masuk ke dalam ruangan Pak Rama.
Zara mengerutkan keningnya. Eh Mas Ayyubi ngintil.
Zara meletakan buku-buku ayahnya di atas mejanya. Zara hendak pergi tapi Ayyubi memanggilnya.
"Zara"
"Iya Mas"
"Ini buat kamu, kemarin kan kamu yang ngasih ke aku, sekarang gantian," ucap Ayyubi sambil tersenyum.
Duh Gusti, kalau godaannya begini, Zara mana tahan.😆
"Ya ampun Mas, nggak usah lhoo Mas," Zara berusaha jaim padahal mau banget😆 tahan hati, tahan. Kok jadi gantian segala sih,hihi.
"Kamu cantik hari ini, mungkin coklat ini juga kalah manis dari kamu Ra," Ayyubi tersenyum lagi sambil mengulurkan coklatnya.
Tuh kan, cuma liat senyum Ayyubi aja Zara merasa pertahanannya langsung runtuh. Ambruk. Ambyar. Bunda, Ayah, Mas Renal, Dek Rumi, pegangin Zara dong.
Zara akhirnya menerima coklat dari Ayyubi.
"Kamu tau nggak Ra, bedanya coklat sama kamu?" tanya Ayyubi.
Zara yang sebenarnya jago gombal tapi lagi berniat tobat ini😆 akhirnya menggeleng saja. Zara juga ingin tau seperti apa gombalan Ayyubi.
"Coklat ini enak dimakan, kalau kamu enak dipandang,"ucap Ayyubi sambil terkekeh.
"Ya Allah, Adek mau pingsan aja nih Bang," Zara memegangi dadanya sambil mesem manis ke arah Ayyubi.
Ayyubi tertawa mendengar kekonyolan Zara.
"Jangan pingsan Ra, dunia ini akan sepi bila sedetik saja tanpa kamu"
Eh Buseng, ternyata anaknya Papah Birru sama Mama Rengganis mahir gombal juga.
"Ih, di ajarin siapa begitu?" Zara menepuk lengan Mas Ayyubi.
"Ini keturunan dari Papah Birru Ra,"jawab Ayyubi sambil terkekeh.
"Aku sering liat Papah romantis banget sama mama, aku bahagia liat mereka selalu romantis walaupun sudah nggak muda lagi,"Sambung Ayyubi. Zara tersenyum, Zara juga sangat senang melihat Ayah Rama dan bunda Dian yang selalu akur.
"Ehmm,"Pak Rama datang lalu melirik ke arah Zara dan Ayyubi.
"Ayyubi, sudah siap bab berikutnya?" tanya Pak Rama.
"Eh, iya siap Pak,"jawab Ayyubi.
"Pak Ahmad Ramadhan, Zara permisi dulu yah,"ucap Zara sedikit menunduk, lalu bergegas meninggalkan ruangan Dosen.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Balada Author banyak iklan kalau mau nulis, planing dari pagi, hari ini kayaknya bnyk wkt bt nulis, ah nnti nulis skian episode ah, trs siap2 tuh nulis, eh ide udah penuh, riset juga udah, tinggal nulis aja, udah buka aplikasi noveltoon, tapi malah d pandang2 aja, kok jd bingung mau nulis dari mana ya, akhirnya keluar deh dari aplikasi, buka wa, buka fb, buka ig, buka tik tok😆😆 eh laper juga, makan dulu aja ah. Lagi makan niat lg nih, mau nulis pkoknya ntr, eh baru mau siap-siap, paksu colek-colek, nah ini, godaan terbesar😆 hadeh akhirnya nggak jd nulis lg. Ujung2nya sampe sore gaes🤦🤦 q tuh klo nulis pasti sedia kopi, klo ga teh manis, sama cemilannya, entah itu biskuit atau gorengan atau apalah yg bisa dimakan. Nulis itu ibarat kaya ulangan matematika gitu, bikin cenud2, klo ga sambil ngemil, nggak jalan otake, kayane bner2 deh nguras energi di otak banget banget😆😆 jadinya sambil d keluarin, sambil d isi juga, makane q nggak gemuk2😁😁😁) Udah ah curcolnya🤭🤭
Jangan lupa, like, komen dan Vote.
Salam sayang,
Santypuji.