
Sesampainya di perpustakaan, Zara dan Shelomita mencari buku referensi untuk tugas Bu Rita. Zara sedikit pening dengan tugas Bu Rita yang amat sulit menurutnya.
"Kesel ih, kenapa sih otak aku nggak seencer punya ayah atau punya Mas Renal gitu." Zara menggerutu saat sudah menemukan buku yang ia cari.
Zara mencari tempat duduk di pojokan lalu membuka leptopnya. Zara mulai mengerjakan tugas lagi. Shelomita yang ada di sebelahnya nyengir kuda melihat tingkah sahabatnya yang terus menggerutu.
"Bukan anak Ayah Rama kali,"ledek Shelomita yang ikut duduk di sebelah Zara.
"Hih sembarangan, lihat nih, hidung mancung ini, mata bulat ini, ini tuh plek ketiplek tiplek wajah ayah Rama, mungkin dulu waktu Allah mau bagiin IQ kayaknya aku lagi ngantri beli odading Mang Oleh deh, jadi cuma dapet sisaan deh," ujar Zara, mulutnya masih menggerutu tapi mata dan jemarinya fokus menatap layar gepeng di depannya.
Shelomita hampir saja tergelak, namun ia ingat sedang berada di perpustakaan. Ia menahan tawanya, menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Kenapa sih ia bisa memiliki sahabat sekonyol Zara😆.
Zara dan Shelomita mengerjakan tugasnya dengan fokus hingga tidak sadar jika di sebrang mereka ada Ayyubi yang sedang memperhatikan keseriusan belajar mereka. Ayyubi menghampiri Shelomita dan Zara.
"Ehm ...."
Zara melirik ke arah sumber suara yang kini ada di depannya. Hadeh Si Ganteng nongol, kan jadi tambah nggak fokus.
"Sulit kah? ada yang bisa aku bantu?" tanya Ayyubi sambil mesem manis.
"Mata kuliah Bu Rita nih Mas, lumayan sulit,"jawab Zara sambil menunjukan layar leptopnya.
Ayyubi berjalan menghampiri Zara, melihat tugas Zara. Membungkukkan badannya hingga kini Ayyubi berada begitu dekat dengan Zara.
Zara meneguk salivanya. Haduh Ayyubi tuh selain ganteng tapi juga wangi banget, apalagi saat jarak dekat seperti ini, bau nafasnya pun begitu segar. Mulai deh otak Zara traveling kemana-mana. Kan jadi pengen di kasih nafas buatan Ayyubi, haha. Mata Zara langsung terpejam, mencari sisa-sisa kewarasan di otaknya😆 Zara melihat bayangan Bunda mengacungkan sipatula di depan mukanya. Zara langsung tersadar dari lamunan edannya🤦.
"Aku bantu yah?" ucap Ayyubi.
Zara dan Shelomita mengangguk. Mereka akhirnya belajar bertiga. Ayyubi membantu bagian kesulitan tugas dari Bu Rita hingga akhirnya selesai juga tugas mereka. Zara bernafas lega, begitu juga dengan Shelomita.
Zara menatap Ayyubi. Laki-laki di depannya ini yah, sudah ganteng, pinter, nggak pelit, wangi, ih kan Zara jadi galau mau pindah haluan. Iman, apakah sudah berubah jadi imin, nggak kuat ih buat nggak natap.
"Alhamdulillah selesai juga,"ucap Ayyubi yang juga merasa lega dan senang sudah membantu adiknya juga ZaranyaðŸ¤.
"Ra, aku mau ke toilet dulu yah, kebelet." Shelomita langsung bergegas pergi meninggalkan Ayyubi dan Zara.
Zara jadi panas dingin karena ditinggal hanya berdua dengan Ayyubi. Walaupun di perpustakaan banyak pengunjung juga, tapi di pojokan hanya ada mereka berdua. Takut ada syaiton lewat😆.
"Ra, kalau butuh bantuan ngomong aja ke aku yah." Ayyubi yang duduk di sebalah Zara membantu Zara menutup leptop dan merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja.
Tuh kan, Ayyubi tuh nggak cuma manis orangnya, tapi manis sikapnya juga. Zara kan lama-lama jadi oleng.
"Bunda ... besok-besok sarapannya semen sama adukan aja yah, biar Zara kuat menghadapi ini semua,"gumamnya dalam hati.
Setelah rapi, Ayyubi duduk menghadap Zara.
"Ra, boleh aku minta nomor ponsel kamu, biar kamu sama aku gampang komunikasinya kalau butuh bantuan."
Ayyubi tersenyum, "Aku siap kok izin sama Bunda kamu, walaupun harus di lempar oven nya Bunda, aku siap."
Zara masih menggeleng, Zara terkadang menyesali gelengannya, kenapa sih kepalanya hanya bisa menggeleng-geleng ih.
"Kenapa?" Ayyubi menampakan wajah sedihnya.
"Kamu pasti tau lah perasaanku Mas, aku tuh nggak mau kalau chatan sama Mas nanti aku pakai hati, tapi Mas cuma pakai jari, aku nggak mau sakit hati lagi," Zara menunduk, jemarinya saling meremas.
"Kata siapa seperti itu?"
"Ya kataku sih tadi"
"Ra, kita jalanin yuk, aku tau aku anak kuliahan yang belum pantas memintamu dari Bunda dan Ayahmu, tapi Minggu depan aku sudah mulai bekerja di perusahaan Papah, aku nggak cuma pengen beliin kamu coklat, tapi aku juga pengen beliin kamu skincare pake uang hasil keringetku,"ucap Ayyubi, manik matanya benar-benar menyiratkan sebuah keseriusan.
Zara bingung, Zara bahkan tidak percaya Ayyubi akan berkata seperti itu. Apakah ini mimpi, Zara mencubit punggung tangannya, rasanya cukup perih.
"Kita saling mendoakan yuk Ra!" sambungnya lagi.
"Ya Allah Mas, jangankan saling mendoakan, saling mencintai juga hayuk,"ucap Zara dalam hati. Ah dasar otak, nggak bisa di ajak kerjasama.😆😆😆
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Hayo, mulai baper yah, hayo-hayo, yuk komen, klo komennya tembus 50 malam ini, nanti aku up lanjutannya. Jangan lupa,like komen dan vote))