Zara Ayyubi

Zara Ayyubi
Rumah Tante Ganis



Sesampainya di rumah, Zara langsung masuk ke dapur, membantu Bundanya menyiapkan sarapan. Mas Renal menghampiri Rumi yang tengah bermain. Hemm, ganteng, pinter, dokter, soleh, penyayang adik-adiknya lagi. Yang punya anak perawan, cus gih ngomong ke Bunda Dian. Hahaha.


Setelah sarapan sudah terhidang di meja makan, Zara segera memanggil Mas Renal dan Rumi. Mereka segera berlari ke ruang makan. Sementara Ayah memang sudah ada di ruang makan sejak tadi sambil membaca koran.


"Mas, Nanti sore antar Zara ke tempat temennya yah, ke rumah Shelomita," Pinta Bunda pada Mas Renal.


Zara terkejut, Zara pikir kali ini Zara boleh main di tempat orang sendirian, ternyata masih harus bawa bodyguard. Ah Bunda ini, super ketat sekali.


"Shelomita?"


"Iya, kenapa? Mas seneng kan?" Ledek Zara sambil mengerlingkan matanya.


"Dih, bukannya kamu yang seneng ya Kak?" Goda Ayah.


"Ya seneng lah Yah, kan Shelomita teman Zara"


"Bukan karena Shelomita itu...."


"Ayah mau Zara ambilin capcay Gak, nih Yah, sarapan yang banyak." Zara menyendokkan capcay sambil mengatupkan mulut dan matanya agar Ayahnya jangan melanjutkan perkataanya lagi.


Ayah tersenyum sambil mengangguk.


Oh Gusti, punya Ayah cerdas beridas begini nih, pinter banget ngegoda anak gadisnya yang lagi kasmaran ini.


"Emang ditempat Shelomita ada acara apa Ra? tumben kamu mau kesana, pasti ada udang di balik bumbu padang ini" Mas Renal terkekeh.


Zara melirik Mas Renal. Hih ganteng-ganteng macam cenayang saja ini Mas yang satu ini. Bisa langsung tau banget gitu.


"Mbak Rengganis mengundang Zara langsung, pelanggan setia Bunda istrinya Mas Albirruni"ucap Bunda.


"Berat Ra" Celetuk Ayah.


Ayah Rama sudah tahu jika Albirruni adalah ayah dari Ayyubi. Dan Shelomita adalah keponakan Albirruni.


"Apa nya yang berat sih Yah?" Tanya Bunda kebingungan dengan pernyataan Ayah.


Dih ayah ini, bener-bener, suka banget bikin Zara jantungan. Kalau Bunda tau, uang jajan Zara bisa di potong ini.


"Zara berat badannya naik terus Bun, emang keliatan gendutan ya Yah"


Ayah terkekeh, "Gendut juga cantik koh anak Ayah"


Hih, sudah ngapa, jangan bahas segala hal tentang Ayyubi lagi. Serem nih kalau bahasnya didepan Bunda. Berasa uka uka.


Zara segera menghabiskan sarapannya, begitu juga yang lainnya. Zara membantu Bunda merapikan meja makan dan mencuci piring.


Hari Minggu ini Zara mengisi waktunya untuk merapikan kamarnya dan mengerjakan beberapa tugasnya. Setelah Dzuhur Zara membantu Bunda di Zahra Cake.


...***...


Sore ini Mas Renal sudah siap mengantar Zara ke rumah Shelomita. Mas Renal menggunakan celana panjang dan baju koko.


"Mas, kok pakai baju koko sih?"tanyaku. Kenapa jadi Mas Renal yang begitu rapi yah.


"Ya kan katanya tadi mau pengajian." Mas Renal memandangku dari atas sampai bawah.


"Dek, kok kamu malah pake celana levis sih, pake gamis sana"


Zara mengernyitkan dahinya, "Ih, Zara kan gak punya baju muslim bagus, ada juga bekas lebaran kemarin"


"Adek Mas yang super cantik, baju muslim seperti apapun, kalau di pake adek pasti akan tetep cantik kok"


Dih Mas Renal, jago banget ngerayu, Zara tersenyum. Zara bagaikan anak kecil yang jika di puji langsung nurut😆.


Zara mencari-cari busana muslim lebaran tahun lalu. Yapz Zara hanya mengenakan busana muslim saat lebaran saja. Itu juga hanya sampai Dzuhur saja. Anak Bunda yang satu ini memang luar binasa.


Setelah baju yang ia cari ketemu, Zara segera mengganti bajunya. Selesai berganti baju, Zara keluar dari kamarnya lagi, menghampiri Mas Renal.


"Ra, mana jilbabnya"


"Ih, Mas Renal jangan bercanda"


"Ih, mau pengajian ya pake kostum pengajian dong Ra, jangam sampe salah kostum lhoo"


"Zara gak punya"


"Bunda punya banyak, sana bilang ke ayah, biar ayah nanti yang pilihkan"


Entahlah, Zara seolah terhipnotis dengan apa yang Mas Renal perintah.


Zara mencari Ayahnya yang sedang berada di taman. Ayah sedang memandikan burung love bird miliknya. Zara langsung meminta Ayahnya untuk mencarikan Jilbab Bunda karena Bunda masih berada di toko.


Ayah langsung mengantar Zara ke kamar utama. Walaupun Zara adalah anak Ayah Bunda, tapi Zara tidak mau asal masuk saja ke kamar orangtuanya. Kata Mas Renal "Gak sopan."


Ayah memilihkan jilbab untuk Zara sesuai dengan baju yang Zara kenakan. Zara menggunakan gamis berwarna hijau muda. Seger pokoknya kaya daun muda🤭. Ayah memilihkan jilbab warna hijau juga.


"Nih pakai yang ini Ra"


"Ayah, ini besar banget"


"Ya jilbab Bunda kan emang begitu Ra"


Zara lalu mencobanya terlebih dahulu, Zara lalu bercermin. Ya Allah Zara Ahmad, cantik paripurna banget sih. Hahaha ngagul sendiri.


"Oke Zara mau Yah"


Ayah tersenyum, "Kamu cantik banget Kak, persis waktu Bundamu Muda"


"Bener lah, kalau masuk keluarga Wijaya pakai seperti ini baru bisa diterima dengan baik"


"Ayah memang kenal sama keluarga mereka?"


"Kenal, siapa sih yang tidak kenal dengan kakek Ayyubi di Surabaya ini Kak"


"Apa sebegitunya Yah?"


"Iya, mereka keluarga terhormat, agamis, dermawan"


Duh, ya Robbi, Zara kok mendadak minder yah, Zara meremas jemari-jemarinya.


"Niat tulus dari hati, biar aura kebaikannya terpancar, anak ayah juga pantas dicintai"


Ayah Rama paling bisa membuat Zara terharu. Zara cinta banget sama Ayah Rama pokoknya titik.


Zara mengangguk lalu keluar dari kamar Bunda, berjalan menghampiri Mas Renal.


"Mas, ayo"


Mas Renal yang sedang bermain ponsel langsung menengadah, melihat ke arah Zara. Senyum mas Renal langsung mengembang.


"MasyaAllah, Ayu tenan lhoo kamu Dek"


Zara tersenyum malu, "Bener nih Mas"


Ini sepertinya untuk pertama kali Zara merasakan malu. Biasanya malu-maluin😆.


Mas Renal dan Zara menuju parkiran rumah mereka, setelah itu mereka bergegas ke toko Bunda untuk mengambil pesanan Tante Ganis.


Pesanan tante Ganis lumayan banyak, ada beberapa macam kue. Mas Renal menatanya di dalam mobil lalu segera ke rumah Shelomita.


Sesuai dengan GPS yang Shelomita kirimkan. Zara dan Mas Renal akhirnya sampai juga di rumah keluarga Wijaya. Rumah yang cukup besar dengan pilar-pilar yang besar bercat putih.


Mas Renal turun lalu memberi tahu Pak satpam terlebih dahulu. Pak Satpam langsung membukakan gerbangnya. Mobil Renal segera masuk kedalam parkiran rumah Wijaya yang sudah Pak Satpam beritahu sebelumnya.


Setelah terparkir sempurna, Zara dan Renal menenteng box kue yang Tante Rengganis pesan. Mereka berdua lalu menuju pintu utama.


"Assalamualaikum" Ucap Zara dan Mas Renal berbarengan.


"Waalaikumsallam" Jawab Tante Rengganis.


" Eh ya Allah cah Ayu, box nya letakan disitu saja biar nanti suami tante yang bawa, kamu jangan bawa yang berat-berat"


Ya Allah, tante Rengganis ini, udah cantik, baiknya kebangeten lagi. Beruntung banget sih bapaknya Ayyubi. Bener-bener mertua idaman para perawan ini mah.


"Pah..."


"Iya Mah"


Seseorang laki-laki setengah baya menghampiri Tante Rengganis sambil tersenyum.


Dih, ini oppa-oppa korea dari mana ini, walaupun tak muda lagi, tapi kegantengannya masih sangat jelas terlihat di wajahnya. Apa ini papahnya Ayyubi? sepertinya iya.


"Ini ada Zara, gotong-gotong kue Pah, kasihan"


Fix benar ini Papahnya Ayyubi. Pantas saja Ayyubi ganteng maximal, lah bibit nya ge begini.


Mas Birru langsung mengambil alih box yang Zara bawa. Tante Rengganis lalu mengajak Zara dan Mas Renal masuk kedalam rumahnya. Di dalam rumah sudah sangat ramai keluarga Wijaya. Zara menatapnya satu-persatu.


Ini rumah apa surga sih, kenapa cantik-cantik dan ganteng-ganteng semua sih, tadi Pak satpam depan juga lumayan ganteng😆


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Penasaran ya? mereka aja udah rame, di tambahin Zara bakal tambah rame gak yah? semua lagi kumpul disini, Raka Dara Almira Reihan juga ada)


Jangan lupa like, komen dan Vote.


Salam sayang,


Santy puji