
Aku menatap kepergian bunda dan kak Wildan dari teras rumah. Seharusnya kejadian seperti ini tak pernah terjadi, aku harus diam dirumah dan di tinggal ke rumah sakit oleh keduanya.
Kutatap pak Budi yang menutup pintu gerbang rumah, dan ia kembali berjaga. Seketika aku teringat sesuatu.
Cepat-cepat aku masuk kedalam dan berjalan menuju dapur, kubuatkan sebuah kopi dan mengambil beberapa jenis gorengan yang bunda buat tadi sebelum pergi. Setelah selesai aku langsung membawanya menuju tempat pak Budi.
"Pak Budi." panggilku yang langsung di sahut olehnya.
"Iya, neng?"
"Ndah buatin kopi buat pak Budi, sama ini gorengan yang bunda bikin tadi."
"Wahh, jadi repotin atuh neng." aku menaruh nampan itu di samping pak Budi, dan ikut duduk di kursi seberangnya.
Inilah pak Budi, orang asli dari Bandung, yang sengaja diajak tinggal di Jakarta bersama kami. Pasalnya, bunda memang tak bisa menyetir mobil, begitupun denganku. Sedangkan kak Wildan termasuk orang paling sibuk di keluarga kami, jadi dia jarang sekali ada di rumah. Wajar saja, saat ini ia sudah kuliah, ditambah lagi dia harus bekerja untuk membantu bunda.
"Pak, kira-kira bunda sama kak Wildan kapan pulang, ya?"
"Wahh, bapak sih gak tahu neng. Palingan ibu kalo udah ketemu sama dokter Keyra bisa pulang jam sepuluhan."
Aku memangut-mangut mencerna ucapan pak Budi tadi. Jika bunda pulang larut, berarti aku sudah tidur. Ahh, menyebalkan.
"Pak Budi nanti jagain rumah terus ya pak. Ndah takut kalo sendirian."
"Yehh, si eneng teh kumaha sih. Kan aya bapak."
Pak Budi menyesap kopi buatanku, sejenak dia terdiam setelah menyesapnya. Apa kopi buatanku tak enak? Apa aku salah memasukkan gula dengan garam? Ah, mana mungkin. Aku sangat teliti.
"Kenapa pak? Gak enak ya kopinya?" tanyaku menatap cemas pak Budi.
"Enak neng, enaknya pake banget. Sami sareng kopi buatan istri bapak dulu."
"Ohh, aku kira rasanya pahit atau asin."
Aku terkekeh kecil menanggapinya. Dua tahun lalu, istri dari pak Budi meninggal karena sakit keras. Aku tahu itu dari bunda yang bercerita, dan katanya dia sakit jantung. Karena itulah pak Budi bekerja sangat keras untuk sang istri, hingga akhirnya kerja kerasnya terasa sia-sia, sang istri meninggal saat pak Budi telah menerima pinjaman dari bunda untuk pengobatannya.
Bunda bilang, jika saja sejak awal pak Budi bilang jika istrinya sakit dan memerlukan biaya banyak, maka sejak awal pula bunda sudah meminjamkan bahkan mungkin memberikan pak Budi uang itu. Karena bunda juga bisa merasakannya, ia juga harus berjuang dengan keras untuk biaya pengobatan anaknya saat ini.
Dulu, aku pernah menganggap diriku ini hanyalah beban untuk bunda dan kak Wildan, aku tak tega rasanya melihat bunda yang bekerja pagi hingga malam hanya untukku, belum lagi dia harus merawat rumah.
Sungguh, aku saja yang membayangkannya tak sanggup, tapi bunda. Dia memang malaikatku.
"Neng Ndah kedalem aja, udaranya dingin. Angin malem mah jahat neng, gak baik buat kesehatan eneng." saran pak Budi yang membuatku tersentak kaget.
"Ehh, iya pak. Ndah kedalem ya,"
Aku beranjak dari dudukku dan melangkah masuk kedalam rumah. Baru saja aku membuka pintu kamarku, suara pak Budi kembali menyapa indera pendengaranku. Ia memanggilku, entah ada apa.
"Kenapa pak?" tanyaku dengan kembali menutup pintu kamar.
"Itu ada orang yang nanyain neng Ndah diluar."
"Siapa, pak?"
"Wahh, bapak juga gak tahu neng. Tapi dia teh laki-laki."
Dengan rasa penasaran akupun berjalan menuju luar untuk melihat siapa itu, semoga saja bukan Andrew.
Aku menatap seseorang yang berdiri didepan pintu gerbang rumah yang tertutup rapat, ia bersandar pada mobilnya dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya. Akupun menghampiri dia yang masih bergeming.
"Mau ngapain kesini?" tanyaku ketus pada Daniel.
"Siapa juga yang kesini."
"Lah, terus?"
"Gue mau balikin handphone lo yang tadi siang." katanya lalu mengeluarkan handphone milikku dari saku jaketnya.
Kenapa aku tak ingat jika handphoneku ada padanya? Ah, aku terlalu ceroboh.
Aku mengambil handphoneku dan mengeceknya dengan teliti, takutnya diapa-apakan oleh Daniel,"Lain kali gak usah di kantongin lagi." tegurku.
"Iya. Makasihnya?"
Kuhela nafasku dengan kasar dan memutar bola mataku malas. Daniel ternyata selalu seperti itu, padahal dia juga yang salah, tapi ia masih tak mau meminta maaf?
"Makasih."
Aku menyuruh pak Budi membuka gerbang untuk mobil Daniel yang akan masuk. Iya, aku menyuruhnya masuk terlebih dahulu. Lagipula di rumah masih ada pak Budi yang berjaga, jadi aku tak perlu khawatir.
"Nyokap lo mana?" tanya Daniel yang kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Pergi sama kak Wildan."
"Lo sendiri?"
"Nggak, kan ada pak Budi sama kak Daniel."
"Capek gue ngomong sama lo."
"Aku bener loh kak." ucapku ngotot.
"Terserah."
Daniel menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa, sepertinya dia terlihat lelah.
"Mau minum apa, kak?"
"Terserah."
"Gak ada minuman terserah dirumahku, kak."
"Maksudnya terserah lo mau bikinin minuman apaan."
"Kalo aku bikin minuman yang di tambah racun tikus juga gakpapa dong?" ucapku seakan ingin memancingnya. Tidak, tepatnya ingin balas dendam mungkin.
"Lo mau gue keracunan terus mati?"
"Itu kak Daniel yang ngomong, ya."
Baru kali ini aku melihat Daniel sesewot ini, dia memang sangat manis bila sudah kesal. Tapi saat marah, aku masih belum tahu. Apakah kesal dan marah sama? Beritahu aku.
"Kapan kakak matinya? Terus wujudnya jadi apa? Genderewo, pocong atau kuntilanak?" tanyaku dengan menaik-turunkan alisku.
"Parah banget lo. Lo nyumpahin gue mati?"
"Tuh, kan. Kakak sendiri loh yang bilang."
"Tahu, ahh. Gue balik." pamit Daniel yang kemudian mengambil jaketnya yang dia simpan di sofa, dan berjalan menuju pintu.
"Balik kerumah kak?"
"Bukan."
"Terus kemana?" tanyaku heran.
Biasanya laki-laki suka kelayapan malam, entah itu untuk apa. Aku sendiri tak tahu, tapi aku pernah melihat kak Wildan di marahi bunda karena keluar malam dan ikut balapan. Setelah itu, ia di kurung dalam kamar seharian.
"Lo mau tahu?"
"Iya."
"Kuburan."
Aku membulatkan mataku dengan mulut yang menganga. Rasanya Daniel sudah sedikit tidak waras, otaknya mungkin sedikit bergeser hingga menyebabkan ia seperti ini.
"Serius, kak?" tanyaku tak percaya.
"Ya enggaklah, ya kali cowok seganteng gue mati duluan. Yang ada lo yang duluan," katanya dengan membanggakan diri sendiri.
"Iya, mungkin aja itu bakalan terjadi." ucapku sejujurnya.
Yang dikatakan oleh Daniel memang tak salah menurutku. Bisa jadi aku yang duluan meninggal, atau mungkin maut memilih Daniel yang mendahului.
"Udahlah, gak usah becandaan lagi. Males gue ngomong sama lo."
"Sama." celetukku yang kemudian mendekati Daniel dengan melipat tanganku di depan dada.
"Huss, sana." aku dengan daguku menunjuk kearah luar.
"Lo ngusir gue?!"
"Kalo iya, kenapa? Inikan rumah aku." ucapku membangga.
"Okay."
Daniel melangkahkan kakinya menuju luar, akupun mengikutinya. Ia mulai membuka pintu mobilnya, dan akan masuk. Namun entah mengapa ia malah berhenti dan kembali memandangku.
"Besok gue gak janji bakalan jemput lo. Gue harus jemput Ayla." ujarnya kemudian melanjutkan aktivitasnya yang masuk kedalam mobilnya.
"Iya."
Kutatap mobil Daniel yang mulai meninggalkan pekarangan rumahku. Dan kemudian akupun mulai memasuki rumah kembali setelah melihat pak Budi yang menutup pintu gerbang.
Di dalam kamar aku masih merenungkan kejadiam tadi siang. Kejadian dimana Andrew kembali dan mendatangiku. Dulu saat aku di ganggu oleh Andrew, akan datang seseorang yang menolongku, aku merindukannya. Lantas, apa kabar dengannya? Sudah hampir satu bulan kami tak saling bertukar kabar.
Atau mungkin dia sudah tak ingat lagi padaku? Ahh, aku rasa tidak mungkin. Ataukah dia sudah memiliki wanita lain? Kalaupun iya, aku bersyukur. Itu artinya, akan ada orang lagi yang akan mengenalkan arti cinta padanya.
Aku membaringkan tubuhku diatas ranjang, menatap langit-langit kamar yang minim akan cahaya karena lampu utama telah di matikan. Namun handphoneku berbunyi. Disana ada panggilan asing yang tak aku ketahui nomornya.
Dengan ragu aku mulai mengangkatnya.
"Ha-lo." ucapku sedikit ragu.
Pasalnya aku memang tak pernah mendapat sambungan telpon dari nomor yang tak aku ketahui.
"Ini gue, Daniel. Lo takut, hah?"
Kuhela nafasku dengan leganya, aku pikir ini adalah orang jahat yang sengaja menelponku.
"Kak Daniel, aku kira siapa. Ternyata manusia setengah iblis yang nelpon." ucapku tanpa sadarnya.
Mungkin efek terlalu senang hingga aku lupa jika saja aku telah mengundang amarahnya.
"Lo bilang apa tadi? Manusia setengah iblis? Lo ngatain gue?!"
Suara itu semakin meninggi. Sepertinya Daniel kesal sekarang.
"Ehh, nggak kok. Aku gak bilang begitu." alibiku yang kemudian tersenyum menahan tawa.
"Gak usah senyum-senyum kayak gitu. Gue gak suka."
"Gimana kak Daniel tahu?"
"Apanya?"
"Aku senyum."
"Jadi bener?"
"Ehh,"
"Udahlah, lupain aja. Gue cuman mau ingetin lo. Besok gue jemput lo jam 6 lewat, lo jangan lelet."
"Terus kak Ayla gimana? Kan kak Daniel bilang mau jemput dia."
"Bawel banget sih lo jadi orang, diem aja bisa gak sih? Gue udah ingetin, jadi besok jangan lelet. Gue gak suka sama orang yang lelet."
"Iy---"
Baru saja aku akan menjawab iya, namun sambungan sudah terputus. Daniel memutuskannya secara sepihak, dia memang sangat-sangat menyebalkan menurutku.
Lalu, tak lama dari itu aku langsung menaruh handphoneku di atas meja nakas dan mencharger handphone itu.
...***...