
"Kak Daniel."
Sontak Daniel dan Ayla langsung menoleh ke arah sumber suara, dia terkejut melihat Wirda yang kini menatapnya kosong. Perlahan tapi pasti, dia merenggangkan pelukannya pada Ayla hingga terlepas seutuhnya.
"Dah." lirih Daniel yang berjalan kearah Wirda, "Kamu ngapain disini?"
"Harusnya aku yang nanya gitu, kakak ngapain di sini?"
Sebelumnya ia pikir yang dibicarakan oleh Max itu salah, karena Wirda menyangkanya tidak mungkin bagi seorang Daniel selingkuh, dan dia juga tahu jika Ayla dan Daniel sudah sahabatan sejak kecil. Tapi sekarang ia merasa ada sesuatu yang mengganjal diantara mereka.
"Dah, kamu salahpaham. Ini gak kayak yang kamu pikirin, jadi tolong dengerin dulu penjelasan aku." ucap Daniel yang memegang kedua bahu Wirda.
"Apa lagi? Setelah semua bukti tertuju kearah kakak, kakak mau ngelak gitu aja? Jadi apa yang kak Max omongin bener? Semua yang di gosipin siswa-siswi itu bener?"
"Dah, kamu salahpaham. Aku gak mungkin selingkuh, dan Ayla itu sahabat aku. Kamu juga tahu, kan?"
"Aku gak yakin." ujar Wirda, bahkan air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Dia menangis?
"Dah, kamu percayakan sama aku?"
Jika Daniel terus seperti ini, bagaimana caranya Wirda untuk tidak percaya? Dia mungkin pernah melihat Daniel dan Ayla berpelukan, bahkan berkali-kali, juga di depannya. Wirda tahu jika Ayla memiliki sifat manja jika berhadapan dengan Daniel karena sejak kecil mereka selalu bersama. Tapi kenapa kali ini rasanya sangat menyakitkan? Apa ini akhir untuk semuanya? Bukankah ini yang Wirda mau serta yang dia inginkan sejak lama.
"Mana yang harus aku percaya, kak Daniel, apa Tuhan?" tanya Wirda dengan memberi setiap tekanan di kata-katanya.
Jujur saja Wirda hanya ingin memperkeru keadaan, mungkin ini saatnya Daniel belajar terbiasa tanpa harus adanya sosok Wirda di hidupnya.
"Tuhan." lirih Daniel, tatapannya masih lekat pada matanya Wirda.
"Yaudah."
"Maksudnya?" Daniel mengkerutkan keningnya, ia tak paham maksud dari perkataan Wirda.
"Kita break dulu ya, kak. Aku capek, butuh istirahat buat nenangin pikiran sama hati aku."
Deg, kata ini yang tak ingin Daniel dengar, tapi kenapa harus di ucapkan?
"Sampe kapan?"
"2 bulan, aku butuh sendiri."
"Tapi 2 bulan lagi, aku lulus Dah."
"Kalo kakak masih gak mau, yaudah. Lebih baik kita udahan aja." ketus Wirda yang memalingkan wajahnya kearah lain.
"Oke, aku turutin kemauan kamu, kita break. Tapi jangan pernah kamu ngehindar dari aku, aku gak mau kita putus." ujar Daniel yang kemudian pergi menarik Ayla meninggalkan Wirda yang masih mematung di sana.
Sakit, itulah yang Wirda rasakan sekarang. Dia tak bisa berbuat apapun. Tubuhnya mulai melemas, dia terjatuh diatas rerumputan. Tangisnya pecah, dia tak pernah menyangka jika dia sendirilah yang akan merenggangkan hubungannya ini. Kemarin mereka masih bersama, bahkan tak ada perkelahian antara mereka, tapi kenapa dalam sekejap takdir membawanya pada posisi sulit? Tidak, Wirda sendirilah yang mempersulitnya. Daniel tak pernah mengerti apa yang Wirda alami. Wirdapun sama, dia hanya menuruti egonya dan berpikir bagaimana caranya agar mengakhiri semuanya tanpa harus menyakiti Daniel. Karena perpisahan tanpa menyakitilah yang Wirda inginkan.
Tapi itu bohong, bukan?
...***...
"Dah, kamu kenapa?" tanya bunda yang duduk disampingku.
Aku hanya tersenyum simpul, lalu tidur di pangkuan bunda. Sudah lama aku tak pernah tidur dipangkuan bunda lagi, dan kini aku merasa bunda mengelus lembut surai rambutku.
"Bun." panggilku.
"Iya?"
"Mungkin nanti bagi Daniel, kamu ninggalin dia tanpa alasan. Tapi menurut bunda, kamu punya alasan, alasan yang kuat buat masa depan kamu." ucap bunda lembut.
Aku bingung, apa ini adil untuk Daniel? Dia korban dari ke egoisanku, tapi jika bukan sekarang, kapan lagi? Jujur saja aku tidak terlalu sakit hati melihat Ayla dan Daniel berpelukan ataupun Daniel yang mencium kening Ayla tadi, karena menurutku itu wajar, mungkin Ayla sedang ada masalah.
"Aku break sama kak Daniel."
"Kalo itu yang terbaik, kenapa enggak? Bunda mau kamu fokus sama kesehatan kamu dulu sekarang, jangan mikirin orang lain dulu."
"Sebentar lagi aku kelas 12, setelah itu semuanya bakalan berubah bun. Ndah gak tega harus ninggalin kak Daniel." lirihku, dan kali ini air mataku sudah tak bisa di bendung lagi. Aku menangis dalam pangkuan bunda.
"Kamu jujur sama dia."
"Ndah gak bisa, itu sama aja nyakitin dia bun."
"Dah, bunda tahu, bunda tahu kamu gak bisa jujur ataupun ninggalin Daniel. Tapi kamu harus tahu, kalo kamu kayak gini, itu sama aja kayak kamu nyakitin diri kamu sendiri. Daniel bisa aja benci sama kamu karena kamu udah ninggalin dia tanpa alasan."
"Kalo itu yang terbaik, biar Ndah yang tersakitin bun, biar Ndah aja yang di benci."
"Kamu bertindak seakan kamu itu pengecut, Dah." ucap seseorang.
Aku yakin itu kak Wildan, dengan cepat aku menghapus airmataku, lalu duduk dan menatap kak Wildan yang berjalan kearahku.
"Kak." lirihku dengan memaksa senyum palsu.
"Kamu udah pulang nak, mau bunda siapin makan?" tanya bunda yang mengelus punggung kak Wildan.
Aku tahu, pasti kak Wildan pulang kerja, pakaiannya masih sama. Belum ganti sama sekali. Dan tatapannya, dia menatapku sangat tajam.
"Enggak bun, bunda istirahat aja. Udah malem." tuturnya datar.
"Yaudah, bunda ke kamar dulu ya." pamit bunda yang kemudian pergi.
Aku tahu, bunda pasti ingin membiarkan kak Wildan menceramahiku, memberi nasihat yang akan membuatku sadar. Itu sudah sering terjadi, jika aku ada masalah, maka orang kedua yang akan membantuku adalah kak Wildan. Dia sangat menyayangiku, aku tahu dia rela di tinggalkan oleh para kekasihnya hanya untukku, dia akan menuruti apa yang aku inginkan.
"Kak, Kak Daniel."
"Kakak tahu." potong kak Wildan, perlahan dia mendekatiku, mempelai pipiku dan memelukku, pelukan yang sangat aku rindukan.
Andai ayah ada di sini, aku juga ingin mendapatkan kasih sayangnya, aku ingin mendapat pelukannya. Namun semua harapanku tak akan terjadi, bunda bilang jika ayah meninggal saat aku masih bayi. Aku juga tak tahu kenapa, aku juga tidak pernah menemukan foto ayah, bunda tak pernah ingin membahas tentang ayah. Aku yakin jika ada sesuatu yang bunda dan kak Wildan sembunyikan dariku.
"Jangan jadi pengecut untuk yang ke sekian kalinya, Dah. Udah cukup, kakak gak bisa ngeliat ini semua."
"Maaf, maafin Ndah." lirihku dengan air mata yang sudah membanjiri kemeja kak Wildan, wangi mint milik kak Wildan selalu membuatku tenang dan rindu akan pelukannya.
...***...
Hallo kalian semua,,
makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan.
Salam kasih dari author😊
Mohon vote & like nya, ya. Jika kalian suka sama cerita ini😃
...terimakasih...