
Nafasku mulai terengah-engah. Lagi-lagi aku sesak karena berlari terlalu jauh. Aku bosan seperti ini. Tak bisakah aku seperti orang lain? Tak bisakah aku seperti dulu lagi? Rasa ini menyakitkan.
Kuteguk air minum milikku. Lalu aku membuka pintu yang terhubung ke rooftop. Dari kejauhan aku melihat ada seseorang yang terduduk ditepi gedung.
Aku tersenyum saat orang itu masih menatap kearah depan, bahkan dia seakan tak menyadari kedatanganku.
"Aku kira kak Daniel bakalan lompat ke bawah sana." aku melangkah mendekati Daniel. Lalu aku ikut duduk disampingnya sambil menurunkan kakiku.
"Ngapain lo kesini?"
"Kak Daniel sendiri ngapain di sini? Di usir dari kelas?"
"Gak usah sok tahu. Jawab aja pertanyaan gue, lo ngapain kesini? Di usir sama guru lo? Cih." kulihat Daniel yang tersenyum miring mengejekku.
"Kenapa? Gak boleh? Inikan bukan sekolahan kak Daniel. Jadi aku bebas dong mau kemana aja."
"Terserah, lo."
Aku mengambil kantung plastik milikku dan menyodorkan sebungkus siomay pada Daniel. Tapi respons Daniel hanya diam. Dia menatapi siomay itu dengan sebelah alis yang terangkat.
"Ini siomay buat kak Daniel. Aku yakin tadi pagi kak Daniel pasti gak sarapan dulu."
"Sok tahu, lo." Daniel mengambil siomay itu lalu mengocoknya.
"Tapi bener, kan?"
"Dari mana lo tahu?"
"Agatha. Dia bilang, kak Daniel gak pernah sarapan pagi kalo mau berangkat sekolah. Dia bilang kak Daniel sering banget telat. Kakak suka berangkat jam setengah tujuh, tapi sampe sekolahnya jam sembilan. Dan aku yakin kak Daniel sering banget loncat tembok belakang tadi."
Aku menatapi Daniel yang masih sibuk mengocok siomaynya. Lalu membuka ikatannya.
"Ternyata lo tahu banyak tentang gue, ya?"
"Nggak juga,"
"Ini." Daniel menyodorkan siomaynya kearah mulutku. Dia mulai bertingkah lagi, dan aku tak suka itu. Pasalnya, Daniel bertingkah seperti ini pasti ada maksud lain.
"Apaan?"
"Makan!"
"Kakak aja. Aku udah punya, ini." aku mengangkat sebungkus siomay milikku dan mengocoknya hingga bumbu itu tercampur.
"Jangan mikir aneh-aneh. Gue mau nyuapin lo karena gue gak yakin kalo makanan ini gak diapa-apain sama lo tadinya."
Aku melongos menatap Daniel. Laki-laki itu, dia masih saja sama. Bisa-bisanya dia su'udzon padaku. Padahal niatku sudah baik padanya. Aku memberikan siomay itu secara cuma-cuma, gratis. Tapi dengan seenak jidatnya dia menuduhku dengan yang tidak-tidak.
"Kak Daniel nuduh aku masukin racun gitu?" tanyaku tak percaya.
"Iya, makanya ayo lo makan dulu."
"Kak Daniel gak percayaan banget sih sama aku."
"Emang gue gak percaya. Abisnya tampang lo ngeselin. Bikin gue darting."
"Yaudah gak usah di makan!" ketusku yang memalingkan wajahku kedepan.
"Emosian banget sih jadi orang. Gak takut cepet tua?"
"Bodo."
Aku membuka ikatan plastik siomayku lalu memakannya dengan rakus. Begitupun Daniel. Dia mulai memakan siomay miliknya. Daniel kerapkali mempermainkanku, entah apa yang dia inginkan. Aku sendiri masih bingung dengan sikapnya.
Agatha bilang Daniel termasuk orang yang anti perempuan. Bukan berarti tak suka perempuan tapi entah apa yang membuatnya berusaha menghindar dari satu makhluk bernama perempuan itu. Dia tak pernah dekat dengan siapapun, dan aku dengar, satu perempuan yang bisa dekat dengannya hanya Ayla. Gadis yang dulu bertemu denganku di perpustakaan.
Aku semakin penasaran dibuatnya. Daniel itu masih penuh rahasia menurutku. Dan aku pikir mungkin Daniel pernah dipatahkan oleh perempuan hingga ia memilih untuk menghindar.
"Gue perhatiin lo udah sembuh." ujar Daniel yang menghentikan makannya dan menatapku dari samping.
"Iya,"
"Jadi tanggung jawab gue udah selesai, dong. Lo udah sembuh dan sekarang lo bebas. Lo gak perlu lagi risih kalo deketan sama gue."
Aku terdiam menunduk. Entah apa yang aku rasakan sekarang, tapi rasanya sangat sakit mendengar Daniel mengatakan itu. Dia berkata seolah dirinya terbebani olehku selama ini.
"Kenapa diem?" tanyanya.
"Nggak."
"Ke kelas gih. Udah mau masuk pelajaran kedua. Takutnya nanti lo dihukum."
"Iya."
Aku beranjak dari dudukku, lalu berjalan menuju pintu. Namun, saat aku akan membuka pintu besi itu, satu suara menghentikanku. Dia, Daniel memanggilku.
Aku terdiam tanpa membalikkan tubuhku.
"Dah... Setelah lo bikin gue nyaman atas kehadiran lo. Terus lo mau pergi gitu aja?" tanya Daniel dengan lantangnya.
Aku membalikkan tubuhku dan mendapati Daniel yang masih duduk di tepi gedung dengan pandangannya yang masih lurus kedepan.
"Kak..."
"Gue egois gak sih kalo gue mau lo terus ada disamping gue? Gue butuh temen." Daniel membalikkan tubuhnya dan menatapku dengan senyuman manis miliknya.
Senyuman yang nyaris tak pernah aku lihat. Juga membuat hatiku menghangat.
"jam 14.15 aku tunggu di depan kelasku. Kita pulang bareng, ya." ujarku dibarengi senyuman.
"Istirahat nanti gue ke kelas lo. Kita istirahat bareng."
"Tap---"
"Kalo lo lupa, biar gue ingetin. Gue gak menerima penolakkan."
Kuhela nafas pasrah, lalu berjalan meninggalkan Daniel di rooftop.
Ini untuk pertama kalinya Daniel berkata seperti itu kepadaku. Rasanya aneh, akupun merasakan hal yang sama seperti yang Daniel bilang tadi. Jujur, akupun tak ingin kehilangan Daniel, apalagi sosoknya itu mirip seperti seseorang yang masih aku rindukan. Meski aku tahu, Wajahnya tak cukup mirip, tapi mata tajam Daniel sama persis seperti milik orang itu.
Apakah kedepannya perlakuan Daniel juga akan mirip dengannya? Atau mungkin Daniel benar-benar bisa menggantikan posisinya? Mustahilkah jika aku berharap begitu? Ahh, mana mungkin seorang Daniel yang menjadi dambaan setiap wanita di sekolah ini memilih bahkan mungkin jatuh cinta pada gadis biasa sepertiku. Itu terlalu sulit, juga rumit.
Apakah aku benar sudah membuka hati lagi? Lalu bagaimana jika Daniellah yang merobohkan dinding pertahananku ini? Dinding yang aku buat kuat-kuat agar tak ada yang bisa masuk lagi selain dia? Apakah akan hancur? Aku bingung, sungguh aku bingung.
Hai hati, bagaimanakah kabarmu sekarang? Beritahu aku. Aku diambang kebingungan.
...***...
Jam pulang sekolah sudah berlalu sejak 15 menit lalu. Dan Daniel menepati ucapannya tadi saat istirahat. Dia dengan angkuhnya bisa memasuki kelasku tanpa rasa malu akan guru. Padahal istirahat masih 5 menit lagi, tapi dasar Daniel yang memang tidak sabaran.
"Kak, nanti mampir dulu ke studio di sana, ya." ucapku yang menunjuk kearah studio di depan.
Tak lama Daniel langsung memberhentikan mobilnya tepat di depan studio itu.
Antara senang dan takut yang tercampur aduk. Aku mulai melangkahkan kakiku menuju studio itu. Perlahan aku membukakan pintunya, lalu masuk diikuti Daniel yang mengekori.
"Kita ngapain disini?" tanya Daniel yang menatap sekitar.
"Gak usah bawel bisa gak?"
"Kok gu---"
"Iya-iya, maaf." ucapku mendahului. Pasalnya jika tak di dahului, Daniel akan mendahului dan membuat keributan disini.
Aku berjalan menuruni tangga menuju tangga Dasar, disana aku melihat beberapa pekerja yang sedang membuat biola. Sedangkan pekerja lainnya pasti sedang dilantai 2 atau 3, lantai 3 biasa dipakai untuk ruangan berlatih. Sedangkan lantai 2 tadi, biasa dipakai untuk menemui pembeli biola atau tamu.
"Mas Herlan, kak Wildan mana?" tanyaku pada salah satu pengerajin sekaligus teman kak Wildan.
"Nggak kesini, Wir. Gak tahu kenapa."
Aku menelan ludahku kasar, ingatanku berkelana kemana-mana. Takut jika nanti kak Wildan mengamuk padaku.
"Lo kenapa?" tanya Daniel dengan alis yang terangkat sebelah.
"Hah? Eh,, eng-nggak kok." ucapku gugup.
"Mas Herlan. Viola udah dibenerin belum sama kak Wildan?"
"Udah, tuh di lemari itu." mas Herlan menunjuk sebuah lemari besar yang di dalamnya penuh dengan biola koleksi kak Wildan sekaligus pesanan para pembeli.
Aku melangkah mendekati lemari itu dan melihat biola milikku ada disana. Sangat cantik. Biola itu diukir dengan sangat indah, apalagi ditambah dengan sebuah inisial W.V yang artinya Wirda Viola. Aku sengaja menamai biolaku Viola. Nama itu cantik, serasi dengan biolanya yang juga cantik.
"Biola lo yang waktu itu rusak bukan?" tanya Daniel disampingku.
Aku mengangguk, lalu mengambil biolaku.
"Kita pulang aja, kak." ajakku yang kemudian merapikan biolaku pada tasnya lalu membawanya denganku.
"Gak makan dulu? Gue laper."
"Yaudah ayo."
Daniel berjalan disampingku, dia berusaha menyeimbangi langkahnya denganku. Rasanya aku tak tahan lagi menahan tawa, sebab Daniel yang terlihat tak sabaran.
"Kak Daniel kesel?" tanyaku menatap wajah Daniel yang terlihat murung.
"Lo lambat banget jalannya, gue udah laper dari tadi." kesal Daniel.
"Yaudah iya...."
Aku berjalan lebih cepat lagi meninggalkan Daniel di belakang. Sambil berjalan aku tersenyum ramah pada para pekerja yang menyapaku. Tak lupa aku pamit pada mas Herlan.
"Gak usah cepet-cepet jalannya!" teriak Daniel dari belakang.
"Iya..."
...***...