Wirdaniel

Wirdaniel
Terjebak



Aku menuruni anak tangga satu-persatu, kutatap bunda yang sedang membawa piring ke meja makan, begitupun kak Wildan yang mulai duduk dikursi meja makan.


"Pagi bunda." sapaku yang mencium pipi bunda.


"Pagi sayang, itu sarapan kamu udah siap. Bunda juga udah siapin bekal, kotak makannya tuh di samping kakak." ucap bunda yang langsung aku angguki.


Jujur, sebenarnya aku tak perlu lagi membawa bekal makanan ke sekolah, aku bukan lagi anak TK maupun SD yang harus membawa makanan dari rumah. Tapi apalah dayaku jika bunda yang meminta.


Kusimpan tasku dikursi samping tempat dudukku, sedangkan aku duduk di samping kak Wildan yang mulai memakan roti selai kacangnya.


"Pagi kakakku yang brengsek," sapaku dengan sedikit berbisik pada kak Wildan.


"Bunda, Ndah gangguin Ndan!" teriak kak Wildan yang membuatku langsung menutup telingaku.


"Ehh, pagi-pagi kok udah berantem aja." ujar bunda yang menaruh segelas susu putih di depanku dan juga kak Wildan. Setelahnya bunda kembali masuk ke dapur dan menyibukkan diri disana, entahlah aku tak tahu bunda sedang apa lagi. Sepertinya membereskan dapur.


"Tahu tuh, Ndah." celetuk kak Wildan dengan menatap sengit diriku.


"Kok Ndah sih kak? Kan, kak Wildan yang duluan."


"Udahh, ayo sarapannya diabisin." relai bunda yang membuatku ataupun kak Wildan diam.


Aku mengambil gelas di depanku yang berisi susu putih lalu meneguknya.


"Ah, bosen. Harusnya bunda bikin sarapannya nasi goreng pake kecap. Jangan roti terus."


Byurrr!


"NDAH!!!"


SKAKMAT. Kali ini teriakan kak Wildan lebih keras dari sebelumnya. Ini bukan karena aku kembali menggodanya, tapi karena air susu yang sedang aku minum tadi menyembur wajahnya tanpa aba-aba.


Kulihat wajah kak Wildan yang basah dan memerah, sedari tadi tatapannya tak teralihkan dariku. Sedangkan aku yang merasa atmosfer di sekitarku mulai berubah menjadi mencengkram hanya menyengir kuda dengan dua jari yang sengaja aku angkat.


"Ndah gak sengaja, kak. Sumpah," ucapku dengan posisi yang masih sama, yaitu menyengir kuda dengan dua jari yang sengaja kuangkat.


Tapi, respons yang kak Wildan berikan hanyalah diam, dan tak lama ia pergi ke kamarnya yang ada di atas.


"Ndah, lain kali jangan kayak gitu lagi sama kakaknya, ya sayang." tutur bunda yang datang dan duduk di depanku, akupun mengangguk.


Ada sedikit rasa bersalah menyeruap hatiku, kak Wildan pasti marah. Pasalnya ia akan pergi ke kampus dan sudah rapi. Tapi aku mengacaukannya.


"Ndah gak sengaja bun, lagian suruh siapa coba ngomongin itu di depan Ndah. Kan kak Wildan tahu Ndah gak suka dan trauma kalo liat itu."


"Iya, bunda ngerti kok. Yaudah, abisin sarapannya nanti biar pak Budi yang anterin ke sekolah, ya."


"Ehh, gak usah bun. Ndah udah ada yang jemput."


"Siapa?"


"Kakak kelas Ndah, katanya dia mau jemput Ndah hari ini."


"Cewek apa cowok?"


"Cowok, kenapa emangnya, bun?"


"Nggak, cuman pengen tahu aja. Kapan dia mau jemput? Ini udah hampir jam setengah tujuh loh."


"Mungkin bentar lagi, bun."


"Neng Ndah, itu ada temennya di luar."


Suara pak Budi menghentikan percakapanku dengan bunda. Dan dengan sigap aku langsung berdiri, memakan setengah rotiku, meminum susu yang tinggal setangah dan mengambil tasku. Tak lupa aku mencium tangan bunda dan mengambil kotak makanku.


"Pelan-pelan dong, Ndah." tutur bunda yang membelai rambutku dan mencium keningku.


"Ndah takut di marahin, bun." ucapku mencium telapak serta punggung tangan bunda silih berganti, dan juga mencium pipinya.


"Ndah pergi, Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumussalam, jangan lupa minum obatnya." kata bunda setengah berteriak karena jarak kami tak lagi dekat.


Aku berlari kecil menghampiri mobil Daniel yang ada di depan rumahku, dan tak menunggu di suruhpun aku langsung masuk saja. Lagi pula Daniel akan marah jika aku lambat.


"Lambat banget sih, lo." ketusnya seperti yang sudah aku bilang.


Padahal aku tak selambat itu, bahkan aku rasa yang lambat itu dia.


Daniel tak menjawab, ia hanya menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil ini meninggalkan pekarangan rumahku.


Tak ada percakapan diantara kami, hanya saja, sekadari tadi Daniel mengumpat para mobil di depan. Ya, hari ini Jakarta macet. Sedangkan mobil Daniel tak bisa lagi maju ataupun mundur untuk mencari jalan lain. Kami terjebak.


Lagi, lagi dan lagi, Daniel terus membunyikan klakson mobilnya. Jangan tanya perasaanku sekarang, jelas aku khawatir karena sekarang sudah jam 7 kurang. Entah apa yang di perbuat Daniel semalaman sehabis pulang dari rumahku hingga ia terlambat menjemputku, ia bilang jam 6 lewat, tapi nyatanya jam setengah 7. Apa jam 6 lewat adalah jam setengah 7?


"Mobil sialan, kanapa gak gerak sih? Ngeselin banget tuh mobil. Gak tahu apa gue lagi buru-buru." maki Daniel setengah berteriak.


"Sabar, kak."


"Sabar-sabar, lo pikir dengan sabar tuh mobil di depan bisa minggir gitu?"


"Kak Daniel kok malah marah-marah ke aku sih?"


"Gara-gara lo, gue jadi telat. Gara-gara lo, gue jadi kejebak macet kayak gini."


"Kak Daniel nyalahin aku?"


"Iya."


"Kak, kakak lupa, ya? Kak Daniel sendiri yang bilang bakalan jemput aku. Kak Daniel juga yang bilang kalo kakak bakalan jemput aku jam 6. Kak Daniel lupa?" ucapku sewot dengan sedikit lebih tinggi.


Dan Daniel, dia hanya diam seribu bahasa. Dia membisu setelah mendengar ucapanku itu. Dengan kesal di campur oleh rasa marah yang mendominasi, aku melepas sabuk pengamanku dan membuka pintu akan turun. Tapi tanganku terburu di cekal oleh Daniel, dia menatapku dengan raut wajah yang sulit aku artikan.


"Mau kemana?" tanya Daniel dengan suara yang lebih lembut sekarang. Dan aku yang mendengarnya mulai merinding, sekaligus hatiku menghangat karena sikapnya.


"Aku mau turun,"


"Tunggu bentar lagi. Lo tanggung jawab gue, dan gue gak mungkin biarin lo jalan sendirian,"


"Aku gak jalan kok, aku mau nyari taksi."


"Kalo lo keluar, gue juga keluar." ucap Daniel semacam mengancam.


"Kak Daniel ngancem aku?"


"Gue udah bilang, kalo lo tanggung jawab gue. Jadi kemanapun lo pergi, gue pasti ikut."


Kuhela nafasku panjang, dan menatap kembali kedepan dengan tangan yang di silangkan didepan dada. Kali ini aku kalah, harusnya aku tahu jika keinginan Daniel memang tak pernah mau dibantah atau di ganggu-gugatkan.


"Gak jadi." ketusku.


"Gue gak bermaksud buat bentak lo, tadi." ujar Daniel sembari melajukan sedikit mobilnya karena mobil di depan sudah mulai bergerak.


"Maaf," lirihku yang menatap sekilas Daniel.


"Gue maafin,"


"Ihh, bukan itu. Kak Daniel yang minta maaf maksudnya." ucapku yang lagi-lagi terbawa emosi oleh Daniel.


"Gue? Minta maaf? Sama lo? Emang salah gue apaan?"


"Mau aku sebutin satu-persatu?"


"Apa?"


"Pertama, kak Daniel pernah nabrak aku pas di cafe. Kedua, kak Daniel udah bikin bridge biola aku patah. Ketiga, kak Daniel marah-marah sama aku di kantin. Keempat, kak Daniel selalu maksa aku buat turutin semua kemauan kakak. Kelima---"


"Udah-udah, gue capek dengernya. Emang segitu banyaknya kesalahan gue?" ucap Daniel yang memotong ucapanku tadi.


"Iyalah..."


"Kok gue gak ngerasa, ya?"


Aku yang mendengar itu dari mulut Daniel langsung menatap ia tak percaya, sedangkan ia masih fokus pada jalanan yang mulai kembali normal.


"Kak Daniel, kakak serius gak ngerasa bersalah?"


"Nggak."


Kuhela nafasku pasrah. Dia memang semacam laki-laki yang bersifat seperti wanita, selalu merasa benar tanpa merasa salah sedikitpun.


Tak kuambil pusing, akupun memilih diam dan menunggu sampai kesekolah. Semoga saja pintu gerbang belum tertutup nantinya. Dan kalaupun itu tertutup, maka Daniel harus membukanya untukku masuk.


...***...