Wirdaniel

Wirdaniel
Tentang Ayla



Setelah sarapan Daniel pergi meninggalkan teman-temannya, sebenarnya niatnya ingin mencari Wirda. Namun tangannya langsung di tarik oleh seseorang, dan dengan sangat terpaksa Daniel mengikuti orang itu.


"Ngapain sih tarik-tarik tangan gue?" kesal Daniel yang tangannya ditarik oleh Ayla hingga berhenti di dekat batu besar yang tak jauh dari danau.


"Gue mau curhat sama lo." ucap Ayla dengan mata sendu, sepertinya gadis itu ada masalah.


"Tapi gue mau ketemu Wirdah."


"Gue tahu, tapi gue juga sahabat lo, Niel. Gue butuh lo sekarang." Ayla menatap dalam pada Daniel, bahkan cairan bening sudah jatuh dari pelupuk matanya.


"Yaudah, lo mau cerita apa?"


"Gue...."


...***...


Setengah jam sudah berlalu, tapi Daniel tak kunjung datang. Aku sudah merasa bosan, apa dia lupa? Atau ada urusan lain? Aku bingung, tak biasanya Daniel terlambat.


"Hai."


Aku mengedarkan pandanganku kearah samping, ternyata Max. Mengapa dia disini? Ah, aku tak perduli.


"Sendirian aja?"


"Nggak."


"Terus?"


"Sama kakak, kan kak Max duduk disini." ucapku lalu disambut kekehan kecil darinya.


Max memang lelaki yang baik, dia juga tampan, tapi dia tak menarik bagiku, meski dia termasuk dalam kriteria idamanku.


"Lo gak sama Daniel?"


"Kak Daniel lagi ada urusan."


Bohong, aku berbohong, padahal aku tidak tahu Daniel sedang apa, dimana dan bersama siapa.


"Oh, gue boleh nanya sesuatu?"


"Boleh."


"Kalo misalkan ada yang suka sama lo, apa lo bakal terima?"


"Nggak. Kan, aku pacarnya kak Daniel."


"Kalo misalkan lo sama Daniel udah putus?"


"Tergantung,"


"Lo mau gue perjuangin?"


"Hah?"


"Gue suka sama lo, Wir. Sejak pertama kita ketemu waktu itu."


Okay, sekarang Max sukses membuat jantungku berdetak lebih kencang, kenapa dia bicara seperti itu? Sedangkan sekarang, aku bersama Daniel. Lelaki yang sangat aku cintai.


"BRENGSEK!!"


Brukk!!!


Satu pukulan keras mendarat di pipi Max, siapa yang melakukan itu? Tentu Daniel, dia datang dan langsung memukul Max secara membabi buta. Aku yang melihatpun langsung terperanjak.


"Lo mau ngancurin hubungan gue sama Wirda? Iya?" ucap Daniel yang menarik kerah baju Max dan kembali menghajarnya.


"Kak Daniel, udah kak." aku berdiri dan hendak memisahkan mereka, namun Daniel terlalu nafsu untuk membabi buta Max, hingga ia tak mengizinkan Max untuk berkata satu katapun.


"Kak Daniel!" teriakku, namun masih tak di indahkan olehnya.


Harusnya Daniel paham, bukankah aku pernah bilang jika aku benci perkelahian.


"KAK DANIEL!!"


Aku mencekal lengan Daniel yang hendak memukul Max kembali, dan itu berhasil membuat Daniel diam.


"Kak Daniel tahu aku gak suka perkelahian, kakak mau jadi jagoan? Bukan disini tempatnya. Aku gak suka kak Daniel berantem lagi." lirihku disela isak tangisku.


Kemana semua orang? Kenapa mereka tak muncul untuk memisahkan perkelahian ini? Kenapa harus aku? Aku benci perkelahian.


Aku menatap tak percaya pada Daniel. Bisa-bisanya ia bicara demikian tanpa pikir panjang.


"Ternyata lo masih sama. Egois dan gak berperasaan." Max berujar sambil menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah kental.


"Lo---"


"Ehhh, Niel-Niel. sadar bro,"


Albi serta Angga yang baru saja sampai langsung mencegah Daniel agar tak kembali melanjutkan aksinya. Mereka datang terlambat.


"Lepasin, gue bisa sendiri." Daniel menatap tajam Angga dan Albi silih bergantian. Dan hal itu mampu membuat keduanya menggidik ngeri. Selepasnya sang empu pergi meninggalkan kami.


"Lo gak papa, Wir?" tanya Angga yang membuatku menggeleng.


"Aku gak papa."


"Yaudah, kalo gitu gue anter lo ke tenda."


"Tapi kak Max?"


"Dia cowok. Harus mandiri. Iya, kan bro?" Albi memukul pelan bahu Max yang membuat sang empu meringis.


Iya, aku rasa teman-teman Daniel memang tak ada yang beres.


"Tap---"


"Aku gak papa, kok." Max tersenyum tulus kearahku. Dan itu berhasil membuatku merasa semakin bersalah padanya.


"Yaelahh, pake aku-kamu segala." Albi menatap remeh kearah Max.


Entahlah, sepertinya ada sesuatu diantara Max, Daniel dan teman-temannya.


...***...


Malam ini Ayla duduk di tepi danau. Tentunya sendirian. Bahkan sedari tadi ia menunggu Redgar yang tak kunjung datang. Entah kemana pria itu pergi. Yang pasti sama saja seperti Daniel yang tadi siang menghilang entah kemana. Tak ada yang tahu, termasuk Wirda.


Sesekali Ayla mengambil handphonenya dan menempelkannya pada telinga kanannya, namun nahas, Redgar belum juga mengangkatnya.


"Sorry, aku telat. Tadi---"


"Dia lebih penting ya? Dibanding aku?" lirih Ayla dengan mata berkaca-kaca.


Redgar dibuat bungkam oleh perkataan Ayla. Ia merasa bersalah karena sudah membiarkan Ayla menunggunya hampir tiga jam lebih, bisa terbayang betapa jenuhnya Ayla saat menunggu Redgar. Sendiri, dimalam hari yang sunyi. Jauh dari keramaian anak-anak yang sedang asik ditenda masing-masing dan mungkin saja mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta esok. Berbeda dengan Ayla yang lebih memilih menunggu lelaki brengsek macam Redgar untuk bertemu dengannya.


"Maaf."


"Emang gak ada kata lain, ya? Selain maaf?"


Ayla menatap manik mata Redgar, tatapannya sayu, bahkan sedari tadi airmatanya tak kunjung berhenti menetes.


"Ay, kamu tahu bukan, mama___"


"Iya aku tahu, mama kamu gak suka sama aku. Mungkin ini saatnya aku mengalah, meski aku berjuang, itu semua gak akan ada hasilnya."


Redgar yang mendengar ucapan Ayla langsung membelalakkan matanya. Terkejut? Tentu saja terkejut, selama bertahun-tahun mereka pacaran, dan ini akhirnya? Bukan ini akhir yang mereka inginkan sebenarnya. Tapi ketika orangtua mereka tak merestui, apa boleh buat?


"Jangan bercanda kamu." seru Redgar diiringi tawa hambar, tawa yang mewakili ia, bahwasanya dia tak percaya dengan ucapan Ayla tadi.


"Menurut kamu, aku becanda?" tanya Ayla serius, dan hal itu berhasil membuat Redgar bungkam seribu bahasa.


"Kita udahan, ya Gar. Aku capek." lirih Ayla dengan deraian airmata yang sudah mengalir deras bak sungai yang ingin terjun untuk bebas.


Tak lama setelah mengucapkan kata-kata sakral itu, Ayla pergi meninggalkan Redgar sendirian di danau.


Jangan anggap hubungan Ayla dan Redgar baik-baik saja, kemesraan yang selalu mereka tampilkan di depan umum, itu hanya kebahagian semata. Tak ada yang tahu kalau Ayla dan Redgar memiliki masalah. Terkecuali Daniel, Ayla sudah membagi dukanya pada sahabat kecilnya itu, ia menceritakan semua yang terjadi selama ini. Dan orang-orang berpikir kalau Ayla dan Redgar baik-baik saja? Itu mustahil, karena mereka hanya melihat cover yang indahnya saja, tidak dengan cerita yang menyedihkan di dalamnya.


...***...


Hallo kalian semua,,


makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan. Dan maafkan author yang sudah menggantungkan cerita ini selama beberapa minggu terakhir.


Mohon vote & like nya, ya. Jika kalian suka sama cerita ini😃


...terimakasih...