
Daniel memijakkan kakinya kembali di kota pasundan, ia menatap lalu-lalang orang-orang yang berjalan melewatinya. Kali ini ia kemari dengan Ayla yang ada disampingnya. Kalau bukan karena paksaan dari gadis serta orang tuanya itu, Daniel mungkin tak akan pernah datang kesini lagi.
"Niel, bisa gak sih lo jangan terlalu menonjolkan diri disamping gue? Kan gue malu di liatin orang-orang," pekik Ayla yang berjalan sedikit menjauh dari Daniel, namun pemuda itu lagi dan lagi menempelinya.
"Resiko lo, suruh siapa ngajakin gue."
"Kalo bukan lo, terus siapa lagi yang mau nemenin gue? Kan temen deket gue cuman lo."
"Terserah deh,"
Daniel berjalan lebih dulu meninggalkan Ayla yang tertinggal dibelakang. Disepanjang lorong, Daniel terus menjadi pusat perhatian para penghuni kampus. Sama halnya dengan di sekolah, Daniel tak luput dari tatapan kagum dan suka dari banyaknya perempuan di kampus ini. Ini hal biasa baginya, sejak dulu hingga sekarang Daniel sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan itu, ia selalu bersikap tak acuh dan masabodo dengan semua itu. Namun lain halnya dengan Ayla yang sejak dulu selalu risih dengan tatapan orang-orang terhadap ia dan Daniel ketika berjalan bersama.
"Niel, kalo lo bosen boleh pergi kok. Gue izinin, tapi nanti lo jemput gue." ucap Ayla sembari menatap Daniel yang sejak tadi diam tak bersuara.
Sebenarnya ia juga tak nyaman dengan tatapan para wanita yang sejak tadi menatapnya.
"Yaudah, gue mau ke cafe dulu,"
Daniel melangkah pergi meninggalkan kampus yang akan menjadi tempat Ayla menuntut ilmu nantinya. Ia mengendarai mobil miliknya kearah cafe Star, cafe yang menjadi tempat pertemuan pertama antara ia dan Wirda. Pertemuan yang membawa mereka kedalam lautan cinta yang tak tentu ujungnya.
"coffee capuccino satu sama kentang gorengnya," ujar Daniel pada pelayan didepannya.
Sambil menunggu pesanannya datang, Daniel memainkan handphone miliknya berharap mengusir rasa bosannya itu.
Secara bersamaan, gadis cantik berambut caramel memasuki cafe. Ia berjalan melewati Daniel dan duduk tak jauh darinya.
"Mas, pesanannya." kata pelayan sambil meletakkan kopi serta cemilan milik Daniel didepan pemiliknya.
Selepas kepergian pelayan itu, Daniel menyesap kopi miliknya sambil sesekali membaca artikel tentang beasiswa di Amerika Serikat. Sebelumnya Daniel memang mendaftarkan diri untuk mengikuti beasiswa disana, karena kuliah di Amerika adalah mimpi Daniel sejak kecil. Dan kali ini ia berharap kalau ia tak akan diterima disana, karena kalaupun diterima, Daniel akan dengan terpaksa menolaknya. Ini keputusannya.
Saat sedang asik membaca artikel, tiba-tiba saja handphone miliknya berdering. Dan disana tertera nama orang yang tak ingin ia hubungi, apa lagi temui.
"Ngapain lo telepon gue?" ketus Daniel saat handphonenya tersambung dengan orang disebrang sana.
"Lo ke Bandung kok gak kasih tahu gue?"
"Emang gue harus banget hubungin lo dulu?"
"Gak juga. Sekarang lo ada dimana?"
"Ngapain lo nyariin gue?"
"Ada hal penting yang harus gue omongin."
"Gue gak ada waktu,"
"Heh, gue minta baik-baik ya sama lo. Kalo bukan karena nyokap-bokap lo, gue juga ogah telepon lo."
"Nanti sore gue kerumah lo,"
"Ngapain?"
"Mau ngineplah,"
"Gue gak ada dirumah."
"Terus?"
"Cewek atau cowok?"
"Gak usah kepo,"
Sekejap, sambungan telepon itu terputus secara sepihak. Daniel yang saat itu merasa aneh dengan orang itu hanya mengernyitkan dahinya sambil menatap layar ponselnya.
"Terimakasih hadiahnya,"
Samar-samar Daniel mendengar suara yang menurutnya tak asing. Ia mengedarkan mendangannya kepenjuru cafe, samping akhirnya ia menatap seseorang yang baru saja keluar dari pintu cafe.
Dengan bergegas Daniel berlari menuju pintu dan mengejar orang yang baru keluar itu. Ia tak salah lihat bukan, kalau orang yang baru saja pergi itu.
"Dah..." panggil Daniel sambil memegang tangan orang yang menurutnya itu Wirda.
"Siapa kamu? Berani sekali kamu menyentuhku," ucap gadis itu yang menepis tangan Daniel.
"Dah, kamu becanda ya? Gak lucu tahu."
"Maaf, kamu mungkin salah orang,"
Daniel menatap bingung pada gadis yang baru saja pergi, selangkah ia berjalan untuk mengejar gadis itu, namun tiba-tiba saja tubuhnya menabrak tubuh seseorang hingga membuatnya terjatuh.
"Sorry-sorry," ucap Daniel pada orang yang mulai berdiri itu.
"Perhatikan jika kamu berjalan. Jalanan ini bukan milikmu," ucap gadis itu sambil melipat tangan didepan dada. Gayanya sangat angkuh. Bahkan lebih dari Daniel.
"Gue udah bilang, maaf!" ketus Daniel yang nada suaranya naik beberapa oktaf.
"Cih, cara kamu bicara tak ada bedanya dengan dia,"
Daniel yang saat itu mulai kesal dengan orang yang ada didepannya ini mulai melangkah pergi menuju mobilnya. Mungkin saat ini ia akan mencari Wirda yang sudah pergi tadi.
"Lelaki congkak, Daniel Carlent Satria Pratama!"
Seketika Daniel menghentikan langkahnya saat mendengar teriakkan itu. Ia berbalik menatap gadis yang masih berdiri ditempatnya, dengan melipat kedua tangannya didepan dada dan senyuman evil itu keluar begitu saja dari bibir gadis itu.
"Siapa lo sebenarnya?"
...***...
Hallo kalian semua,,
Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.
hayoh tebak, ada yang tahu siapa gadis itu?
Salam kasih dari author😊
Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.
...terimakasih...