
"Gue ngerasa gak enak sama Wirda." ucap Ayla dengan wajah yang sedikit memelas.
Daniel yang mendengarnya hanya menaikan sebelah alisnya, lalu kembali berjalan. Koridor kelas terlihat sepi, mungkin efek jam istirahat.
"Niel, ayo dong. Gue merasa bersalah kalo kayak gini terus." gerutu Ayla yang tak mau diam.
Sejak tadi Daniel selalu saja diam, dia tak paham tentang Ayla yang terus dihantui rasa bersalah karena telah merusak hibungan Wirda dan Daniel. Ia hanya ingin mengajak Daniel menemui Wirda dan meluruskan semuanya, namun laki-laki ini sangat keras kepala dan selalu bicara percuma.
"Daniel." rengek Ayla yang tak mau berhenti, dia terus saja menggandeng tangan Daniel dan menariknya kearah lain, namun tak di tandingi, bukan Daniel yang terseret, tapi dia sendirilah yang terseret oleh langkah Daniel.
"Percuma Ay, dia udah ngambil keputusan. Gue gak mau ngubah keputusan dia."
Akhirnya, Daniel menyuarakan suaranya juga, sedari tadi Ayla sudah lelah dan tenggorokannya terasa kering karena terus merengek pada Daniel.
"Sekarang gue baru liat Daniel yang lemah. Gak banget sama Daniel yang gue kenal."
"Gue gak lemah, gue cuman mengalah." elak Daniel.
"Udah ketahuan masih aja ngelak, dasar brengsek." gumam Ayla sangat pelan, namun masih bisa di dengar oleh Daniel.
Daniel yang mendengar umpatan Ayla padanya hanya mengulas senyum miring, "Gue denger." tegurnya yang membuat Ayla terdiam dan memajukan bibirnya.
Daniel berjalan kembali dengan Ayla yang terus saja berbicara entah-berentah tentang apa, sampai di depan koridor depan perpustakaan ia melihat Wirda yang tertawa riang dengan kedua temannya, tawa itu membuat Daniel rindu. Dalam sekejap dia memberhentikan langkahnya, matanya terus tertuju pada sosok Wirda yang berjalan kearahnya.
Ayla yang melihat Wirda di depan langsung menurunkan tangannya dari tangan Daniel, dia tahu diri jika terus seperti itu maka hubungan Daniel dan Wirda tak akan baik-baik saja.
Wirda menatap kembali ke depan, namun matanya tertuju pada sosok Daniel yang tersenyum tipis kearahnya, sekejap senyum Wirda lenyap bersamaan dengan langkah kakinya yang terhenti. Ia berbalik arah dan kembali berjalan, kali ini jalannya lebih cepat. Renata dan Agatha yang melihat tingkah Wirda hanya mengerutkan kening heran, kenapa dengan anak itu?
"Wir!" panggil Renata namun tak di indahkan oleh Wirda.
Agatha memandang kembali kedepan, matanya tertuju pada Daniel yang terdiam di tempat, sekarang ia tahu kenapa temannya pergi. Karena laki-laki brengsek itu ternyata. Dengan tatapan penuh amarah Agatha berjalan kearah Daniel, ia menatap jijik terhadap Ayla yang berdiri di samping Daniel.
Plakk...
Suara nyaring itu berhasil memecahkan keheningan di koridor, Renata yang melihat Agatha menampar Daniel langsung menutup mulutnya. Dia tahu rasanya pasti sangat sakit, bahkan sekarang sudut bibir Daniel mengeluarkan darah segar. Kekuatan Agatha memang tak bisa di ragukan, dia memang kejam jika ada yang menyakiti sahabatnya.
"BRENGSEK!" ucap Agatha penuh dengan tegasan. Ia memandang sengit kearah Daniel yang hanya diam tak membalas, bahkan tak mengeluarkan ekspresi apapun, hanya datar.
Tanpa aba-aba Agatha langsung pergi menarik Renata yang terdiam untuk menemui Wirda, jika sudah seperti ini maka tempat Wirda adalah taman belakang sekolah.
"Niel, coba sini gue liat. Sakit ya?" ucap Ayla penuh dengan rasa khawatir, tangannya bergerak memegang pipi Daniel yang memerah serta sudut bibir Daniel yang mengeluarkan darah.
"Gak papa, gue pantes kok nerima ini semua. Gue emang brengsek."
...***...
Wirda berjalan menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya, sejak tadi ia mati-matian menahan air matanya agar tak jatuh, namun nahas. Air mata ini keluar begitu saja tanpa di minta, ia benci pada orang-orang yang terus saja membuatnya menjadi pengecut.
Wirda memegangi dadanya yang kembali terasa sakit. Harusnya tadi ia tak berlari kencang.
"Jangan nangis lagi." Wirda yang mendengarnya langsung membalikkan pandangannya ke arah belakang.
"Kak Max." lirih Wirda dengan suara serak.
"Jangan nangis lagi, lo jelek kalo udah nangis." ujarnya lalu ikut duduk di samping Wirda.
"Kakak ngapain di sini?"
"Nemenin lo."
"Gak perlu, aku masih pengen sendiri."
"Yaudah, kalo gitu gue cuman mau duduk aja."
"Cih, kak Max." Wirda tertawa kecil.
Namun berikutnya ia kembali terdiam menatap kedepan. Meski bibinya mengajaknya tertawa, namun airmatanya tak dapat membohongi siapapun, kalau ia tak baik-baik saja.
...***...
"Kak Wildan mana ya? Kok lama?"
"Dah." panggil seseorang, aku yang merasa di panggil langsung mengedarkan pandanganku, dan akhirnya aku menangkap mobil hitam di depan.
"Kakak lama." kesalku yang langsung masuk kedalam mobil.
"Maaf,"
"Kebiasaan."
Aku mendengus kesal, lalu kembali menatap jalanan yang syukurnya tidak terlalu macet.
"Ke supermarket dulu gih, beliin kakak minum. Haus."
"Aku turun nih?"
"Ya iyalah, masa kakak yang turun. Kan, kakak yang nyuruh kamu."
"Ya, gak papa sesekali mah."
"Nggak, yaudah turun gih."
"Iya, bawel."
Aku menaruh tasku di kursi belakang, lantas aku keluar setelah diberi kartu debit milik kak Wildan.
Bukan Wirda namanya jika nanti didalam tidak memeras uang kakaknya.
Aku berjalan menyusuri rak yang menyimpan begitu banyak makanan, sekelebat aku jadi ingat terakhir kali aku ke supermarket, yaitu bersama Daniel. Aku mendekati rak yang isinya penuh dengan aneka cokelat. Tanganku mulai meraih cokelat kesukaanku, namun ada tangan juga yang mengambilnya, tangan ini tak asing bagiku, dan wangi parfum ini? Apa ini Daniel? Aku mendongakkan kepalaku, menatap seseorang yang ada di sampingku. Dan benar dugaanku, ini Daniel.
"Ouh, maaf kak." ucapku seraya menarik kembali tanganku.
"Gak papa, buat kamu aja." Daniel menaruh cokelat tadi kedalam keranjang belanjaanku, aku tersentak namun tak lama kemudian aku harus bersikap biasa saja, itu harus.
"Makasih."
"Sama-sama, kamu sama siapa di sini?"
"Hah? Eh, sama kak Wildan."
Apa ini? Aku gugup, kenapa rasanya ini seperti dulu aku dan Daniel bersama, bersama sebelum menjadi sepasang kekasih.
"Oh."
"Yaudah, kak. Aku pergi dulu." ucapku seraya berjalan cepat, namun baru dua langkah aku pergi. Lenganku sudah di cekal oleh Daniel.
"Aku turutin kemauan kamu supaya kita break sementara, tapi bukan berarti kamu jauhin aku kayak orang yang gak mau ketemu lagi, Dah."
...***...
Hallo kalian semua,,
makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan.
Salam kasih dari author😊
Mohon vote, comment & like nya, ya. Jika kalian suka sama cerita ini😃
...terimakasih...