
"Pak, satenya 2 porsi. Masing-masing 10 tusuk, pake lontongnya juga ya, pak." ucap Daniel kemudian berjalan dan duduk di depanku.
Ini kali pertama aku makan lesehan seperti ini, duduk dibawah yang beralaskan karpet panjang dengan meja kecil di depanku. Biasanya aku dan kak Wildan ataupun bunda akan membelinya dan membawanya kerumah.
Dan aku rasa, aku harus sedikit pamer pada kak Wildan nanti saat ia pulang.
"Kamu kenapa?" tanya Daniel menatapku yang tersenyum-senyum sendiri.
"Gak papa, aku cuman seneng aja."
"Seneng karena jalan sama aku lagi?"
"Bukan."
"Lah, terus?"
"Ini pertama kalinya aku makan lesehan kayak gini. Dan ini impian aku waktu dulu," kataku yang sesekali memainkan handphone milikku. Namun seketika Daniel merenggutnya dan menaruhnya di saku jaket ia.
"Kak, itu handphone aku, loh. Balikin..." aku berusaha menggapai tangan Daniel yang ada di depanku, namun tak sampai.
"Kamu kan tahu, aku paling gak suka sama orang yang kalo lagi sama aku, dia malah asik sama handphonenya."
"Tapi itu aku mau kirim pesan ke kak Wildan,"
"Mau ngapain?"
"Nyuruh dia supaya cepet pulang,"
"Dah, kak Wildan itu laki-laki. Dia juga bisa jaga diri baik-baik kali,"
"Mas mantan cemburu?" aku menaik-turunkan alisku berusaha menggoda Daniel.
"Apa kamu bilang? Mas mantan? Cemburu?" Daniel menatapku kesal.
Aku yang ditatap demikian malah terkekeh, Daniel sangat lucu menurutku. Dan membuat Daniel kesal ada sebuah keberuntungan. Karena mungkin jika aku bersikap baik padanya sejak awal, aku dan dia tak akan seperti ini sekarang. Mungkin kami masih menjadi dua insan yang tak saling kenal, dan masabodo.
"Mbak, mas ini satenya." kata bapak penjual satenya saat ia meletakkan sate pesanan kami diatas meja.
"Makasih, pak." ucapku ramah yang kemudian langsung mulai menatap makanan di depanku ini.
"Makan, jangan di liatin terus." ketus Daniel yang akan mengambil sate miliknya, namun dengan segera aku memukul tangannya itu.
"Apalagi sih, Dah?" kesal Daniel sambil mengusap tangannya yang kupukul tadi.
"Aku mau mengabadikan momentnya dulu, mana handphone aku."
Aku mengulurkan tanganku, dan Daniel dengan tampang kesalnya itu langsung memberikannya. Sekali, dua kali, aku memotret sate milikku dan Daniel. Lalu aku mengambil tangan Daniel dan menggenggamnya diatas sate itu, aku kembali memotretnya beberapa kali sampai aku rasa ini sudah cukup.
Dengan segera aku mengunggah foto-foto tadi diakun instagram milikku tanpa caption sama sekali.
"Udah selesai, mbak mantan?" tanya Daniel yang membuatku mengangguk senang.
Aku mengaduk bumbu sate itu dengan lontongnya, lantas aku memakannya dengan nikmat. Sungguh, ini sangat enak. Bahkan aku menatap tak percaya melihat Daniel yang makan dengan lahap seperti orang kelaparan.
"Kak Daniel gak makan ya dirumah?" tanyaku yang mengambil tissu dan mengelap sudut bibir Daniel yang bernoda.
"Tadi buru-buru pergi, jadi gak sempet."
"Jangan dibiasain ya, kak. Nantinya kakak sakit,"
"Aku usahain."
Daniel sering kali kesepian, karena itulah tingkah dan sifatnya seperti ini. Ketus, emosional dan menyebalkan. Ketika marah, ia tak akan pandang bulu.
"Ujiannya gimana, kak?" tanyaku yang membuka obrolan saat kami selesai makan.
"Gampang,"
"Aku minta maaf karena gak bisa semangatin kakak."
"Ngapain minta maaf sih? Kan kamu gak salah apa-apa, Dah." ucap Daniel yang menaikkan setengah suaranya.
"Aku denger kakak sering balapan liar lagi," aku menatap lekat Daniel yang sedang meneguk minumnya.
"Tahu dari mana?"
"Gak penting aku tahu dari mana. Yang aku pengen dari kakak sekarang cuman satu, jangan ikut balapan lagi ya kak? Aku gak suka."
"Kenapa gak suka? Kamu juga nyuekin aku waktu itu, padahal aku gak suka kamu cuekin aku." kata Daniel yang menatap datar diriku.
Aku bungkam, lagi-lagi Daniel menang dan aku kalah. Kutatap Daniel yang beranjak dari duduknya. Ia berjalan kearah penjual sate dan membayar makanan kami.
"Kak," aku beranjak dan menyusul Daniel.
"Yuk pulang! Nanti bunda nyariin kamu."
Aku mengangguk dan berjalan beriringan dengan Daniel menuju motornya.
"Kak, aku minta maaf,"
"Gak perlu di bahas lagi."
"Abis ini kakak bakalan lanjut kuliah dimana?" tanyaku yang mulai menaiki motor Daniel dan memeluknya dengan erat.
"Palingan aku bakalan lanjut disini,"
"Loh, bukannya kakak udah pernah daftar di Amerika, ya?"
"Iya, tapi nanti kalo keterima bakalan aku batalin,"
"Kenapa dibatalin? Sayang loh kak kalo keterima tapi kakak tolak,"
"Alasannya kamu. Aku gak mau ninggalin kamu."
Aku terdiam, bagaimana bisa Daniel begitu baik padaku. Aku bahkan merasa bersalah sekarang. Aku merasa kalau akulah yang menjadi penghambat antara Daniel dan mimpi-mimpinya.
Pelukkanku pada Daniel semakin erat saat Daniel mulai melajukan motornya menerobos jalanan.
...***...
Hallo kalian semua,,
Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.
Salam kasih dari author😊
Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.
...terimakasih...