
"Pagi bunda! Pagi kak Wildan!" pekik Wirda yang berjalan riang kearah meja makan.
Sebelum duduk gadis itu mencium pipi Wildan. "Kak Wildan ganteng banget hari ini," puji Wirda memilih duduk disamping Wildan.
"Kakak emang ganteng dari dulu."
"Ndah tahu."
Wirda menatap Wildan sebentar, lalu menarik lengan kemeja yang dipakai Wildan.
"Kenapa?" tanya Wildan melirik Wirda.
"Pagi ini Ndah pengen disuapin sama kakak." manja Wirda bergelayut dilengan Wildan.
Wildan tersenyum senang dan menyuapi Wirda roti yang ada dipiringnya. Semenjak Wirda berpacaran dengan Daniel, gadis itu mulai tak terlalu manja pada Wildan. Namun sekarang, sifat manjanya kembali lagi. Dan Wildan suka itu.
"Kak Wildan harus tahu, Ndah sayang banget sama kakak. Kakak yang terbaik." ujar Wirda mengunyah roti dimulutnya.
"Kakak juga sayang kok sama kamu."
"Aku pengen berangkat kesekolah bareng kakak."
"Iya."
...***...
"WIRDA!!!" pekik Agatha yang berlari kearah Wirda.
"Jangan lari lo!" Renata berlari mengejar Agatha yang sekarang sudah bersembunyi dibelakang Wirda.
"Heh, ada apa sih ini?" tegur Wirda.
Renata diam dan mengatur nafasnya dengan cepat. Tangannya menunjuk Agatha yang mulai keluar dari balik tubuh Wirda.
"Agatha, dia ngelempar tas gue ke kebun samping sekolah!" Renata menatap garang pada Agatha yang cengengesan.
"Bukan salah gue, itu kecelakaan. Gue kira itu tasnya Farhan." Ucap Agatha yang membela diri.
"Alah, itu alesan lo aja. Lo tahu bukan kalo itu tas gue?!"
"Beneran Ren, gue gak tahu. Siapa suruh lo ganti tas lo jadi mirip sama tasnya si Farhan."
"Udah-udah. Nanti kita cari oke?" ujar Wirda yang merelai pertengkaran ini.
"Sekarang!" tegas Agatha.
"Yaudah, iya. Ayo!"
Renata berjalan terlebih dahulu dituturi oleh Agatha. Satu minggu ini, sekolah di bebaskan. Guru-guru semuanya sedang sibuk dengan masalah raport serta acara yang akan diadakan jum'at sekarang. Itu cukup mendadak dan terlalu cepat bukan?
"Wir, ayo!" Agatha dan Renata menatap Wirda yang masih diam ditempatnya.
"Iya."
Baru saja Wirda akan melangkahkan kakinya, seseorang langsung menarik tangannya hingga Wirda tersentak kaget.
"Kak Ayla." ujar Wirda setelah menyadari orang yang menariknya tadi.
"Hai, Wir." sapa Ayla yang tersenyum simpul pada Wirda.
Wirda tersenyum kecil menanggapinya. Tak ada angin, tak ada hujan. Kenapa Ayla menariknya kearah tangga yang menuju rooftop?
"Kak Ayla mau ngapain?" tanya Wirda keheranan.
"Gue mau ngomongin sesuatu sama lo."
"Ngomong apa?"
"Kita ngobrol di atas aja, yuk! Disana gak terlalu rame."
"Ayo!" ujar Wirda yang menyetujuinya. Ia berjalan berdampingan dengan Ayla, sebelum akhirnya Ayla menghentikan langkahnya saat akan melewati pintu yang terhubung dengan rooftop.
"Kenapa kak?" tanya Wirda keheranan.
"Gue lupa sesuatu. Bentar, gue ambil dulu di kelas." Ayla langsung berlari menuruni tangga tanpa persetujuan Wirda.
Wirda menggelengkan kepalanya saat melihat Ayla yang berlari seperti anak kecil. Ia mulai berbalik hendak melangkah, namun matanya melihat sesuatu. Gelang. Wirda melihat gelang milik Ayla yang terjatuh.
"Ceroboh banget sih, kak Ayla." gumam Wirda yang mengambil gelang itu dan membawanya bersamanya.
Wirda berdiri ditepi gedung sambil melihat gedung-gedung kota yang menjulang tinggi. Hembusan angin kencang menghempaskan rambutnya yang tak diikat. Cuaca hari ini cukup bagus, matahari yang tertutup awan dengan hembusan angin yang menyegarkan.
"Wir."
Wirda yang merasa terpanggil langsung berbalik, namun justru belum sepenuhnya ia berbalik orang itu langsung mendorong Wirda hingga ia kehilangan keseimbangannya dan hendak terjatuh. Dengan cekatan tangan Wirda langsung menggapai sisi pembatas gedung itu. Ia bergelantung diatas gedung yang tingginya 3 lantai.
"Kak tolongin aku!" pinta Wirda dengan paniknya. Ia menatap punggung orang itu yang justru malah berjalan meninggalkannya.
Wirda merinti kesakitan saat tangannya sudah tak kuat menahan beban tubuhnya. Airmata mengalir membasahi pipinya, ia takut. Ia sungguh ketakutan.
Wirda tak tahu akhirnya akan seperti apa, ia takut jika nantinya ia mati dengan nahas dari atas gedung sekolahnya ini. Ia masih ingin hidup. Dan dipikirannya sekarang hanya ada Daniel. Ia berharap Daniel datang dan menariknya.
"TOLONG!!!" teriak Wirda diikuti isak tangis dan airmata yang mengalir deras.
...***...
"NIEL! DANIEL!!!"
Seseorang berlari kearah Daniel dan teman-temannya yang sedang makan dikantin.
"Apaan sih lo heboh banget." sewot Albi yang menatap orang itu kesal.
Orang itu menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menatap panik Daniel. "Wirda." ucapnya yang kemudian kembalu menarik nafas.
"Wirda kenapa?" tanya Daniel datar.
"Wirda, dia jatuh di rooftop. Bukan, maksudnya Wirda mau jatuh dari rooftop." jelas orang itu yang langsung membuat Daniel membelalakkan matanya dengan lebar.
Ia berdiri dan berlari sekencang mungkin menuju rooftop. Dan setelah sampai disana, ia melihat Redgar yang juga sedang berusaha membuka pintu besi yang terhubung ke rooftop.
"Gar." panggil Daniel pada Redgar.
Redgar yang menyadari kehadiran Daniel langsung menghentikan aksinya sebentar.
"Niel. Akhirnya lo datang juga, pintu ini di gembok." ujar Redgar yang kemudian kembali mengutak-atik gembok itu dengan kawat yang ia bawa dari gudang sekolah.
"Kita dobrak."
"Lo gila ya?! Ini pintu besi, ini digembok sama di rantai. Belum lagi di depan ada pintu kayu yang gue yakin di kunci juga."
"TERUS SEKARANG GUE HARUS GIMANA?!!! CEWEK GUE ADA DISANA! DIA KETAKUTAN!!!" teriak Daniel dengan mata memerah.
Daniel menjambak rambutnya frustasi. Hatinya sakit saat mendengar teriakkan Wirda yang terus saja meminta tolong. Sedangkan dia disini tak bisa apa-apa.
"Lo tenangin diri lo sekarang, gue lagi berusaha." ucap Redgar yang masih mengotak-atik gembok itu.
...***...
"TOLONG!!!" teriak Wirda yang sudah mulai lemas.
Wirda menatap kearah bawah yang dimana banyak orang yang sedang menontonnya. Ia bingung, kemana orang-orang itu, kenapa tak ada satupun yang datang membantunya.
Terlebih lagi sekarang dadanya mulai sesak, kenapa dalam keadaan ini penyakitnya harus kambuh? Wirda benar-benar putus asa sekarang. Ia sudah tak kuat menahan tubuhnya.
"Bunda... Kak Wildan... Kak Daniel, maafin aku, ya..." lirih Wirda sambil menutup matanya.
"Ndah, sayang."
Seketika Wirda kembali membuka matanya dan menatap seseorang yang berjongkok menatapnya. Orang itu tersenyum tulus padanya, dia berambut pirang, berparas sangat cantik, berkulit putih pucat dan memakai gaun berwarna putih.
"Ikut kakak." ujarnya yang mengulurkan tangannya pada Wirda.
Wirda yang saat itu sudah kehilangan harapan, kini kembali bangkit. Ia tak tahu siapa orang itu, tapi ia juga tak punya pilihan lain selain menerima bantuan orang itu.
Perlahan satu tangan Wirda mulai bergerak untuk memegang tangan orang itu, namun saat Wirda memegangnya. Itu seperti ilusi, ia tak bisa memegangnya, dan akhirnya Wirda terjatuh karena kehilangan keseimbangannya.
Ia menjerit histeris saat tubuhnya melayang di udara. Mungkin ini akhir untuknya, Wirda sudah tak dapat berpikiran apa-apa lagi. Ia menatap seseorang itu yang juga menatapnya dengan senyuman.
Bruk!!!
"Dapat..." lirih Daniel yang menangkap tubuh Wirda sebelum tubuh gadis itu menyentuh kerasnya aspal.
Daniel meringis kecil saat dirasanya lututnya terasa sakit karena menahan beban tubuh Wirda yang meluncur begitu saja.
Orang-orang mendekat kearah Daniel dan Wirda yang tak sadarkan diri.
"Dah, Wirdah." panggil Daniel yang menepuk pelan pipi Wirda.
Namun gadis itu tak kunjung bangun juga, dengan sekuat tenaga Daniel berdiri dan mengangkat tubuh Wirda untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Ia tak peduli lagi dengan apapun selain keselamatan Wirda, bahkan darah segar dilututnya yang menembus celanapun tak ia rasakan lagi. Daniel terlalu takut, ia takut terjadi apa-apa pada Wirda.
"Semuanya bakalan baik-baik aja, kita kerumah sakit sekarang, ya?" bisik Daniel ditelinga Wirda. Mata laki-laki itu memerah menahan tangis.
Jujur, Wirda adalah satu-satunya gadis yang bisa membuat Daniel menangis karenanya. Ketika Wirda terluka ataupun menangis, hati Daniel sakit. Sangat sakit.
Dan diatas sana, diatas gedung itu. Seseorang itu menatap Daniel yang membawa Wirda pergi.
"Dia akan ikut denganku..."