
Aku berdiri didepan cermin dan mengamati pakaian yang aku kenakan sekarang. Jujur, jaket yang aku kenakan sekarang terlihat sederhana namun terkesan mewah, dan ini sangat-sangat nyaman. Begitupun dengan sepatu ini. Simple, elegan dan nyaman. Ingin rasanya aku mengucapkan terimakasih langsung pada seseorang yang memberikan barang-barang mewah ini kepadaku. Tapi sayangnya aku tak tahu itu siapa. Aku penasaran, juga heran.
"Dah, kamu udah siap belum?"
"Ndah udah siap kok, kak." aku menatap kak Wildan dengan senyuman tulus. Begitupun sebaliknya, kak Wildan memandangiku dengan mimik wajah yang aneh.
"Kamu dikasih pakaian lagi, Dah?" tanya kak Wildan sembari berjalan kearahku dan memutar tubuhku.
"Iya, waktu itu dia kirimin aku jaket sama sepatu ini."
"Kakak jadi penasaran sama orangnya. Jangan-jangan dia..."
"Aku yakin bukan dia, kak." potongku yang menghentikan pikiran tak baik kak Wildan itu.
Dia terlalu sering mengatakan sesuatu yang belum tentu pasti. Seperti sekarang ini misalnya.
"Percaya diri banget kamu."
"Makasih."
Aku berjalan kearah meja riasku dan mengambil handphone milikku disana. Seperti kebiasaan yang tak pernah aku lupakan, aku menulis beberapa kegiatanku terlebih dahulu di buku diary sebelum bepergian. Lalu setelahnya aku berjalan kearah pintu dan menatap kak Wildan yang sedang berkaca didepan cermin besarku.
"Kak, bawain tas aku kebawah, ya. Gak menerima penolakan," ujarku yang kemudian pergi begitu saja.
...***...
"Setelah lulus SMA kamu mau lanjut sekolah dimana, Niel?" tanya bunda yang sambil menaruh secangkir teh buatannya untuk Daniel diatas meja.
"Tadinya Daniel mau lanjut ke Amerika, bun. Tapi gak jadi."
"Kenapa gak jadi? Sayang loh itu," bunda mengkerutkan dahinya dan menatap Daniel.
Tentu heran. Bagaimana mungkin ia memutuskan impian yang sejak kecil ia impi-impikan itu hanya demi untuk tak berjauhan dengan seorang gadis yang saat ini sangat dicintainya. Iya, itu Wirda. Dan anggap saja Daniel gila. Dia terlalu bucin.
"Daniel punya alasan penting, bun. Mungkin Wirda juga salah satu alasan Daniel." ucap Daniel dengan mantapnya.
"Dasar anak muda," bunda tersenyum lebar sebelum akhirnya tawa ia pecah.
Daniel yang melihat bunda tertawapun langsung ikut menimbrung. Entahlah, dia sendiri tak tahu kenapa ia bisa tertawa seperti ini. Berada di dekat bunda membuatnya nyaman. Perasaan yang sama itu datang seperti ia sedang berada di dekat ibunya.
"Kalian ngomongin apaan, sih? Kok seru banget kayaknya." Wirda berjalan menuruni tangga dan duduk disamping bundanya sebelum menatap kembali kearah tangga dan melihat Wildan yang sedang menggendong sebelah tas miliknya.
"Kak, cepetan!" teriak Wirda pada Wildan.
"Bentar, elah. Kamu bawa apaan, sih? Berat banget."
"Kepo."
"Biarin,"
"Kebiasaan, mulai lagi.... Ini masih pagi loh," relai bunda yang menatap Wirda dan Wildan silih bergantian.
Kedua anak itu langsung terdiam. Mereka bungkam. Rupanya disini memang tak ada yang berani mengangkat suaranya didepan sang bunda.
"Maaf, bun." ucap Wirda dan Wildan bebarengan.
"Yaudah, sarapan dulu sana. Daniel juga ikut sarapan, ya?" ajak sang bunda yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Nggak usah, bun. Daniel tadi udah sarapan dirumah."
"Ayolah, kak. Kak Daniel belum pernah ngerasain masakan bunda, kan?" ujar Wirda yang menggandeng tangan Daniel dan membawanya kearah ruang makan.
Disana semuanya sudah tertata rapi, hari ini bunda memasak tumis kangkung, tempe-tahu, ikan goreng, dan masih banyak lagi. Itu semua makanan kesukaan Wirda dan Wildan.
Sungguh beruntung mereka mempunyai bunda seperti Indah.
"Duduk, kak." titah Wirda yang lebih dulu duduk di samping kursi yang akan ditempati oleh Daniel.
"Didepan pacarnya aja menjelma jadi lembut," cibir Wildan yang duduk di depan Wirda.
"Aku denger loh, kak." Wirda menatap sinis Wildan.
Daniel yang melihat pertengkaran kakak-beradik ini hanya tersenyum simpul. Dia jadi teringat tentang Ayla dan dirinya yang juga selalu bertengkar saat kecil dulu. Bukan. Bahkan sampai sekarang. Daniel masih suka mengatur hidup Ayla. Daniel sering melarang Ayla melakukan sesuatu yang menurutnya tak baik, tak berfaedah, atau apalah itu. Ayla sudah Daniel anggap seperti adiknya sendiri. Tentu saja, Daniel anak tunggal. Dia tak memiliki adik ataupun kakak. Dan mungkin itu alasan Daniel tumbuh seperti ini. Mungkin saja Daniel kesepian.
"Daniel, makannya yang banyak, ya." ujar bunda setelah menuangkan nasi dipiring milik Daniel dan menaruh lauk-pauknya pula.
"Makasih bunda. Daniel jadi ngerepotin," Daniel tersenyum cangguk saat bunda memberikan piring miliknya.
"Bun, kak Wildan bukan anak bunda, kan?" ujar Wirda yang bermaksud hanya candaan.
"Heh, kamu kalo ngomong asal, ya." tegur Wildan yang menatap geram sang adik.
Sedangkan Wirda yang ditatap seperti itu oleh kakaknya langsung diam. Sebenarnya ia sedang menahan tawanya agar tak pecah.
...***...
"WIRDA!!!"
Kututup telingaku yang seakan ingin pecah karena teriakan itu. Teriakan yang aku yakin datang dari Agatha.
"Ya ampun Wirda, ini serius lo?" Renata menatap binar diriku dan membolak-balikkan tubuhku.
"Apaan, sih." aku menepis tangan Renata dan membenarkan tas milikku.
"Ehh, ini kan sepatu sneakers buscemi diamond yang gue mau." ucap Agatha dengan antusiasnya.
Aku yang mendengar itu langsung menatap kebawah, melihat sepatuku yang kini menjadi pusat perhatian banyak orang.
Daniel yang mungkin melihat aku tak nyaman menjadi pusat perhatian langsung menarikku kearah bus 9 yang tentunya adalah bus yang akan aku dan teman-temanku tempati. Itu sudah diatur oleh para osis. Dan setahuku ketua osis SMA Cahaya Pelita adalah Redgar, kekasih Ayla.
"Lain kali jangan pake barang-barang mahal kalo gak mau jadi pusat perhatian." ucap Daniel semacam peringatan.
Aku berhenti didepan pintu bus dan menatap Daniel dengan wajah cemberut, "Lagian aku juga gak tahu kok kalo misalkan Agatha bakalan ngomong kayak gitu tadi." kataku membela.
"Gak usah ngelak,"
Daniel berjalan masuk kedalam bus dan duduk dikursi yang masih kosong. Aku yang melihat itupun langsung menautkan kedua alisku. Aneh, bukankah bus Daniel yang ke 17? Tapi kenapa dia duduk disini?
"Kak Daniel ngapain disini?" tanyaku heran.
"Duduklah,"
"Ihh, maksudnya kenapa malah duduk di bus ini? Bukannya kak Daniel bus 17?"
"Aku minta Redgar buat pindahin aku ke bus ini. Kenapa emang? Gak boleh duduk satu bus sama pacar?"
Aku yang mendengar itu dari mulut Danielpun langsung menunduk. Pipiku memanas, dan saat ini akupun sedang menahan senyumku agar tak terbit.
"Sini duduk," Daniel berdiri, dan dia mendorongku ke kursi pojok.
"Tasnya sini aku taro di atas,"
"Gak usah."
"Galak banget, sih."
"Nggak, kok."
Aku melirik kearah jendela dan menatap seseorang yang mungkin saja sejak tadi memperhatikanku. Dia tersenyum kearahku. Dia yang waktu kemarin bertemu denganku di toko buku. Max.
Daniel memegang daguku dan mengarahkannya ke hadapannya, aku yang melihat tingkah Daniel hanya mengangkat sebelah alisku, seakan bertanya ada apa?
"Jangan liatin orang lain. Kamu punya aku,"
Deg...
Ahh, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan didalam perutku saat Daniel mengatakan itu. Aku yakin jika kini pipiku sudah merah merona.
"Ciee... Pipi kamu udah kayak kepiting rebus, aja."
Kucubit lengan Daniel yang membuat sang empu tertawa kecil. Cepat aku memeluk lengan Daniel dan menyandarkan kepalaku di bahu Daniel. Aku sudah tak tahu lagi bagaimana menghentikan Daniel yang sejak tadi membuatku malu. Dia selalu saja membuatku terbang saat aku justru merajuk padanya.
...***...
Hallo kalian semua,,
makasih yang udah baca cerita WirDaniel.
Maafkan jika ada kesalahan.
Mohon vote nya, ya. Jika kalian suka sama cerita ini😃
...terimakasih...