Wirdaniel

Wirdaniel
Van Dira?



Angin sore berhembus sangat kencang menerpa wajah dan menerbangkan rambut Wirda yang tak diikat. Langitnya gelap, udaranya dingin. Bahkan saat ini beberapa tetes air hujan sudah turun mengenai aspal yang panas ini.


Langkah Wirda terhenti saat ia sudah berada didepan gerbang rumahnya. Ia menatapi sekitar, namun terlihat sepi. Seolah tak ada orang di rumah.


"Neng Wirda udah pulang?" tanya pak Budi yang membuka sedikit gerbangnya.


Senyuman tipis terukir diwajah Wirda, dengan langkah ragu ia berjalan memasuki pekarangan rumah. Pintu depan tak tertutup seperti biasanya, sudah pasti bunda dan Wildan ada didalamnya.


"Dah, kamu udah pulang sayang." bunda berlari kearah Wirda yang baru saja memasuki rumah dan langsung memeluknya dengan erat.


Tak ada penolakkan dari Wirda, karena memang itulah yang ia inginkan. Ia perlu sebuah pelukkan untuk menguatkannya.


"Maafin bunda, ya sayang. Bunda gak bermaksud buat bohongin kamu,"


"Harusnya Ndah yang minta maaf, Ndah terlalu emosi kemarin."


Perlahan, tangan Wirda mulai terangkat dan memeluk bundanya dengan sangat erat. Wildan yang melihat kedua wanita yang sangat dicintainya itu langsung tersenyum bahagia. Dia mendekat dan ikut berpelukkan.


"Kakak minta maaf," lirih Wildan yang mengelus lembut kepala Wirda.


...***...


"Ma, Daniel pulang." ucap Daniel yang memasuki rumahnya dengan diikuti Ayla yang berada tepat di belakangnya.


Sebenarnya, rumah Daniel sudah seperti rumah kedua bagi Ayla. Jadi tak heran jika Ayla bisa bebas keluar-masuk rumah ini. Dan dulu juga rumah mereka bersebelahan. Hanya saja saat itu orangtua Ayla memutuskan untuk pindah ke kompleks lainnya.


"Tante, om. Ayla bawa makanan kesukaan kalian," ucap Ayla yang menaruh beberapa bungkus makanan di atas meja ruang keluarga.


"Yaampun, pake bawa makanan segala. Pasti ada apa-apanya," ujar Dania yang membuat Ayla menyengir kuda.


"Malam ini Ayla mau nginep disini. Bolehkan?"


"Ma, anak perempuan mama pinter ngerayu," kata Kenny yang menaruh korannya dan mengambil makanan yang Ayla bawa.


"Harus dong om, gak kayak dia." Ayla menunjuk Daniel yang berdiri disebelahnya dengan ekor matanya.


Sedangkan yang disindir hanya berdecak kesal dan memilih duduk disamping papanya. Begitupun Ayla yang duduk disebelah Dania.


"Papa tumben udah pulang," celetuk Daniel sambil memakan makan yang berada ditangan Kenny.


"Gak sopan kamu. Kenapa? Emang papa gak boleh pulang cepet?"


"Nggak gitu,"


"Nggak gitu gimana?"


"Ya gak gimana-gimana."


"Gak gimana-gimana gimana?"


"Ya pokoknya gak gimana-gimana gimana-gimana,"


"Daniel, sayang. Gimana tadi disana? kamu suka sama kampus itu?" tanya Dania yang menengahi pertengkaran kecil antara anak dan suaminya itu.


"Gak gimana-gimana, ma."


Dania yang mendengar jawaban anaknya hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa sifat Daniel begitu mirip seperti sifat suaminya itu. Daniel bahkan tak mewarisi sedikitpun dari sifatnya.


"Kamu gak jadi sekolah di USA?" tanya Kenny yang mulai serius.


"Gak jadi,"


"Kenapa? Nilai kamu jelek?"


"Nilai dia bagus kok om, cuman sayangnya dia sering bolos. Banyak absennya." sahut Ayla yang mengadukan perbuatan Daniel selama ini.


"Diem lo!" Daniel menatap tajam Ayla.


"Papa sama papanya Ayla punya rencana," Kenny menatap lekat pada Daniel dan Ayla.


Tatapan serius dari Kenny berhasil membuat Ayla maupun Daniel terdiam dan fokus, pikir mereka saat ini tak ada lagi bercanda.


"Rencana apa, pa?" tanya Daniel yang penasaran.


"Kita mau jodohin kalian berdua,"


"Nggak!" teriak Daniel dan Ayla secara serentak.


"Pa, papa yang bener aja. Daniel udah punya cewek yang Daniel suka, pa."


"Bener om, Ayla juga udah punya cowok yang Ayla suka," sahut Ayla yang menambahkan perkataan Daniel.


"Tapi kalian bilang kalo kalian udah putus,"


"Gak, pokoknya Daniel gak setuju."


"Ayla juga gak setuju,"


"Kalian tahu gak?" Kenny menatap misterius pada Daniel dan Ayla.


"Apa?"


"Papa cuman bercanda," santai Kenny yang kembali memakan makanannya dan bersandar pada sandaran sofa.


"Becanda papa gak lucu," kesal Daniel yang memukul pelan lengan papanya.


"Serius? Kalo kalian mau juga nanti papa bilang sama orangtua Ayla,"


"Nggak-nggak! Pokoknya mau gimanapun Ayla tetep gak setuju,"


"Papa tahu gak? Kemarin pas papa gak pulang, pacarnya Daniel kesini." ucap Dania yang menatap suaminya itu dengan sangat bersemangat.


"Oh ya? Kok gak dikenalin ke papa?" Kenny menatap sang istri.


"Papa gak pulang,"


"Lain kali Daniel kenalin ke papa, dia anaknya cantik, baik, pinter lagi." ucap Daniel pada Kenny.


"Papa udah tahu,"


"Udah tahu?"


"Mama kamu selalu ceritain itu ke papa,"


"Pantesan,"


...***...


Wirda menatap bunda dan kakaknya yang terus saja diam. Sejak tadi, tak satupun dari mereka yang mau berbicara. Dan hal itu membuat Wirda sedikit kesal.


"Jadi kapan bunda mau jelasin ke Ndah?" ujar Wirda untuk yang ke sekian kalinya.


"Ayah memang masih hidup," Wildan mulai angkat bicara.


"Kakak tahu semua itu, tapi gak pernah cerita ke aku? Berapa kebohongan lagi yang kalian buat?" kesal Wirda yang menatap tak percaya pada apa yang dikatakan oleh Wildan.


"Bunda sama kakak gak bermaksud bohongin kamu. Cuman ini bukan saatnya kamu tahu,"


"Tapi sekarang aku tahu semuanya, dan sekarang aku minta penjelasan dari kalian."


"Bunda sama Ayah kalian cerai setelah kamu lahir. Bunda sengaja bawa kalian kembali ke Indonesia, dan setelah itu bunda ubah identitas kalian."


"Dengan alasan?" Wirda menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar sedikit penjelasan dari bundanya.


"Disana gak aman, banyak orang yang berusaha buat nyakitin keluarga kita. Masalahnya terlalu rumit," bunda menatap lekat wajah putrinya itu seolah meyakinkannya untuk percaya.


"Itu sebabnya bunda gak izinin aku lanjut sekolah di sana?" tanya Wirda dengan mata yang sudah memerah.


"Iya,"


"Tapi sekarang semuanya udah baik-baik aja, bun. Ndah juga pengan ketemu ayah meski cuman sekali,"


Bunda menghela nafas panjang dan menatap Wildan yang memberi anggukkan tanda setuju.


"Kamu pengen banget lanjut disana?" tanya bunda yang kembali menatap Wirda.


"Iya bun."


"Kamu janji setelah ini kamu bakalan mau di operasi?"


"Ndah janji." Wirda mengangkat tangannya dan mengangguk dengan sungguh-sungguh.


"Kalo udah gini, mau gimana lagi." ucap bunda yang kemudian tersenyum tulus.


"Bunda izinin Ndah?"


"Iya, tapi kamu janji harus sembuh."


"Ndah janji. Makasih bunda,"


Tanpa aba-aba Wirda langsung menyambar dan memeluk bundanya dengan perasaan yang sangat-sangat senang dan lega.


"Gak mau bilang makasih gitu sama kakak?" ujar Wildan yang menekuk wajahnya.


"Makasih kakakku sayang," Wirda melepas pelukkannya pada bunda dan berbalik memeluk Wildan.


Inilah Wirda, sejak kecil hingga sekarang jika ada keinginan maka harus terpenuhi. Dirinya selalu ingin disayang, dicintai, dan dimanjakan oleh keluarganya. Bahkan mungkin tanpa perlu meminta, orang-orang disekitar Wirda akan selalu menyukai dan memanjakannya, termasuk Daniel dan teman-temannya.


Hidup Wirda penuh dengan rasa yang manis, banyak orang yang mencintainya. Seolah Tuhan tak pernah membiarkan seorangpun membencinya.


"Bun, bunda bilang kalo bunda udah ubah identitas asli aku sama kakak. Jadi, sebenernya siapa aku?" tanya Wirda setelah melepas pelukkan Wildan.


"Wirda Citra Van Dira,"


......***......


Hallo kalian semua,,


Makasih yang udah baca cerita WirDaniel.


Maafkan jika ada kesalahan. Mohon dukungannya ya kalian.


Salam kasih dari author😊


Jangan lupa vote, comment & like nya, ya.


...terimakasih...